Monthly Archives: August 2011

Bon Voyage Monsieur ‘Voila’

sumber: galeri LIP Tubuhnya memang sudah membungkuk dan disertai kulit yang tampak keriput bergelambir. Namun sosoknya yang renta itu, tak sedikitpun menggambarkan pudarnya semangat. Semangat mengajar dan belajar. Ibarat dua sisi kepingan mata uang, yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Beliau guru pertama kami di kelas elementaire 1 pada lembaga pendidikan bahasa Perancis di Kota Budaya.

Monsieur (H)endro,  begitu kami memanggilnya (huruf H di awal kata tidak dibaca pada pengucapan bahasa Perancis). Pembawaannya sedikit kaku dan konservatif. Setidaknya begitulah kesan pertamaku pada beliau. Tapi ada beberapa hal yang membuat kami, siswa-siswanya, harus berani mengakui “kehebatannya”. Tampilan necis yang kerap melekat dengan citra diri. Bahkan di usianya yang sudah tua, terkadang beliau terlihat lebih muda dan trendi dari kami-kami ini, tampil dengan bersepatu sneakers. Soal kedisiplinan tidak perlu ditanya lagi. Seingatku, begitu jadwal ngajarnya sudah hampir dimulai dia pasti sudah datang bersama taksi langganannya. Kalaupun telat tak perlu menunggu terlalu lama. Dan perlu digarisbawahi bahwa data-data ini berdasar ingatanku saja. Harap maklum, daya ingatku rada payah. Berbeda dengan kami, khususnya aku, yang seringkali bersendal jepit dan telat-an. Malah, sering bolosnya juga.

Read the rest of this entry

Sekedar Menyapa

Hai… bagaimana kabarmu, sobat? Sudah begitu lama rasanya aku tak lagi menghiasmu dengan tulisan. Memang, pengerjaan tugas akhir beberapa bulan belakangan ini menyita sebagian besar perhatian dan konsentrasiku. Tapi, alhamdulillah, itu semua sudah dituntaskan kini. Sayangnya, “bahan bakar” untukku menulis seolah sudah terkuras habis. Jadi kumohon kau maklumi kondisi ini. Sewaktu memutuskan untuk berteman denganmu dahulu, sempat terbersit dalam pikiranku untuk senantiasa menghadirkan minimal sebuah tulisan setiap bulannya. Tak peduli apakah dibaca orang lain atau tidak, apalagi mengurusi traffic blog. Yang kulakukan hanyalah ingin bermesraan denganmu. Menuang gagasan brilian atau busuk sekalipun. Melentikkan jemari supaya tak lagi kaku. Mungkinkah hal itu kini menjadi angan-angan utopis? Je ne sais pas.

Perlu kau tahu, statusku sekarang tak lagi mahasiswa senior, kalau tak mau disebut tua. Ya, seperti para lulusan lainnya, aku mulai mengikuti arus dan menyandang gelar: job seeker. Barangkali engkau akan bertanya kenapa aku tak melanjutkan studi di jenjang strata 2. Asal kau tahu saja, bukannya aku tak ingin, cuma kantong-kantong investasi untukku sudah tak sebesar dulu. Mudah-mudahan sih bisa dapat beasiswa, insya Allah. Doakan saja temanmu ini.