Sempurna Tidak Sempurna

Perjuangan beratku melawan diri untuk menyelesaikan tugas akhir, akhirnya mendapat titik terang. Kuakui, sudah terlalu lama memang aku bergelut dengan tumpukan literatur yang satu ini 🙂 . Rasa malas, jenuh, tantangan, penasaran, entah apalagi yang bisa kutuliskan sebagai ungkapan hati, semuanya terangkum di dalam sebuah proyek mahakarya bernama skripsi. Bermodal idealisme pas-pasan, cita-citaku dalam mengerjakan skripsi ini hanya satu, lain dari yang lain. Berbeda. Demi mencapai cita-cita itu, kalau dijumlah, kira-kira sudah 30 eksemplar buku yang berhasil “kutilep” dari rak perpustakaan. Kebanyakan sih literatur asing. Bukan sombong, apalagi takabur. Maklum saat itu belum banyak buku berbahasa Indonesia yang menulis tentang topik yang sedang kutekuni. Tapi itu salah. Usut punya usut, ternyata cukup banyak literatur berbahasa Indonesia yang membahas tentang topik itu, bahkan jauh sebelum aku sempat memilih topik. Memikirkannya pun tidak :D.

Mungkin itulah harga yang harus kubayar untuk sebuah ketidakcermatan. Hal itu juga yang membuatku harus “rela” menghabiskan tenaga, waktu, dan biaya yang lebih dari yang biasanya. Bayangin, buat nerjemahin artikel sepanjang dua paragraf saja bisa memakan waku dua sampai tiga jam. Belum terhitung waktu untuk males-malesan dan menyerah. Padahal inti persoalannya masih jauh di dasar laut. Sedangkan di permukaannya saja aku sudah megap-megap. “Tidak ada yang sia-sia”. Apologiku membenarkan. Dan setelah berbulan-bulan lamanya 😕 menyeriusi kerjaan yang satu ini, tiba-tiba muncullah seberkas cahaya terang yang menerangi setiap sel dan jaringan di seluruh tubuh 8) . Mereka yang dengan ikhlas berkerja lebih keras dari biasa, akhirnya membuahkan hasil. And…this is it! skripsi gosong a la gue :D. Perfect!

Sempurna. Dengan kepercayaan diri baru, serta grogi akut, skripsi yang sudah selesai, akhirnya kuserahkan kepada dosen pembimbing. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, sapaan ramah atau ucapan selamat datang atau apalah dari dosen pembimbing, bikin aku cengar-cengir dalam hati. Belum lagi kuserahkan draft itu, si ibu sudah nanya duluan, “Mau apa, Mas?”.”Bimbingan, Bu“, jawabku. “Kamu bimbingan saya?“, tanyanya lagi. Maklumlah, sudah bertahun-tahun berkelana mencari sekarung berlian sampai-sampai si ibu lupa sama anak bimbingannya. “Coba lihat surat bimbingannya!“. Singkat cerita si ibu mengeluhkan masa skripsiku yang terlalu lama, bisa mengurangi penilaian dosen katanya. Ah, jadi merasa tidak enak. Padahal skripsi itu kutulis dengan segenap jiwa dan setulus hati. Bukan asal copy-paste atau cuma menulis ulang apa yang pernah ditulis. Apalagi dibikinkan. Cara-cara itu terbukti ampuh dalam menyelesaikan skripsi lebih cepat. Karena si ibu lupa dengan topik yang kuangkat (kayak jemuran 🙂 ), jadi aku harus menunggu jadwal bimbingan di lain hari.

Di masa-masa penantian itu, aku hanya bisa menerka-nerka apa yang kira-kira akan ibu itu sampaikan. “Wah, Mas, skripsimu bagus sekali. Besok langsung daftar ujian aja.”Begitulah kira-kira hasil lamunanku. Berasa pede dengan hasil yang sudah diperoleh. Ada kepuasan tersendiri memang. Saat bimbingan pun tiba. Dan… sret sret sret. Skripsi ku penuh coretan yang berarti harus diperbaiki lagi. Apa yang kuanggap telah sempurna dengan tingkat kesalahan sebesar lima persen, dirasa belum sempurna dan belum pantas untuk diujikan 😦 .

***

Sobat, apapun yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata orang lain. Begitu pula dengan kesempurnaan, meski kesempurnaan terletak di dalam pikiran. Apa yang telah sempurna menurut kita, belum tentu sempurna bagi orang yang lain. Terlebih “memandang” kesempurnaan dari perspektif Tuhan. Kurasa, kita tidak pernah dituntut untuk berhasil, tapi kita terus dituntut untuk mencoba. Teringat pesan Hasan Al Banna bahwa mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari. Dan Tuhan telah menciptakan alam semesta ini beserta isinya dengan sempurna, baik kelebihan maupun kekurangannya.

Posted on April 14, 2011, in Renung Cerita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: