Unek-Unek di Hari Pendidikan

Anggap sajalah saya latah. Memperingati hari yang katanya hari pendidikan dengan memposting tulisan tentang pendidikan. Ya, hari pendidikan yang selalu kita peringati setiap tanggal 2 Mei. Entah apa maknanya selalu diperingati tapi saya tetap merasa tidak ada perubahan yang drastis pada sistem pendidikan kita. Maaf, mungkin saya keliru. Ternyata perubahan itu sudah dirasakan oleh sebagian atau bahkan oleh seluruh anak didik di negeri ini. Perubahan itu kini mengarah kepada kapitalisasi pendidikan. Saya heran, sekarang untuk mengenyam pendidikan (yang bagus) harus ada modal. Ada uang ada barang istilahnya. Dulu orang-orang yang berada pada level menengah ke atas masih bisa menyekolahkan anaknya. Sekarang, mungkin saja mereka megap-megap.

Memang benar, ada beasiswa untuk anak berprestasi untuk kalangan tidak mampu. Tapi strategi ini belum mampu menjawab problema bangsa tentang sistem pendidikan saat ini. Berapa besar tingkat beasiswa yang diberikan? Apakah beasiswa itu sanggup menjamin kelangsungan hidup si penerima beasiswa sampai kelulusan, atau surplus bila dia mampu mengelola uang dengan baik? Berapa persen dari anak-anak putus sekolah yang bisa menikmati beasiswa ini? Bagaimana nasib anak-anak yang prestasinya pas-pasan atau tidak berprestasi (akademik) sekalipun? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang saya belum dapatkan jawabannya.

Pandangan untuk bersekolah di luar negeri pun seolah menjadi solusi alternatif. Termasuk saya. Selama ini yang saya dengar dari pameran beasiswa satu dan lainnya bahwa di luar sana memberikan beasiswa selama kita menjadi pelajar di sana. Ada yang termasuk living cost, ada yang tidak. Katanya sih begitu. Entah iya entah tidak. Sebab saya masih di sini, terkurung di dalam tempurung kura-kura bernama Indonesia.

Biaya pendidikan yang kian tahun kian meroket bisa diramal akan berdampak pada aspek kehidupan lainnya. Di sini saya akan merefleksikan kehidupan kampus karena saya masih terlibat di dalamnya. Biaya yang tinggi menuntut peserta didik untuk lulus cepat atau lulus tepat waktu. Ini masih wajar, saya pun sebenarnya tidak terlalu mempersoalkan hal ini. Yang saya khawatirkan adalah efek-efek samping darinya. Bayangkan saja, untuk mencapai tujuan lulus cepat kadang-kadang segala cara pun ditempuh. Bahasanya: menghalalkan segala cara. Dengan standar kelulusan yang sudah ditentukan, mau tidak mau pencarian nilai menjadi strategi utama. Masa bodoh dengan apa yang dikatakan dosen, yang penting nilai evaluasi baik. Kalau perlu kongkalingkong dengan dosen atau pegawai bagian posting nilai supaya nilai yang ditampilkan bisa terlihat baik. Sekali lagi maaf, mungkin ini hanya prasangka negatif saya saja. Bukan tidak mungkin mutu lulusan pendidikan Indonesia akan terus merosot bila cara-cara ini dipertahankan.

Hal tersebut baru dilihat dari satu aspek dan satu efek. Masih banyak yang lainnya bila dikaji lebih dalam. Tentang bagaimana kehidupan sosial, misalnya. Apakah termasuk egois-apatis atau tidak. Apakah termasuk si plagiat atau bukan. Seperti di dalam postingan saya sebelumnya, saat skripsi tak lagi seksi. Dipandang dari kampus, hal ini bisa jadi bisnis sampingan yang menguntungkan. Akibatnya, perguruan tinggi lebih terkesan menjadi mesin pencetak uang.

Bagaimana jika hal ini diderivasikan pada sekolah dasar hingga menengah? Permasalahan pada dunia sekolah ternyata juga tak jauh berbeda. Standar kelulusan rupanya menjadi momok yang menyeramkan bagi siswa dan pengelola sekolah. Jangan heran jika banyak ditemukan kecurangan dalam ujian. Mulai dari soal bocor hingga penggunaan jasa joki. Semua demi mengejar kelulusan 100% yang berujung juga pada status sekolah (kalau di perguruan tinggi bernama akreditasi). Belum lagi permasalahan mata pelajaran pokok yang masih menjadi polemik.

Ironis memang. Di satu sisi pendidikan bertujuan menciptakan generasi-genrasi yang bermutu. Namun di sisi yang lain pendidikan menyuburkan generasi instant yang menghalalkan segala cara. Lalu, untuk apa kita memperingati hari pendidikan? Peringatan yang sering dimaknai dengan mengingat jasa-jasa Ki Hajar Dewantara dulu. Ada pula yang hanya sekedar lamunan, bukan renungan. Karena renungan membutuhkan tindakan lanjut annya seperti kata band Kotak: beraksi.

Berbicara tentang pendidikan memang seperti mengurai benang kusut. Tapi sejauh tidak ada tindakan nyata khususnya dari pemegang kekuasaan untuk mengubah sistemnya, maka hal ini bakal menjadi wacana turun temurun. Pendidikan tak lagi menjadi hak seluruh warga negara. Malah bisa jadi suatu saat nanti mengenyam pendidikan merupakan hal yang prestis. Pendidikan sudah menjadi barang mewah.  Dan parahnya, peringatan hari pendidikan hanya sekedar mengingat memori masa lalu bahwa bangsa ini pernah mempunyai kejayaan dalam dunia pendidikan.

Posted on May 2, 2011, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: