Persoalan Budaya

NEGMvCFlFUU Saya awali tulisan ini dengan memohon maaf lahir dan batin pada anda semua. Kepada anda yang tersakiti hatinya dengan adanya tulisan-tulisan di blog ini, termasuk pula pada blog ini yang sering saya lupakan keberadaannya, inkonsistensi dalam mem-posting tulisan, dan hal remeh- temeh lainnya yang tak sengaja juga terlupakan. Tak lupa, izinkan pula saya mengucap minal aidin wal faidzin, taqabbalallahu minna wa minkum.

Euforia bersepak bola atau hal-hal yang mengenai persepakbolaan tanah air tampaknya harus dihentikan sejenak. Bukan karena timnas dipecundangi dua kali dalam pra Piala Dunia, melainkan sikap suporter yang tak bisa menahan diri membuat keributan di Senayan. Menang kalah sudah menjadi hal yang lumrah dalam sebuah pertandingan (tapi kalau kalah terus keterlaluan juga namanya). Akan tetapi yang sangat disayangkan adalah kebobrokan mental sekumpulan orang yang sering kita sebut sebagai pemain ke-13 itu. Sampai-sampai pimpinan tertinggi negeri ini yang saat itu ikut menonton harus “melarikan diri” dari lokasi. Dua hal yang sama-sama patut disesalkan menurut saya. Di saat fanatisme yang kian memuncak diekspresikan dengan tindakan yang cukup berlebihan, penguasa tidak mampu mengambil sikap tegas sebagai kepala negara, dan lebih memilih untuk diam seribu bahasa. Apakah ini suatu tanda bahwa pemimpin kita bahkan tak bertaji (baca: wibawa) di hadapan rakyatnya sendiri?

Mati satu, tumbuh seribu. Hilang masalah yang satu, muncul masalah yang lain lagi. Dikabarkan, pelatih timnas, Wim Rijsbergen,  meluapkan kekecewaan dengan sedikit kasar. Akibatnya diisukan terdapat 7 pemain yang keberatan diasuh oleh pelatih asal negeri kincir angin tersebut (sumber: detiksport.com tanggal 11/9/2011 dan bambangpamungkas20.com). Terkait dengan hak ini, saya ingin berbagi pengalaman saat menjadi “atlet” dulu. Mungkin banyak dari anda sekalian, atau bahkan dari teman-teman saya sendiri yang tidak akan menyangka kalau saya pernah menjalani kehidupan seorang atlet melihat tubuh saya yang gempal. Memang tidak sekelas dengan taraf daerah apalagi nasional. Karir saya sebagai atlet waktu itu hanya setingkat universitas ataupun klub. Tapi cukuplah bagi saya untuk mengerti seperti apa rasanya dilatih dengan berbagai macam tipe pelatih.

Apa yang terjadi di dalam ruang ganti pemain saya tidak tau. Mau tidak mau saya akan percaya saja pada apa yang diungkapkan oleh Bepe melalui situs pribadinya ketimbang berita yang berkembang di media massa. Pelatih bertugas membawa timnya menggapai prestasi tertinggi. Jadi, segala cara akan diupayakan untuk mencapainya. Termasuk memotivasi pemainnya, dengan cara yang berbeda-beda tentu saja. Setiap pelatih punya caranya sendiri. Katakanlah “mencaci maki” pemain adalah cara Wim membakar motivasi pemainnya. Hanya saja perlakuan yang diterima Wim saat menjadi pemain dulu sedikit berbeda dengan kondisinya saat ini.

Perdebatan dan adu mulut hingga menggunakan kata-kata kasar sudah menjadi hal yang biasa di wilayah Barat sana. Namun sayang, bukan untuk diterapkan di negeri yang meski sedikit masih menjunjung tinggi adat ke-Timuran. Rupanya pelatih profesional sekaliber Wim tidak pandai memahami budaya setempat. Memang bila dibandingkan dengan Alfred Riedl akan dirasakan berbeda. Riedl sempat melatih negara yang masih dalam satu kawasan dengan Indonesia. Sehingga sedikit banyak mengerti kebiasaan-kebiasaan yang sudah menjadi bagian tradisi.

Saya jadi teringat kegeraman pelatih kami saat kesalahan dilakukan berulang-ulang. Saya pun bingung bagaimana menuliskannya di sini. Tapi dengan cara yang terbaik dia membangkitkan kami, bukan malah menjatuhkan mental. Berbeda dengan pelatih kami lainnya yang lebih profesional secara nasional tapi tak pandai membawa tim. Kedekatan secara emosional cenderung tak terjadi. Mungkin itulah sedikit gambaran yang bisa saya bagikan. Kalau kita melihat tayangan Masterchef Indonesia yang diadopsi dari luar negeri, bisa kita bandingkan gaya Chef Vindex dan Chef Juna mengomentari masakan. Saya juga senang melihat tayangan Hell’s Kitchen dimana Chef Ramsey akan bicara blak-blakan apa adanya bahkan tak jarang bernada menghina. Tapi sekali lagi di Barat sana bukanlah hal yang tabu, sehingga biasanya akan ada umpan balik lagi (baca: misuh balik). Tidak seperti orang kita yang cenderung diam saja dan memendam (asalkan jangan mendendam saja).

Kemudian dari panggung politik ada wakil bupati yang sedang mengajukan pengunduran dirinya. Banyak kalangan yang menilai hal ini sebagai sikap seorang pengecut. Banyak juga yang menyayangkan kenapa tidak menunggu sampai masa jabatan berakhir. Kalau cermat, inilah budaya kita. Pertanyaannya: apakah mengundurkan diri dari jabatan merupakan sikap orang yang lari dari tanggung jawab? Tunggu dulu. Pada negeri yang rakus akan kekuasaan seperti saat ini, saya akan menganggap ini sebagai tindakan seorang gentleman. Masih ingatkah kita dengan perdana menteri Jepang dan pejabat-pejabat negara yang mengundurkan diri lainnya? Bagi pemerintahan Jepang sekarang, mengundurkan diri akan mendapat penghormatan. Tapi pasti akan berbeda bila itu terjadi pada masa Miyamoto Musashi dahulu. Wallahu a’lam.

Posted on September 12, 2011, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. budaya adalah suatu warisan yang harus di lestarikan dan di pertahankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: