Reunion

Benar kata orang: alah bisa karena biasa. Bermula sekedar iseng melihat-lihat lukisan kata di kanvas blog ini, seketika muncul hasrat untuk kembali menulis setelah “amnesia” yang terlalu lama. Ternyata tak semudah dulu. Kalau dulu hampir selalu mengalir begitu saja kata-kata indah terlintas, yang kemudian secara cepat berkoordinasi dengan kelihaian jemari dalam mengetik. Namun sekarang perlu berkontemplasi  yang sangat ekstra. Malah lebih banyak lamunan ketimbang lahirnya kosakata baru. Seolah teringat ucapan seorang teman yang secara implisit mengatakan bahwa apa yang bisa kita tulis sementara otak tidak pernah diisi. Toh Buya Hamka juga pernah bilang begini: kalau nulis sekedar nulis, seorang 4L4Y pun tetap bisa menulis: cemungudh eaa kakaa. Intinya, bagaimana bisa nulis kalau membaca saja ngga mau!?

Saya akui ketertarikan pada buku beberapa waktu ini mengalami degradasi yang amat sangat. Kebingungan menentukan genre buku juga menjadi salah satu faktornya. Saya merasa buku-buku itu sudah kehilangan soul-nya (atau saya yang mati rasa?). Tapi jangan Anda kira saya sudah meng-khatamkan beratus buku dan beribu artikel.  Tumpukan buku saya masih belum menjadi dinding. Kamar saya tidak pernah seperti kapal pecah yang bertebaran dengan buku. Berita yang dianggap heboh di televisi pun tidak saya pedulikan. Hanya soal Jokowi-lah yang masih saya ikuti. Dengan kondisi rasa malas yang mencapai puncaknya itu apa yang bisa (pantas) saya tulis? Boro-boro menggali pemikiran Syariati, Ghazali, serta pemikir besar lainnya, sekedar curhat siang bolong buat melepas rasa galau saja rasanya ‘sesuatu banget’.

Terlebih dengan kesibukan saya yang saat itu berprofesi sebagai job hunter, sangat menyita tenaga dan pikiran. Bagaimana tidak, perihal mendapatkan kepastian akan masa depan yang lebih terjamin masih menjadi prioritas utama. Apalagi setiap melihat dompet yang dirasa semakin kembung karena asupan angin yang terlampau banyak. Mau tidak mau, suka tidak suka, hanya inilah satu-satunya cara yang saya tahu. Sibuk menatap ke depan tanpa tengok kiri dan kanan lagi. Seakan lupa bahwa rezeki Tuhan bisa datang dari arah mana saja. Sadar ataupun tidak, justru hal ini pula yang mengekang potensi diri kita untuk berkembang, tidak ada kebebasan berekspresi. Dan hari ini, setelah membaca sebuah artikel, saya belajar akan sesuatu dari coach @ReneCC soal stop asking guarantees from others – start having hope & the belief on yourself. Tiada satupun makhluk yang dapat menjamin apa yang bakal terjadi di masa depan. Bahkan sekian detik setelah saya menulis kalimat pertama. The future is still a mystery no matter how.

Soal menimbang mana yang lebih baik antara sibuk mengejar masa depan atau santai karena semua sudah ada yang mengatur, saya memposisikan diri di tengah-tengah karena saya memang belum mempunyai ilmu yang cukup. Dua-duanya bisa benar, dan di sisi yang lain dua-duanya bisa saja keliru. Terserah jika Anda mengatakan saya termasuk orang yang tidak berpendirian. Sepenuhnya itu merupakan hak Anda dalam menilai diri saya. Tapi memang baru sebatas itu yang sanggup saya pahami.

Setelah sekian lama tidak bertatap muka dengan blog ini, bahkan sampai harus bolak-balik bertanya pada mbah google mengenai cara login-nya, ada satu hal yang masih melekat pada setiap tulisan saya, ngalor-ngidul berbumbu renungan diri dan curcol. Mengakhiri tulisan, semoga “reuni” kita kali ini akan menjalin kembali persahabatan yang sempat terbengkalai. Think less, feel more. Vive la vie.

Posted on November 6, 2012, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: