Bon Voyage Monsieur ‘Voila’

sumber: galeri LIP Tubuhnya memang sudah membungkuk dan disertai kulit yang tampak keriput bergelambir. Namun sosoknya yang renta itu, tak sedikitpun menggambarkan pudarnya semangat. Semangat mengajar dan belajar. Ibarat dua sisi kepingan mata uang, yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Beliau guru pertama kami di kelas elementaire 1 pada lembaga pendidikan bahasa Perancis di Kota Budaya.

Monsieur (H)endro,  begitu kami memanggilnya (huruf H di awal kata tidak dibaca pada pengucapan bahasa Perancis). Pembawaannya sedikit kaku dan konservatif. Setidaknya begitulah kesan pertamaku pada beliau. Tapi ada beberapa hal yang membuat kami, siswa-siswanya, harus berani mengakui “kehebatannya”. Tampilan necis yang kerap melekat dengan citra diri. Bahkan di usianya yang sudah tua, terkadang beliau terlihat lebih muda dan trendi dari kami-kami ini, tampil dengan bersepatu sneakers. Soal kedisiplinan tidak perlu ditanya lagi. Seingatku, begitu jadwal ngajarnya sudah hampir dimulai dia pasti sudah datang bersama taksi langganannya. Kalaupun telat tak perlu menunggu terlalu lama. Dan perlu digarisbawahi bahwa data-data ini berdasar ingatanku saja. Harap maklum, daya ingatku rada payah. Berbeda dengan kami, khususnya aku, yang seringkali bersendal jepit dan telat-an. Malah, sering bolosnya juga.

Cara mengajar beliau merupakan shock therapy di kelas perdana kami. Tak kusangka hari-hari pertama belajar bahasa Perancis menjadi suatu penderitaan tersendiri (hehe ^^). Entah bagaimana dengan teman-teman yang lain, tapi aku merasa kepalaku selalu menjadi lebih panas semenjak berada di kelas Opa (kalau timnas sepakbola Indonesia pernah diasuh oleh Opa (sebutan Alfred Riedl), kami lebih dulu). Dilarang berbahasa Indonesia di kelas. Diusahakan, atau lebih tepatnya dipaksakan, menggunakan bahasa Perancis untuk bertanya dan menjawab.

Bagi kami yang masih polos, tentu saja hal ini dirasa tidak mungkin. Lah wong baru belajar kok posisinya. Dan juga beliau akan marah kalau kami membolak-balikkan kamus. Mungkin di sinilah letak kesalahannya. Bagi kami yang rata-rata adalah mahasiswa, kami sudah mempunyai pertahanan sendiri. Artinya, kami akan berpikir secara kritis dan secara tak langsung tidak bisa menerima begitu saja informasi yang baru ditrerima.

Sehingga di masa awal pertemuan itu metode pembelajaran kami saling berbenturan. Lebih sering membandingkannya dengan struktur pada bahasa Inggris sebagai bahasa asing pertama. Padahal setelah dipikir lebih dalam, cara belajar yang terbaik menurutku adalah cara belajarnya balita. Tidak banyak protes dan terbuka dengan informasi yang masuk. Dan yang pasti nikmati saja dulu metode yang diberikan. Hasilnya, 3 level berturut-turut kami lewati bersamanya. Ah, sungguh aneh.

Lama tak ada kabar, tiba-tiba datang berita duka di siangku yang sedikit lebih sibuk dari hari biasanya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Beliau meninggal dunia. Habis sudah masa hidupnya di dunia. Perjalanan panjangnya telah berakhir, memulai tahap awal kehidupan berikutnya. Mario Teguh pernah berkata bahwa di saat kita meninggal dunia nanti hanyalah jasad yang mati, sedangkan jiwa (spirit) akan terus hidup. Ya, spirit (semangat) beliau tak boleh mati. Semangat untuk terus berbagi (ilmu). Usia tak jadi soal. Bukan kendala, apalagi hambatan.

Teringat ketika menghabiskan hampir setiap hari bersamanya. Membikin panas kepala, tapi menyenangkan. Setiap bertemu dengan kata yang baru, beliau tidak pernah langsung mengartikannya ke dalam bahasa ibu kita, Indonesia. Melalui gerak gerik dan bahasa tubuhnya dia sedang mencoba menjelaskan. Seperti tebak-tebak berhadiah, ia membuat kami berpikir sedikit lebih keras. Itulah mengapa setiap selesai kelas, kepalaku terasa nyut-nyutan dan panas. Tak heran jawaban dari masing-masing kami seringkali berbeda. Beda kepala, beda pula pemahamannya. Aku tau, beliau cuma tidak ingin memberi kami jawaban secara percuma. Perlu usaha ekstra untuk mendapatnya.

Dan jika jawaban kami ada yang cocok, beliau pasti akan bilang ‘voila‘. Tanpa disadari, kata itu menjadi sakral bagi kami. Kata yang mengindikasikan kebenaran. Kamus kami memang bukan terbitan penerbit populer, karena kamus kami hanyalah kamus ‘voila‘. Tapi jangan harap tak mendapat tanggapan kalau jawab ngawur. “Eeee ngarange pas “, ejek beliau. Kami terdiam. Semula kami berpikir itu bahasa Perancis, padahal itu cuma bahasa Jawa yang di-Peranciskan. Aya-aya wae. Itulah beliau, yang sering bercanda dengan nada yang serius.

Dan ternyata, metode pengajaran beliau sangat berefek samping. Kami jadi lebih  sering ketemu dan secara emosional lebih dekat. Gara-gara cuma buat me-review materi yang lalu. Terlebih ketika tes mengancam. Apalagi kalau Marie le sourd, sang direktur, bakal datang ke kelas. Kami pasti menyiapkan pertanyaan lebih dulu biar kelas kami dinilai aktif (maaf, teman…rahasia kita kubongkar).

Sangat sedikit kenangan yang kami miliki bersamanya. Tapi setidaknya yang sedikit itu tetap menjadi bagian dari diri kami. Bon voyage, monsieur. Selamat jalan. Semoga kau temukan keindahan di alammu yang baru. Maafkan aku, seigneur, yang tak sempat menemui untuk yang terakhir kalinya. Saat kita bertemu nanti, kuharap kau tak lupa. Merci beaucoup. Au revoir.

Posted on August 23, 2011, in Renung Cerita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: