Bukan Persoalan Denny Sumargo

Hari ini rasa malas bukan kepalang. Selasa Malas, istilah yang akan kuberikan untuk hari ini. Benar adanya yang dikatakan dalam postingan sebelumnya tentang keberkahan di pagi hari. Pagi hari menentukan segalanya tentang aktivitas kita dalam satu hari. Banyak sekali yang tak kupedulikan. Mulai dari kucing hingga sekumpulan ikan, bahkan untuk makan siang pun aku malas. Di tengah kemalasan hari ini, sambil ngutak-atik channel tv, pandangan mataku terfokus pada satu acara, National Basketball League (NBL) Indonesia. Olah raga ini mungkin saja kurang begitu populer di tanah air. Bisa dilihat dari jumlah penggemarnya bila dibanding dengan sepak bola. Aku salah satu penggemar olah raga ini. Meski bukan atlet basket, setidaknya aku bisa melempar bola ke dalam keranjang :). Sedikit banyak masih tahu tentang permainan ini.

Dan berbicara mengenai bola basket Indonesia, pastilah nama Denny Sumargo tak luput dari perbincangan. Dia merupakan peraih MVP (Most Valuable Player) di kompetisi IBL (NBL versi lama). Pemain terbaik tahun 2008 ini lebih dikenal masyarakat setelah menjadi bintang iklan salah satu produk. Pada Selasa Malas ini, kusaksikan Denny Sumargo bersama rekan-rekannya di klub Garuda Bandung bertarung mati-matian melawan CLS Knight, klub asal Surabaya. Dan di akhir pertandingan, Garuda harus berbesar hati mengakui keunggulan lawannya. Denny Sumargo dan timnya tersingkir dari kompetisi. Memang aku bukanlah orang yang terlalu fanatik dengan salah satu klub. Tapi, Aspac dan SM Britama menjadi tim favorit untukku di level nasional. Denny Sumargo pernah juga tergabung di dua klub itu. Sedangkan untuk level NBA, LA Lakers. Sebelumnya, ketika era Michael Jordan berjaya, aku lebih ngefans Utah Jazz. Apa yang sebenarnya ingin ditulis? Pertanyaan itu mungkin saja sempat terpikirkan melihat arah tulisan yang ngalor-ngidul.

Ini hanyalah analisis kacang-kacangan mengenai pertandingan tadi siang yang lebih bersifat pendapat pribadi.  Ternyata mempunyai pemain berbakat seperti Denny Sumargo bukanlah suatu jaminan untuk memenangkan sebuah pertandingan. Nama besar yang disandangnya juga tak begitu berarti. Okelah, ada beberapa pemain hebat yang ber-partner dengannya. Tapi dari awal pertandingan sudah terlihat sekali permainan tim Garuda bersifat sentralistik. Artinya, terpusat pada satu atau beberapa pemain. Biasanya yang sudah dianggap hebat. Permainan begitu monoton dengan Denny sebagai pusatnya. Kalaupun tidak sentralistik, permainan terlalu terkesan individualistik. Sama seperti Messi di FC Barcelona yang tidak berkutik dengan taktik The Special One, Jose Mourinho.

Kuakui permainan individual Denny bisa diacungin jempol. Shooting-nya akurat serta aksi-aksi individunya juga oke punya. Wajar, MVP gitu loh! Tapi ini basket, Bung! Permainan tim. Ketimpangan skill di antara pemain Garuda cukup mencolok. Coba bandingkan dengan  CLS Knight. Walau dengan kemampuan yang rata-rata, tapi kerja sama tim mampu membuktikan siapa yang lebih unggul di atas lapangan. Denny bukanlah Rafael Nadal yang memang bermain untuk dirinya sendiri. Jadi, nonsense untuk bersikap egois. Yah, sebenernya permainan Denny juga ngga egois-egois amat sih. Hanya saja kerja sama tim dan komunikasi antar sesama pemain kurang begitu dibangun. Sehingga permainan individual lebih menonjol. Dan nampak jelas sekali bahwa permainan lawan lebih berkembang. Yah sedikit curhat, biasanya orang yang sudah mengklaim dirinya lebih jago dari yang lain, kurang begitu memperhatikan teman setimnya sehingga jarang sekali dapat operan bola :(.

So… ini yang ingin ditulis. Seperti permainan basket, sepak bola, ataupun baseball, masing-masing membutuhkan peran orang lain. Itulah esensi permainan tim. Ada yang bertindak sebagai pengoper bola, ada yang bertahan, dan ada juga yang bertindak sebagai mesin pencetak angka. Sehingga setiap keberhasilan yang diraih merupakan hasil kerja keras semua yang terlibat. Bahkan dalam permainan tenis ataupun bulutangkis, tidak bisa dinafikan bahwa kesuksesan yang dicapai ada campur tangan pelatih sebagai orang di luar diri pribadi. Setiap orang berkontribusi terhadap kesuksesan dan keberhasilan seseorang lainnya. Bahkan tukang sapu pun menjadi faktor keberhasilan seorang presiden. Jadi, ini bukan persoalan adanya Denny Sumargo atau tidak.

Posted on March 8, 2011, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: