Akhir Cerita Perpus Crew (?)

Saya tak tahu pasti kapan sebutan ini dipopulerkan di kalangan kami. Mungkin saja ini hanyalah tren yang sedang berkembang untuk menyebut suatu komunitas tertentu biar sedikit lebih nyaman di telinga. Komunitas itu kami beri nama: Perpus Crew. Sekelompok mahasiswa yang nekat menjerumuskan diri ke dalam pekerjaan paruh waktu (part-time) dan sedikit ingin belajar merasakan “penderitaan” di dunia kerja. Bahkan, di awal-awal kehadiran saya di sana, perpus crew sempat saya beri nama: Perfecten, karena kuantitas personilnya yang berjumlah sepuluh. Tapi satu hal yang saya herankan, semangat menulis saya seakan bangkit dari tidur lelapnya ketika membahas persoalan-persoalan di seputar perpus crew ini.

Sebelumnya, saya sempatkan sejenak untuk membaca kembali tulisan terdahulu tentang perpus crew dan dinamika yang terjadi di dalamnya (lihat “Masih Adakah Win-Win Solution ?”). Mendapati sensasi yang begitu kompleks, namun sulit untuk digambarkan. Seperti kembali ke masa di saat baru pertama kali duduk di depan layar komputer itu dibarengi rasa grogi dan sedikit nervous. Saat jemari tangan masih tak terlalu lihai mencari sebuah slip buku.

Dalam membantu kegiatan operasionalnya, mahasiswa part-time di perpustakaan dirasa masih dibutuhkan, mengingat jumlah personil tetap yang masih minim. Artinya, perpus crew baru masih akan terus bermunculan. Jadi, masih relevankah judul di atas? Mari kita simak duduk persoalannya.

Akhir September, perpustakaan kami (akhirnya) membuka peluang kembali bagi mahasiswa aktif kampus untuk bergabung sebagai tenaga part-time. Ya, waktu yang sangat kami tunggu-tunggu, terlebih saya pribadi, setelah memintanya dengan payah sejak bulan Juli lalu. Mau diakui atau tidak, kami memang membutuhkan tenaga-tenaga fresh itu. Setidaknya biar kami bisa sedikit berleluasa dengan agenda pribadi masing-masing. Kemudian, kabar itu pun seolah dijawab oleh Tuhan. Beberapa hari yang lalu, terpampang juga 11 nama baru yang seharusnya bergabung dengan kami. Sayang, kenyataan tak berbanding lurus dengan ekspektasi sebelumnya. Kami semua harus ikhlas menelan pil pahit bernama: kekecewaan. Tampaknya, semua tak selalu berakhir indah layaknya fairy tale.

Dengan hadirnya kesebelas perpus crew baru itu, kami terdepak. Maaf, mungkin kata “disingkirkan” jauh lebih menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Secara implisit, saya menangkap makna setiap kata sebagai permintaan (pemaksaan) pengunduran diri. Dengan alasan indisipliner, saya dan teman-teman dianggap telah menyelesaikan kontrak yang mungkin saja bagi sebagian atau hampir semua, terkecuali saya, bahkan belum pernah tau seperti apa wujudnya. Mereka khawatir kebiasaan buruk itu menular. Menyebar hingga berkembang seperti virus. Yang harus dibasmi, yang harus dimusnahkan dari muka bumi. Entah kenapa kami diperlakukan layaknya pengidap virus mematikan yang musti diisolasi dari dunia luar yang steril.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Pepatah ini ada benarnya juga. Tapi apakah lantas kebakaran jenggot hanya gara-gara setitik nila itu? Kenapa harus membuang susu kalau masih ada cara yang lain? Di sinilah paradigma harus diubah. Dunia kita tak cuma selebar daun kelor. Masih banyak aspek yang harusnya perlu dicermati oleh penentu kebijakan.

Memang masalah kedisiplinan nampaknya sedang menjangkiti negeri tercinta. Mulai dari Boaz Salosa hingga si tampan Irfan Bachdim. Sayangnya saya juga termasuk orang yang turut andil menyuburkan ketidakdisiplinan itu. Pada akhirnya, rasio secara liar memunculkan beberapa pertanyaan: apakah disiplin itu? Bagaimana standarnya? Apa konsekuensinya? Bukankah meninggalkan tempat kerja sebelum waktunya juga salah satu bentuk ketidakdisiplinan? Tapi bagaimana bila meninggalkan tempat kerja untuk mengejar ketaatan dalam beribadah? Saya pikir semua jawaban masih berdasar subyektivitas saja. Saya belum tau pasti aturan bakunya seperti apa. Kalau sudah begitu, tinggallah etika sebagai acuan dasar.

Mari kembali dalam konteks indisipliner di ruang berjuta buku itu. Secara ontologi dan epistemologi, kaidah disiplin memang dilanggar. Tapi pada dataran aksiologi tidak. Atas dasar apa kami disebut indisipliner? Entah ada atau tidak, selama tiga tahun ini saya tidak pernah melihat ataupun mendengar adanya sosialisasi terkait aturan main. Hanya aturan tidak tertulis yang selama ini masih saya hormati. Wajar jika mahasiswa part-time datang terlambat. Hal ini pasti terjadi di setiap generasi. Pengamatan saya membenarkan. Baik secara individu maupun berjamaah. Sayangnya tidak ada teguran atau peringatan langsung dari yang punya wewenang. Paling sering cuma disindir di pertemuan rutin bulanan yang kadang rutin, acap kali dilupakan.

Puncaknya adalah ketika perpustakaan sepi dari aktivitas part-time karena sebagian besar dari perpus crew yang masih aktif kini berprofesi sebagai job hunter yang siap mengintai pekerjaan dimanapun berada :). Alhasil, bisa ditebak sendiri, nihil mahasiswa. Cuma 2-3 orang yang tersisa. Itupun belum termasuk bagi yang punya agenda tersendiri. Walau tak sampai demonstrasi besar-besaran, saya merasa ini seperti pemboikotan. Mungkin begitu image yang mereka terakan pada kami. Pembangkangan terhadap jadwal piket. Hingga tercetuslah kalimat sakti itu: pengunduran diri. Sekali lagi ini subyektivitas saya yang mungkin terlalu cepat menyimpulkan setiap kata. Maaf, setelah di-cross check memang begitulah kenyataannya. Setidaknya sampai tulisan ini dibuat masih seperti ini keadaannya.

Ironis, di antara banyaknya buku yang berkaitan dengan sumber daya manusia, justru banyak sekali penyimpangan terhadap teori yang terjadi di sini. Bicara tentang SDM, pasti bicara bagaimana mengelolanya. Dan bicara manajemen SDM, pasti bicara bagaimana kinerjanya. Inilah yang selalu menjadi kegelisahan saya dan selalu saja menyisakan ruang tanya. Di antara sekian banyak sumber daya yang bisa dimanfaatkan, hanya sepersekian yang benar-benar bisa optimal. Selebihnya, terasa bagai angin lalu. Ada ataupun tidak adanya tidak menimbulkan pengaruh apa-apa. Padahal orang-orang itu memegang peranan penting di dalam organisasi. Kenapa persoalan seperti ini tidak pernah menjadi perhatian serius? Seolah-olah hilang ditelan bumi. Sasaran justru tertuju pada kaum-kaum yang termarjinalkan secara sistem seperti kami. Di zaman yang serba modern ini, nampaknya hukum rimba tetap saja berlaku, yang kuat yang akan bertahan dan menang.

Bagaimana dengan kami? Standar apa yang dijadikan dasar sebagai penilaian atas kami? Memang sebagai pembantu umum biasanya tak mempunyai job description yang jelas. Membantu dan membantu. Lantas, bagaimana dengan reward and punishment terhadap kami? Bagaimana sistem absensi kerja kami? Jelas tidak adil bila menyamakan penilaian antara yang rajin dengan yang tidak. Analoginya begini, apakah sama antara penilaian terhadap orang yang melakukan aktivitas (ibadah) wajib dengan orang yang menambah melakukan aktivitas (ibadah) sunnah-nya? Pasti berbeda. Sistem seperti inilah yang sampai sekarang tidak ada di lingkungan itu. Dengan demikian, saya (akhirnya) memutuskan untuk mengambil inisiatif untuk berlaku seenaknya. Seolah tak peduli dengan semuanya. Berbalik 180 derajat dari  dinamika sebelumnya. Apa sebab? Alasan saya cukup sederhana. Saya tidak ingin mahasiswa part-time dibebani tanggung jawab yang melebihi kapasitasnya tanpa ada kewenangan yang berimbang. Cukup. Cukup saya saja yang merasakan “indahnya” ditinggal oleh dua pengganti, menghabiskan waktu untuk men-transfer pengetahuan dan me-manage manusia. Hal yang sudah seharusnya di-handle sendiri oleh pengelola perpustakaan. Karena, menurut saya, hak dan kewajiban part-time itu sama.

Mengutip pernyataan Eko Prasetyo, penulis buku provokatif, dengan versi berbeda: saya cinta perpustakaan dengan segala permasalahan yang ada. Dengan hadirnya kasus seperti ini, saya hanya berharap adanya perubahan sistem manajerial yang lebih baik. Apapun keputusannya nanti, insya Allah saya sudah siap. Kalau toh sama saja, berarti saya termasuk orang-orang yang gagal. Terakhir, generasi-generasi baru part-time akan terus bermunculan, namun apakah perpus crew akan terus ada? Atau, inikah akhir dari cerita indah perpus crew?

Posted on October 25, 2011, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: