Dibalik Sebuah ‘?’

Kontroversi film ‘?’ garapan Hanung Bramantyo memaksa saya untuk menontonnya. Film ini mengisahkan tentang “toleransi” antar umat beragama yang akhir-akhir ini sempat tergerus. Beberapa pihak bahkan menyebutnya sebagai pluralisme. Saya tidak begitu apresiatif pada filmnya yang satu ini. Berbeda dengan film sebelumnya, Sang Pencerah. Film ini dibuka dengan penusukan seorang pastur. Banyak yang mengatakan adanya upaya mendiskreditkan umat Islam dalam adegan ini. Dalam adegan, sesosok pemuda pelaku penusukan itu tidak diketahui motifnya. Bukan membela sang sutradara, hanya saja saya ingin bersikap lebih berimbang. Tidak ada data bahwa dia seorang muslim, apalagi muslim yang taat. Sebab terlihat dari tampilannya, ia tak lebih dari seorang preman biasa. Bisa saja pemuda tadi termasuk orang yang anti agama. Atau dia memang orang suruhan yang sengaja dibayar karena dendam pribadi. Memang kita tidak bisa menuduh ketaatan seseorang hanya dari segi tampilan. Tapi dengan adegan tersebut, persepsi publik tergiring pada umat Islam sebagai pelakunya. Penonton dituntut cerdas dalam membaca setiap adegan. Tak bisa disamaratakan.

Dikisahkan pula seorang janda bernama Rika yang murtad akibat kekecewaan terhadap suaminya yang lebih memilih berpoligami. Hanung dianggap mendukung pemurtadan. Namun bagi saya, kondisi psikologis Rika yang memang belum siap. Dalam artian, kekecewaannya terhadap keputusan suami yang ingin berpoligami, dilampiaskan kepada “pengkhianatan” agama. Rika cenderung menyalahkan Islam sebagai agama yang memperbolehkan poligami sehingga ia lebih memilih agama Katolik yang dianggapnya tidak demikian. Sama halnya seperti orang-orang yang menjadi antipati terhadap agama (baca: anti agama) karena sering terjadi pengrusakan dan perpecahan atau bahkan perang atas nama agama. John Lennon juga pernah menyatakan kekecewaan ini melalui Imagine-nya. Lantas apakah agama tertentu yang harus disalahkan jika terjadi hal semacam itu? Apakah agama melegitimasi tindakan-tindakan anarkis itu? Saya rasa tidak. Boleh dikatakan itu hanya merupakan oknum, akan tetapi oknum-oknum ini kini semakin banyak.

“Tuhan telah mati”. Seperti perkataan nietzsche bertahun-tahun yang lalu. Apakah ini suatu penolakan terhadap eksistensi Tuhan? Tunggu dulu. Secara harfiah, iya. Tapi  melihat latar belakang ia mengatakan hal tersebut karena adanya pihak gereja yang berlaku semena-mena pada rakyatnya (pada zaman dahulu pihak gereja memegang otoritas penting). Rakyat disuruh tunduk pada aturan gereja yang menyengsarakan. Lalu, apakah kita harus menyalahkan Kristen sebagai agama yang dianut pihak gereja? Seringkali agama dijadikan alat politik untuk melegitimasi sesuatu. Agama dirasa tak lagi mendamaikan penganutnya. Sama ketika Nietzsche melihat fenomena agama tak lagi mensejahterakan. Sehingga lahirlah kata-kata itu untuk membangkitkan perlawanan terhadap gereja.

Lain Nietzsche, lain pula Adam Smith. Tapi satu hal yang sama, yaitu pengekangan. Pada masa Adam Smith pihak gereja menganut sistem ekonomi merkantilisme (semacam ekonomi sosialis). Hal ini tidak memberi kebebasan untuk memegang roda perkeonomian bagi rakyat biasa. Akhirnya, seperti yang kita tahu, Adam Smith mencetuskan sebuah teori ekonomi yang baru, ekonomi kapitalisme.

Kembali pada persoalan murtadnya tokoh Rika. Murtad atau tidak itu hanyalah sebuah prinsip keimanan. Teringat Rayhan yang pernah bilang “iman adalah mutiara di dalam hati manusia, yang tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa, dan ia tak dapat dijual beli, bahkan tiada di tepian pantai”. Bahkan Rasul pun hanya bertugas untuk menyampaikan wahyu. Tuhanlah yang membolak-balikkan hati setiap manusia. Dan Rika sudah membuat pilihan. Konsekuensinya pun seharusnya sudah ia pertimbangkan. Meski rasanya tak bijak juga menyalahkan agama hanya karena pemahaman agama yang separo-separo. Namun, itulah pilihan. Yang bisa kita lakukan hanyalah menghargai setiap keputusan. Toh, bukan kita yang menentukan  masuk tidaknya ia ke surga.

Surya, seorang aktor yang lebih sering ditempatkan sebagai figuran, diminta Rika untuk memerankan Yesus dalam drama menjelang Paskah. Konflik antara Surya dengan dirinya sendiri digambarkan cukup kuat. Mengingat dia adalah seorang muslim. Sebelum memutuskan, Surya menyempatkan diri bertanya pada seorang ustadz di kampung itu. Kondisi perekonomiannya serta kemantapan hati dari sang ustadz menjadikan ia berperan sebagai Yesus. Menjelang pentas, terjadi perdebatan tentang pemeran Yesus yang berasal dari non-kristen. Jujur, saya suka dengan perkataan Romo (sebutan lain untuk pastur) saat itu. “Pernahkah mendengar kehancuran iman hanya dari sebuah drama? Iman hancur karena kebodohan“. Kira-kira seperti itu. Menurut dugaan saya, adegan ini untuk mencari legitimasi kondisi sesungguhnya dimana tokoh Ahmad Dahlan (film Hanung sebelumnya) diperankan oleh non-muslim.

Film Hanung bertema “religi” yang satu ini memang telah menuai kontroversi. Setidaknya hal ini harus diapresiasi. Saya cuma ber-positive thinking bahwa Hanung ingin meramaikan dunia perfilman Indonesia dengan tema-tema bermutu, bersaing dengan cerita horor seks yang tak tanggung-tanggung mengimpor artis dari luar negeri dan benua. Lagi-lagi penonton dituntut untuk cerdas membaca situasi pada setiap adegan. Karena luapan emosi sesaat bisa menghasilkan makna yang bias. Seperti ketika “demonstrasi anarkis” di Lebaran hari kedua. Bagi saya itu bukanlah persoalan agama. Tapi lebih mengarah pada kecemburuan buta.

“… Setiap manusia berjalan dalam setapaknya masing-masing. Mereka berjalan sendirian. Mereka bersama-sama berjalan kepada satu tujuan, yaitu … Tuhan” (salah satu dialog dalam adegan). Lalu, sesuai dengan slogan yang diusung, masih pentingkah kita berbeda? Saya akan menjawab: ya. Sebab pelangi itu indah karena perpaduan warnanya. Masing-masing tak meninggalkan warna aslinya namun membentuk suatu harmonisasi warna yang tetap indah. Itulah mengapa kita selalu senang melihat fenomena alam bernama pelangi.

Posted on April 29, 2011, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. tapi, tetep aja saya disuruh putus dari cowok saya waktu tahu dy orang Katolik Roma yang taat…
    pelangi memang indah, terkadang keindahannya nampak samar-samar, dan tanggung

    • hmmm…itu rumit jg. mgkn aku bisa ngasih 3 jawaban ttg ini:
      pertama, budaya bangsa kita yg blm bisa menerima cinta dg perbedaan keyakinan. Memang ada pasangan beda keyakinan. Tapi sedikit sekali yg bisa langgeng. Contoh riil Jamal Mirdad dan Lydia Kandau. Kedua, cinta tak harus memiliki. Seringkali cinta bukan membutakan, tetapi melumpuhkan logika. Masa2 indahnya percintaan bagaikan dunia milik berdua, yg laen ngontrak. Begitu nikah masalah kecil jd besar. Hingga lupa pernah memiliki dunia berdua. Dan yang Ketiga, tu derita lo hahaha….
      walaupun samar kita tetap bisa melihat warna tegas pembentuknya, bukan gradasi acak yg membingungkan.
      semoga bisa terjawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: