Blog Archives

Falsafah CSR dan Nilai

Dikeluarkannya Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, seolah “memaksa” perusahaan, khususnya yang bergerak dalam bidang ekstraktif, untuk melaksanakan tanggung jawab sosial atau yang lebih dikenal dengan sebutan corporate social responsibility (CSR). Hal ini dilatarbelakangi tindakan eksploitatif perusahaan yang tidak memperhatikan aspek sosial dan lingkungan di dalam operasionalnya. Penebangan hutan secara “kalap” tentu akan berdampak pada permukiman di sekitarnya, termasuk entitas bisnis itu sendiri. Sehingga banyak kalangan yang menyambut baik program tersebut.

Namun tidak begitu dengan Milton Friedman. Ekonom klasik tersebut termasuk salah seorang yang menentang konsep ini. Menurutnya tanggung jawab perusahaan hanya ada satu, yakni memperoleh laba yang setinggi-tingginya. Tentu dia mempunyai alasan yang rasional. Dalam perspektif teori agensi (agency theory), pihak manajemen hanyalah sebagai penerima wewenang dari investor selaku pemilik perusahaan dalam mengelola usahanya. Ibarat “pembantu” yang harus menyenangkan “majikan”, manajemen akan berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan investor.

Read the rest of this entry