Tafakur Bersama Alam

Terbang ke sana kemari menghinggapi setiap kuntum bunga yang menawan. Tubuh mungil itu mencari sedikit demi sedikit sari bunga untuk kemudian dikumpul bersama teman-teman yang lain sebagai laporan pertanggungjawaban selama berkeliling dunia. Seolah tak mau kalah, kupu-kupu pun turut mengikuti ajang pencarian nektar tersebut. Meski dalam suasana yang berkabut, tampak dari kejauhan sekelompok perempuan tua yang sedang beraktivitas di ladang pertaniannya. Ladang yang digunakan sebagai sumber mata pencaharian penduduk setempat, didominasi kuning bunga yang sedang bermekaran. Sedangkan saya, duduk termangu menatap sahaja pesona alam kaki Gunung Lawu.

Sudah menjadi kebiasaan semenjak setahun yang lalu mengunjungi tempat itu. Biasanya setiap lagi banyak pikiran atau dikala bosan dengan rutinitas serta jenuh akan hiruk pikuk suasana perkotaan. Selang hari yang berbeda, perjalanan kemudian saya lanjutkan ke kawasan Komplek Candi Gedong Songo yang berada di wilayah Ambarawa, Jawa Tengah. Petualangan kali ini seperti mengulang kembali penjelajahan empat tahun yang lalu bersama beberapa kawan. Melihat kondisi jalan yang  basah, saya yakin telah turun hujan belum lama ini. Meski begitu, insting mengatakan kalau hujan akan turun kembali sesampainya di sana.

Hipotesisku rupanya tidak meleset. Tak lama setelah melewati candi pertama, rintik hujan pun jatuh. Tidak begitu deras, namun cukup membuat jaket dan rambut menjadi basah. Saya putuskan untuk berteduh sejenak pada gubuk usang yang hanya terbuat dari bambu dan beratapkan terpal. Perlu diketahui, kawasan candi ini cukup luas. Antara candi yang satu dengan candi yang lain dipisahkan jarak  yang begitu jauhnya. Perlu tenaga dan logistik ekstra untuk menjangkau ke semua bangunan candinya. Terlebih lagi, harus ber-ninja hattori (mendaki gunung, lewati lembah) untuk menjelajahi setiap bangunan yang terletak di area perbukitan tersebut. Sebelumnya sempat ada tawaran dari pengelola untuk menggunakan jasa persewaan kuda, tapi dengan tegas segera saja saya tolak. Bukan karena saya tak ingin itu. Tidak pula bermaksud menghambat rezeki para pemilik kuda yang sudah menggantungkan nasibnya dari bisnis persewaan tersebut. Bagi saya yang masih menjadi pemburu kerja, masalah utamanya selalu terletak di saku belakang celana. Prinsip ekonomi harus benar-benar diterapkan. Kas senilai 35 ribu cuma cukup untuk pulang nanti. Sedangkan harga sewa masih terletak jauh di atas plafon anggaran untuk sekali perjalanan mencapai semua candi. Kalaupun ada harga yang di bawah atau sama, hanya sampai ke candi tertentu saja. Tak akan impas mengingat jauhnya perjalanan dari Yogyakarta. Dengan kebulatan tekad dan kemantapan hati saya putuskan jalan kaki saja. Hitung-hitung sembari olahraga, olah fisik, dan yang pasti olah betis. Pasrahkan segalanya pada Yang Kuasa. Mudah-mudahan saat di tengah jalan kaki saya tidak merengek minta ampun dan melambaikan bendera putih.

Kalian pasti sudah bisa menebak. Baru berjalan beberapa meter saja sudah terengah-engah. Maklum, beban yang dibawa tidaklah ringan. Badan serupa panda ini rupanya menjadi kendala yang pertama. Memang sepertinya menurut weton jawa saya tidak cocok tinggal di daerah pegunungan. Ditinjau dari keadaannya, kesan pertama tidak terlalu mulus. Kelihatannya perjalanan saya kali ini akan terhenti di tengah jalan. Tapi nanti dulu. Rasa ingin tahu yang terlalu besar ternyata mengalahkan rasa capek yang sudah mulai menjangkiti. Perjalanan setapak demi setapak, setahap demi setahap telah membawa saya pada candi terakhir yang terletak paling puncak. Apakah itu berarti saya telah melewati kesembilan candi? Pesan saya: Jangan terlena dengan namanya yang ‘sembilan’ (songo)! Sudah saya telusur jalurnya dengan sangat hati-hati. Dan yang mengejutkan bagi saya ternyata Candi Gedong Songo hanya berjumlah lima buah. Tapi tak mengapa. Pesona serta eksotika alam lereng Gunung Ungaran bersama titik hujan yang jatuh dari langit meredakan rasa kecewa saya.

Petualangan yang telah saya mulai sejak memutuskan berdiri di depan loket atau bahkan sejak dari Yogyakarta tidak memberikan hasil yang sesuai dengan ekspektasi saya yang semula. Tapi saya tetap dapat menikmatinya. Terkadang atau mungkin tergolong sering, ekspektasi besar yang kita harap-harapkan tidak selalu berbanding lurus dengan realitas yang ada di depan mata. Meskipun untuk mencapainya banyak yang musti dikorbankan. Entah itu tenaga, waktu, atau materi sekalipun. Bekal yang harus disiapkan juga tidak sedikit. Apalagi dengan kondisi manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu. Saya dan Anda tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi di depan sana, pada masa depan yang masih abu-abu. Namun itulah risiko yang harus dihadapi. Yang ada hanyalah kemampuan kita untuk menduga dan berhipotesis. Selebihnya masih perlu dibuktikan dan diuji. Baiknya tetap optimis dan berusaha (berikhtiar) serta berprasangka baik (husnudzan) seperti yang diajarkan. Biarlah waktu yang akan memberi jawabannya. Kemudian, sama seperti posisi candi yang semakin ke atas, kehidupan kita pun diharapkan terus meningkat. Pasti dibutuhkan proses walau kadangkala harus sejenak menuruni lembah. Nikmati saja. Karena saya berkeyakinan bahwa proses itulah yang sebenarnya akan membawa diri kita pada kepantasan menduduki tingkat yang lebih baik. Dan jika memang meniatkan diri berkunjung ke candi itu, jangan lupa perhatikan bagian atas setiap candinya, pasti berbeda. Tidak percaya? Buktikan sendiri!

Posted on November 7, 2011, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: