Reunion

Benar kata orang: alah bisa karena biasa. Bermula sekedar iseng melihat-lihat lukisan kata di kanvas blog ini, seketika muncul hasrat untuk kembali menulis setelah “amnesia” yang terlalu lama. Ternyata tak semudah dulu. Kalau dulu hampir selalu mengalir begitu saja kata-kata indah terlintas, yang kemudian secara cepat berkoordinasi dengan kelihaian jemari dalam mengetik. Namun sekarang perlu berkontemplasi  yang sangat ekstra. Malah lebih banyak lamunan ketimbang lahirnya kosakata baru. Seolah teringat ucapan seorang teman yang secara implisit mengatakan bahwa apa yang bisa kita tulis sementara otak tidak pernah diisi. Toh Buya Hamka juga pernah bilang begini: kalau nulis sekedar nulis, seorang 4L4Y pun tetap bisa menulis: cemungudh eaa kakaa. Intinya, bagaimana bisa nulis kalau membaca saja ngga mau!?

Saya akui ketertarikan pada buku beberapa waktu ini mengalami degradasi yang amat sangat. Kebingungan menentukan genre buku juga menjadi salah satu faktornya. Saya merasa buku-buku itu sudah kehilangan soul-nya (atau saya yang mati rasa?). Tapi jangan Anda kira saya sudah meng-khatamkan beratus buku dan beribu artikel.  Read the rest of this entry

Advertisements

Tafakur Bersama Alam

Terbang ke sana kemari menghinggapi setiap kuntum bunga yang menawan. Tubuh mungil itu mencari sedikit demi sedikit sari bunga untuk kemudian dikumpul bersama teman-teman yang lain sebagai laporan pertanggungjawaban selama berkeliling dunia. Seolah tak mau kalah, kupu-kupu pun turut mengikuti ajang pencarian nektar tersebut. Meski dalam suasana yang berkabut, tampak dari kejauhan sekelompok perempuan tua yang sedang beraktivitas di ladang pertaniannya. Ladang yang digunakan sebagai sumber mata pencaharian penduduk setempat, didominasi kuning bunga yang sedang bermekaran. Sedangkan saya, duduk termangu menatap sahaja pesona alam kaki Gunung Lawu.

Sudah menjadi kebiasaan semenjak setahun yang lalu mengunjungi tempat itu. Biasanya setiap lagi banyak pikiran atau dikala bosan dengan rutinitas serta jenuh akan hiruk pikuk suasana perkotaan. Selang hari yang berbeda, perjalanan kemudian saya lanjutkan ke kawasan Komplek Candi Gedong Songo yang berada di wilayah Ambarawa, Jawa Tengah. Petualangan kali ini seperti mengulang kembali penjelajahan empat tahun yang lalu bersama beberapa kawan. Melihat kondisi jalan yang  basah, saya yakin telah turun hujan belum lama ini. Meski begitu, insting mengatakan kalau hujan akan turun kembali sesampainya di sana.

Read the rest of this entry

Akhir Cerita Perpus Crew (?)

Saya tak tahu pasti kapan sebutan ini dipopulerkan di kalangan kami. Mungkin saja ini hanyalah tren yang sedang berkembang untuk menyebut suatu komunitas tertentu biar sedikit lebih nyaman di telinga. Komunitas itu kami beri nama: Perpus Crew. Sekelompok mahasiswa yang nekat menjerumuskan diri ke dalam pekerjaan paruh waktu (part-time) dan sedikit ingin belajar merasakan “penderitaan” di dunia kerja. Bahkan, di awal-awal kehadiran saya di sana, perpus crew sempat saya beri nama: Perfecten, karena kuantitas personilnya yang berjumlah sepuluh. Tapi satu hal yang saya herankan, semangat menulis saya seakan bangkit dari tidur lelapnya ketika membahas persoalan-persoalan di seputar perpus crew ini.

Sebelumnya, saya sempatkan sejenak untuk membaca kembali tulisan terdahulu tentang perpus crew dan dinamika yang terjadi di dalamnya (lihat “Masih Adakah Win-Win Solution ?”). Mendapati sensasi yang begitu kompleks, namun sulit untuk digambarkan. Seperti kembali ke masa di saat baru pertama kali duduk di depan layar komputer itu dibarengi rasa grogi dan sedikit nervous. Saat jemari tangan masih tak terlalu lihai mencari sebuah slip buku.

Dalam membantu kegiatan operasionalnya, mahasiswa part-time di perpustakaan dirasa masih dibutuhkan, mengingat jumlah personil tetap yang masih minim. Artinya, perpus crew baru masih akan terus bermunculan. Jadi, masih relevankah judul di atas? Mari kita simak duduk persoalannya.

Read the rest of this entry

Persoalan Budaya

NEGMvCFlFUU Saya awali tulisan ini dengan memohon maaf lahir dan batin pada anda semua. Kepada anda yang tersakiti hatinya dengan adanya tulisan-tulisan di blog ini, termasuk pula pada blog ini yang sering saya lupakan keberadaannya, inkonsistensi dalam mem-posting tulisan, dan hal remeh- temeh lainnya yang tak sengaja juga terlupakan. Tak lupa, izinkan pula saya mengucap minal aidin wal faidzin, taqabbalallahu minna wa minkum.

Euforia bersepak bola atau hal-hal yang mengenai persepakbolaan tanah air tampaknya harus dihentikan sejenak. Bukan karena timnas dipecundangi dua kali dalam pra Piala Dunia, melainkan sikap suporter yang tak bisa menahan diri membuat keributan di Senayan. Menang kalah sudah menjadi hal yang lumrah dalam sebuah pertandingan (tapi kalau kalah terus keterlaluan juga namanya). Akan tetapi yang sangat disayangkan adalah kebobrokan mental sekumpulan orang yang sering kita sebut sebagai pemain ke-13 itu. Sampai-sampai pimpinan tertinggi negeri ini yang saat itu ikut menonton harus “melarikan diri” dari lokasi. Dua hal yang sama-sama patut disesalkan menurut saya. Di saat fanatisme yang kian memuncak diekspresikan dengan tindakan yang cukup berlebihan, penguasa tidak mampu mengambil sikap tegas sebagai kepala negara, dan lebih memilih untuk diam seribu bahasa. Apakah ini suatu tanda bahwa pemimpin kita bahkan tak bertaji (baca: wibawa) di hadapan rakyatnya sendiri?

Read the rest of this entry

Bon Voyage Monsieur ‘Voila’

sumber: galeri LIP Tubuhnya memang sudah membungkuk dan disertai kulit yang tampak keriput bergelambir. Namun sosoknya yang renta itu, tak sedikitpun menggambarkan pudarnya semangat. Semangat mengajar dan belajar. Ibarat dua sisi kepingan mata uang, yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Beliau guru pertama kami di kelas elementaire 1 pada lembaga pendidikan bahasa Perancis di Kota Budaya.

Monsieur (H)endro,  begitu kami memanggilnya (huruf H di awal kata tidak dibaca pada pengucapan bahasa Perancis). Pembawaannya sedikit kaku dan konservatif. Setidaknya begitulah kesan pertamaku pada beliau. Tapi ada beberapa hal yang membuat kami, siswa-siswanya, harus berani mengakui “kehebatannya”. Tampilan necis yang kerap melekat dengan citra diri. Bahkan di usianya yang sudah tua, terkadang beliau terlihat lebih muda dan trendi dari kami-kami ini, tampil dengan bersepatu sneakers. Soal kedisiplinan tidak perlu ditanya lagi. Seingatku, begitu jadwal ngajarnya sudah hampir dimulai dia pasti sudah datang bersama taksi langganannya. Kalaupun telat tak perlu menunggu terlalu lama. Dan perlu digarisbawahi bahwa data-data ini berdasar ingatanku saja. Harap maklum, daya ingatku rada payah. Berbeda dengan kami, khususnya aku, yang seringkali bersendal jepit dan telat-an. Malah, sering bolosnya juga.

Read the rest of this entry