Category Archives: Renung Cerita

Bon Voyage Monsieur ‘Voila’

sumber: galeri LIP Tubuhnya memang sudah membungkuk dan disertai kulit yang tampak keriput bergelambir. Namun sosoknya yang renta itu, tak sedikitpun menggambarkan pudarnya semangat. Semangat mengajar dan belajar. Ibarat dua sisi kepingan mata uang, yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Beliau guru pertama kami di kelas elementaire 1 pada lembaga pendidikan bahasa Perancis di Kota Budaya.

Monsieur (H)endro,  begitu kami memanggilnya (huruf H di awal kata tidak dibaca pada pengucapan bahasa Perancis). Pembawaannya sedikit kaku dan konservatif. Setidaknya begitulah kesan pertamaku pada beliau. Tapi ada beberapa hal yang membuat kami, siswa-siswanya, harus berani mengakui “kehebatannya”. Tampilan necis yang kerap melekat dengan citra diri. Bahkan di usianya yang sudah tua, terkadang beliau terlihat lebih muda dan trendi dari kami-kami ini, tampil dengan bersepatu sneakers. Soal kedisiplinan tidak perlu ditanya lagi. Seingatku, begitu jadwal ngajarnya sudah hampir dimulai dia pasti sudah datang bersama taksi langganannya. Kalaupun telat tak perlu menunggu terlalu lama. Dan perlu digarisbawahi bahwa data-data ini berdasar ingatanku saja. Harap maklum, daya ingatku rada payah. Berbeda dengan kami, khususnya aku, yang seringkali bersendal jepit dan telat-an. Malah, sering bolosnya juga.

Read the rest of this entry

Sempurna Tidak Sempurna

Perjuangan beratku melawan diri untuk menyelesaikan tugas akhir, akhirnya mendapat titik terang. Kuakui, sudah terlalu lama memang aku bergelut dengan tumpukan literatur yang satu ini 🙂 . Rasa malas, jenuh, tantangan, penasaran, entah apalagi yang bisa kutuliskan sebagai ungkapan hati, semuanya terangkum di dalam sebuah proyek mahakarya bernama skripsi. Bermodal idealisme pas-pasan, cita-citaku dalam mengerjakan skripsi ini hanya satu, lain dari yang lain. Berbeda. Demi mencapai cita-cita itu, kalau dijumlah, kira-kira sudah 30 eksemplar buku yang berhasil “kutilep” dari rak perpustakaan. Kebanyakan sih literatur asing. Bukan sombong, apalagi takabur. Maklum saat itu belum banyak buku berbahasa Indonesia yang menulis tentang topik yang sedang kutekuni. Tapi itu salah. Usut punya usut, ternyata cukup banyak literatur berbahasa Indonesia yang membahas tentang topik itu, bahkan jauh sebelum aku sempat memilih topik. Memikirkannya pun tidak :D.

Mungkin itulah harga yang harus kubayar untuk sebuah ketidakcermatan. Hal itu juga yang membuatku harus “rela” menghabiskan tenaga, waktu, dan biaya yang lebih dari yang biasanya. Bayangin, buat nerjemahin artikel sepanjang dua paragraf saja bisa memakan waku dua sampai tiga jam. Belum terhitung waktu untuk males-malesan dan menyerah. Padahal inti persoalannya masih jauh di dasar laut. Sedangkan di permukaannya saja aku sudah megap-megap. “Tidak ada yang sia-sia”. Apologiku membenarkan. Dan setelah berbulan-bulan lamanya 😕 menyeriusi kerjaan yang satu ini, tiba-tiba muncullah seberkas cahaya terang yang menerangi setiap sel dan jaringan di seluruh tubuh 8) . Mereka yang dengan ikhlas berkerja lebih keras dari biasa, akhirnya membuahkan hasil. And…this is it! skripsi gosong a la gue :D. Perfect!

Ingin Baca Kelanjutannya