Monthly Archives: April 2011

Dibalik Sebuah ‘?’

Kontroversi film ‘?’ garapan Hanung Bramantyo memaksa saya untuk menontonnya. Film ini mengisahkan tentang “toleransi” antar umat beragama yang akhir-akhir ini sempat tergerus. Beberapa pihak bahkan menyebutnya sebagai pluralisme. Saya tidak begitu apresiatif pada filmnya yang satu ini. Berbeda dengan film sebelumnya, Sang Pencerah. Film ini dibuka dengan penusukan seorang pastur. Banyak yang mengatakan adanya upaya mendiskreditkan umat Islam dalam adegan ini. Dalam adegan, sesosok pemuda pelaku penusukan itu tidak diketahui motifnya. Bukan membela sang sutradara, hanya saja saya ingin bersikap lebih berimbang. Tidak ada data bahwa dia seorang muslim, apalagi muslim yang taat. Sebab terlihat dari tampilannya, ia tak lebih dari seorang preman biasa. Bisa saja pemuda tadi termasuk orang yang anti agama. Atau dia memang orang suruhan yang sengaja dibayar karena dendam pribadi. Memang kita tidak bisa menuduh ketaatan seseorang hanya dari segi tampilan. Tapi dengan adegan tersebut, persepsi publik tergiring pada umat Islam sebagai pelakunya. Penonton dituntut cerdas dalam membaca setiap adegan. Tak bisa disamaratakan.

Dikisahkan pula seorang janda bernama Rika yang murtad akibat kekecewaan terhadap suaminya yang lebih memilih berpoligami. Hanung dianggap mendukung pemurtadan. Namun bagi saya, kondisi psikologis Rika yang memang belum siap. Dalam artian, kekecewaannya terhadap keputusan suami yang ingin berpoligami, dilampiaskan kepada “pengkhianatan” agama. Rika cenderung menyalahkan Islam sebagai agama yang memperbolehkan poligami sehingga ia lebih memilih agama Katolik yang dianggapnya tidak demikian. Sama halnya seperti orang-orang yang menjadi antipati terhadap agama (baca: anti agama) karena sering terjadi pengrusakan dan perpecahan atau bahkan perang atas nama agama. John Lennon juga pernah menyatakan kekecewaan ini melalui Imagine-nya. Lantas apakah agama tertentu yang harus disalahkan jika terjadi hal semacam itu? Apakah agama melegitimasi tindakan-tindakan anarkis itu? Saya rasa tidak. Boleh dikatakan itu hanya merupakan oknum, akan tetapi oknum-oknum ini kini semakin banyak.

Read the rest of this entry

Menggugat Eksistensi HMI (Bukan Masalah Kubu MPO dan PB HMI)

Oleh: Prof. Drs. H. Lafran Pane

dokumentasi HMI Cab. Yogyakarta

HMI adalah organisasi kader (perkaderan- red) yang lahir karena kebutuhan politik mahasiswa. Kondisi politik yang melingkupi ketika itu merangsang beberapa mahasiswa untuk membentuk suatu organisasi yang bisa berguna bagi masyarakat, bangsa, dan agama. Karena itu tujuan didirikannya HMI antara lain mempertahankan negara Republik Indonesia serta mempertinggi derajat dan martabat rakyat Indonesia. Juga untuk menegakkan dan mengembangkan ajaran-ajaran Islam di muka bumi. Sebagai organisasi kader, HMI menginginkan semua mahasiswa yang beragama Islam mengenal dan menghayati ajaran agamanya, serta mengamalkannya dimanapun dia berada. Tentunya, penghayatan dan pengenalan agama tersebut disesuaikan dengan atribut kemahasiswaannya yang lebih menekankan pada etos kecendekiawanan. Harapan yang ingin diperoleh dari ini adalah terciptanya insan akademis yang beragama dan memiliki wawasan serta kepekaan sosial politik.

Tekad yang menyerta didirikannya HMI semacam itulah, yang menjadikan ia selalu ingin eksis dalam setiap kurun waktu dan setiap perjalanan sejarah. Kalau tekad tersebut belum tercapai, apapun tantangan yang harus dihadapi. Dengan kata lain, dalam situasi sosial-politik yang bagaimanapun selama usaha menciptakan insan akademis yang Islami dan memiliki kepekaan sosial politik ini belum berhasil, tidak ada alasan untuk meniadakan organisasi tersebut. Paling tidak itu menjadi keinginan saya sebagai pendiri organisasi tersebut. Tentu saja sesuai dengan perkembangan sejarah tujuan utama didirikannya HMI tersebut bisa saja bergeser. Dan yang demikian ini, juga sudah terjadi. Meski demikian pergeseran tujuan yang pernah terjadi di dalam HMI beberapa waktu setelah didirikan tidaklah berarti menghilangkan tujuan semula. Pergeseran tujuan yang terjadi semata-mata hanyalah sebagai upaya mempersempit dan menspesialisasikan tujuan tersebut. Tujuan itu adalah turut membina anggotanya agar menjadi sarjana-sarjana yang handal.

Jadi, pada garis besarnya HMI lahir untuk kepentingan nasional dan kepentingan Islam. Dengan kata lain, kelahiran HMI merupakan manifestasi kepedulian mahasiswa pada waktu itu untuk ikut berperan dalam menegakkan republik ini, yang sekaligus mempertahankan dan mensyiarkan Islam. Dan, ini bisa dibuktikan dari kiprah HMI dalam setiap perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Read the rest of this entry

Gara-Gara Cotton Bud

Sudah lebih dari seminggu rasanya aku semakin dijauhi oleh dunia. Sendiri. Hatiku semakin merasa sepi. Tak ada yang mau coba mengerti tentang keadaan yang kurasakan. Semakin sendiri, begitu kata J-Rock. Tak bisa kupahami alur pembicaraan orang-orang di sekitarku. Bisa sih, tapi butuh konsentrasi yang cukup lama untuk mengerti. Bukan kendala bahasa sepertinya. Bukan pula perbedaan kapasitas intelektual yang terlalu jauh kurasa. Dan semakin kurenungi, aku semakin paham  bahwa… aku tuli. Ah, tidak tidak. Aku tidak tuli, hanya pendengaranku saja yang mulai berkurang.

Waktu itu, seperti biasa aku membersihkan (maaf) kotoran telinga yang dirasa sudah menumpuk. Dengan cotton bud tentunya. Bukan linggis, apalagi sekop. Telingaku masih cukup normal. Sekedar informasi, ternyata kotoran (maaf sekali lagi) telinga bukan kotoran biasa. Maksudnya, kita tidak perlu rerlalu rajin untuk membersihkannya karena itu hanyalah bagian dari sekresi kelenjar telinga. Sekresi? Apa itu? Entahlah, tiba-tiba saja kata itu melintas di kepala dalam hitungan sepersekian detik. Selain itu, penggunaan cotton bud bisa menyebabkan penyumbatan pada saluran telinga (hal ini baru kuketahui belakangan). Namun itulah yang menjadi kendala buatku. Endapan kotoran mungkin sudah begitu dalam. Alhasil, aku semakin mirip dengan Bolot.

Read the rest of this entry

Alienasi

Terlalu banyak ruang bagiku untuk ku bertanya. Seolah pikiran ini begitu liarnya. Penuh tanda tanya. Belum puas akan jawaban dari pertanyaan yang satu, muncul pertanyaan baru. Begitu saja. Tanpa kulo nuwun. Nggak sopan banget. Di tengah-tengah prosesi kontemplasi ini, sering aku terjebak dengan kebenaran kolektif. Mengikuti benar-salah yang terjadi di sekelilingku. Sangat jauh dari salah satu ciri insan ulul albab yang tidak terpesona dengan pandangan mayoritas. Setauku begitu. Maaf jika karakteristik insan ulul albab versi anda berbeda.

Seketika aku teringat akan sosok Ahmad Dahlan yang digambarkan lewat film Sang Pencerah. Beliau begitu teguh memperjuangkan sesuatu yang ia yakini, meski menentang adat yang berlaku saat itu. Sejenak kembali pada 14 abad yang lalu. Ketika Muhammad, Rasulullah saw, menerima wahyu untuk yang pertama kalinya. Sebagai seorang rasul, beliau mempunyai kewajiban untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada umatnya. Umat? Bagaimana mungkin Nabi mempunyai umat (pengikut), sedangkan beliau baru saja menerima wahyu yang pertama kali teristimewa untuknya. Tapi, itulah amanah. “Berita” sekecil apapun harus segera disampaikan kepada umat (masyarakat). Tidak seperti Nabi Khidir di masa Nabi Musa as yang memang tidak perlu menyampaikan wahyu yang diterimanya. Sebenarnya aku heran dengan nabi seperti ini. Kenapa dia “memakan sendiri” wahyu yang ia terima? Apa kelebihannya dibanding dengan  seseorang yang lain sehingga ia diberi hak untuk menentukan takdir hidup seseorang? Hanya Tuhan yang mengerti apa yang Ia rahasiakan. Sedangkan aku hanya bisa mereka-reka melalui akal yang terbatas pada ruang dan waktu.

Read the rest of this entry

Sempurna Tidak Sempurna

Perjuangan beratku melawan diri untuk menyelesaikan tugas akhir, akhirnya mendapat titik terang. Kuakui, sudah terlalu lama memang aku bergelut dengan tumpukan literatur yang satu ini 🙂 . Rasa malas, jenuh, tantangan, penasaran, entah apalagi yang bisa kutuliskan sebagai ungkapan hati, semuanya terangkum di dalam sebuah proyek mahakarya bernama skripsi. Bermodal idealisme pas-pasan, cita-citaku dalam mengerjakan skripsi ini hanya satu, lain dari yang lain. Berbeda. Demi mencapai cita-cita itu, kalau dijumlah, kira-kira sudah 30 eksemplar buku yang berhasil “kutilep” dari rak perpustakaan. Kebanyakan sih literatur asing. Bukan sombong, apalagi takabur. Maklum saat itu belum banyak buku berbahasa Indonesia yang menulis tentang topik yang sedang kutekuni. Tapi itu salah. Usut punya usut, ternyata cukup banyak literatur berbahasa Indonesia yang membahas tentang topik itu, bahkan jauh sebelum aku sempat memilih topik. Memikirkannya pun tidak :D.

Mungkin itulah harga yang harus kubayar untuk sebuah ketidakcermatan. Hal itu juga yang membuatku harus “rela” menghabiskan tenaga, waktu, dan biaya yang lebih dari yang biasanya. Bayangin, buat nerjemahin artikel sepanjang dua paragraf saja bisa memakan waku dua sampai tiga jam. Belum terhitung waktu untuk males-malesan dan menyerah. Padahal inti persoalannya masih jauh di dasar laut. Sedangkan di permukaannya saja aku sudah megap-megap. “Tidak ada yang sia-sia”. Apologiku membenarkan. Dan setelah berbulan-bulan lamanya 😕 menyeriusi kerjaan yang satu ini, tiba-tiba muncullah seberkas cahaya terang yang menerangi setiap sel dan jaringan di seluruh tubuh 8) . Mereka yang dengan ikhlas berkerja lebih keras dari biasa, akhirnya membuahkan hasil. And…this is it! skripsi gosong a la gue :D. Perfect!

Ingin Baca Kelanjutannya