Monthly Archives: May 2011

Falsafah CSR dan Nilai

Dikeluarkannya Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, seolah “memaksa” perusahaan, khususnya yang bergerak dalam bidang ekstraktif, untuk melaksanakan tanggung jawab sosial atau yang lebih dikenal dengan sebutan corporate social responsibility (CSR). Hal ini dilatarbelakangi tindakan eksploitatif perusahaan yang tidak memperhatikan aspek sosial dan lingkungan di dalam operasionalnya. Penebangan hutan secara “kalap” tentu akan berdampak pada permukiman di sekitarnya, termasuk entitas bisnis itu sendiri. Sehingga banyak kalangan yang menyambut baik program tersebut.

Namun tidak begitu dengan Milton Friedman. Ekonom klasik tersebut termasuk salah seorang yang menentang konsep ini. Menurutnya tanggung jawab perusahaan hanya ada satu, yakni memperoleh laba yang setinggi-tingginya. Tentu dia mempunyai alasan yang rasional. Dalam perspektif teori agensi (agency theory), pihak manajemen hanyalah sebagai penerima wewenang dari investor selaku pemilik perusahaan dalam mengelola usahanya. Ibarat “pembantu” yang harus menyenangkan “majikan”, manajemen akan berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan investor.

Read the rest of this entry

Arisan di Dunia Maya: Sebuah Asa

Bilangan usianya memang sudah tak lagi dapat dikatakan belia. Didirikan lebih dari enam dekade yang lalu, Universitas Islam Indonesia (UII) yang semula bernama Sekolah Tinggi Islam (STI), selalu setia mengawal perjalanan panjang republik ini. Dengan cita-cita yang sederhana, pendirian UII dilatarbelakangi oleh  sinkronisasi antara ilmu agama dengan ilmu umum, keseimbangan hidup duniawi dan ukhrawi. Sehingga mahasiswa UII diharapkan mampu bertindak sesuai misinya, berilmu amaliah dan beramal ilmiah.

…di Sekolah Tinggi Islam itu akan bertemu AGAMA dengan ILMU dalam suasana kerjasama untuk membimbing masyarakat ke dalam kesejahteraan. (Moh. Hatta)

Dengan kata lain, UII tidak hanya mengedepankan persoalan intelektual mahasiswanya. Namun dimensi spiritualitas juga tidak ditinggalkan begitu saja. Selaras dengan tujuannya, salah seorang mahasiswa STI bernama Lafran Pane membentuk suatu organisasi yang bisa berguna bagi masyarakat, bangsa, dan agama. Organisasi tersebut dikenal dengan sebutan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), sebuah organisasi mahasiswa yang bertujuan semula untuk mempertahankan negara Republik Indonesia, mempertinggi derajat dan martabat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam di muka bumi. Albert Einstein, seorang ilmuwan keturunan Yahudi, pun pernah mengatakan “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”. Sehingga, keduanya tak bisa dipisahkan. Namun jauh masa sebelum itu, kurang lebih 14 abad yang silam, Al-Qu’r’an menegaskan:

…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…
(QS Al Mujaadilah: 11)

Akan tetapi, melihat fenomena zaman sekarang, rasanya hal yang demikian sudah menjadi barang langka (mudah-mudahan saya keliru). Ibaratnya, mutiara di tengah butiran pasir. Budaya sekuler semakin menjadi. Agama seringkali hanya ditempatkan di tempat-tempat ibadah saja. Tak heran jika seorang Haji pun gemar menikmati uang hasil korupsi. Dan di sisi yang lain, semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin gencar ia menafikan Tuhan, semakin dekat dengan atheisme. Kembali, bila dikontekskan dengan budaya yang dicerminkan oleh UII, apakah UII sudah mengimplementasikan cita-cita luhur para pendirinya? Ataukah ciri-ciri islami yang selama ini ditampilkan oleh UII saat ini hanya sebatas polesan karena menyandang nama besar Islam? Mari kita renungkan bersama. Merujuk pada tujuan pendirian UII, seharusnya hal ini menjadi core value bagi UII itu sendiri. Karakteristik dan menjadi ciri khas UII yang memang sudah sejak semula adanya. Harus diakui, UII sebagai perguruan tinggi perintis dalam memadukan ilmu pengetahun dan agama, kini telah mempunyai penerus dengan mengangkat tema yang serupa. Boleh anggap ini sebagai rivalitas atau sebagai kebangkitan dalam dunia pendidikan tinggi.

Read the rest of this entry

Unek-Unek di Hari Pendidikan

Anggap sajalah saya latah. Memperingati hari yang katanya hari pendidikan dengan memposting tulisan tentang pendidikan. Ya, hari pendidikan yang selalu kita peringati setiap tanggal 2 Mei. Entah apa maknanya selalu diperingati tapi saya tetap merasa tidak ada perubahan yang drastis pada sistem pendidikan kita. Maaf, mungkin saya keliru. Ternyata perubahan itu sudah dirasakan oleh sebagian atau bahkan oleh seluruh anak didik di negeri ini. Perubahan itu kini mengarah kepada kapitalisasi pendidikan. Saya heran, sekarang untuk mengenyam pendidikan (yang bagus) harus ada modal. Ada uang ada barang istilahnya. Dulu orang-orang yang berada pada level menengah ke atas masih bisa menyekolahkan anaknya. Sekarang, mungkin saja mereka megap-megap.

Memang benar, ada beasiswa untuk anak berprestasi untuk kalangan tidak mampu. Tapi strategi ini belum mampu menjawab problema bangsa tentang sistem pendidikan saat ini. Berapa besar tingkat beasiswa yang diberikan? Apakah beasiswa itu sanggup menjamin kelangsungan hidup si penerima beasiswa sampai kelulusan, atau surplus bila dia mampu mengelola uang dengan baik? Berapa persen dari anak-anak putus sekolah yang bisa menikmati beasiswa ini? Bagaimana nasib anak-anak yang prestasinya pas-pasan atau tidak berprestasi (akademik) sekalipun? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang saya belum dapatkan jawabannya.

Read the rest of this entry