Inception

Apa yang terlintas ketika engkau melihat judul di atas? Yup, itu judul sebuah film yang dimainkan oleh Leonardo DiCaprio. Cerita singkatnya, Dom Cobb (Leo) adalah seorang yang pintar mencuri dan mensugesti sebuah ide melalui alam mimpi. Keahlian Cobb tersebut dimanfaatkan Saito, seorang pengusaha, untuk mempengaruhi saingan bisnisnya, Robert Fischer. Imbalan yang ia tawarkan membuat Cobb tak kuasa menolak, bertemu dengan kedua putra-putrinya. Ide kreatif dari film ini adalah mimpi yang berlapis-lapis. Hmm…mungkin namanya mimpi lapis kali ya (terinspirasi dari kue lapis). Maksudnya gini… ada mimpi dalam mimpi. Dan di dalam mimpi itu ada cerita. Jadi, ada cerita dalam cerita. Nah, di konflik akhir film ini, mimpi itu sampai empat lapis. Rumit amat.

Di akhir cerita pun bagiku masih menyisakan teka teki. Apakah sudah berada di dunia nyata ataukah masih terjebak di alam mimpi yang penuh dengan ilusi. Karena mimpi bisa didesain sesuai selera. Bagi arsitek (sebutan untuk desainer mimpi) sekaliber Dom Cobb, bukan hal yang sulit untuk menciptakan proyeksi. Dari setting tempat, cuaca, hingga detil orang-orang disekitar. Ironisnya, alam mimpi yang tanpa cacat menjebak alam bawah sadar. Terbukti dari kematian Mal (istri Cobb) yang bunuh diri karena tak mampu lagi membedakan dunia nyata dan alam mimpi.

Namun sayang seribu sayang, ditambah satu jadi seribu satu sayang (teringat komentator sepakbola). Tidak seperti yang diharapkan, bukan resensi yang akan disajikan pada tulisan kali ini. Jauh daripada itu. Karena tulisan ini hanyalah corat-coret tanpa makna. Baiknya, buruan nonton bagi yang belum 🙂 It’s recommended.

Mimpi… rasanya tak ingin segera terbangun darinya. Sama sepertiku, yang ingin terus terlelap menjelajah di alam mimpi. Hingga akhirnya aku terjebak di dalamnya. Tak lagi mengerti mana mimpi, mana yang bukan. Seakan tak percaya pada apa yang terjadi. Terlalu indah untuk ditinggalkan. Terlalu sayang untuk dibiarkan berlalu. Berada di alam mimpi seperti berada di dunia dongeng yang penuh keajaiban, meski tak bisa dipungkiri juga bahwa di sisi yang lain ada mimpi yang sebaliknya. Tapi kebanyakan yang akan diingat dan dikenang adalah mimpi indah. Makanya sering kita mendengar ucapan “semoga mimpi indah”. Ga nyambung banget sih sebenarnya.

Berkaitan dengan mimpi, tentu kita akan teringat kisah Nabi Ibrahim as yang mendapat perintah untuk mengorbankan anak tercintanya, Ismail as. Untuk konteks kekinian, hal seperti itu rasa-rasanya tak bisa diterima akal sehat. Hingga kini, belum mampu aku memahaminya. Coba bayangin, hanya dari mimpi seorang manusia bisa “tega” untuk mengambil hak hidup manusia yang lain. Kemudian Rumi dan Rabi’ah Adawiyah yang konon mendapat petunjuk melalui mimpi (harus di kroscek ulang nih). Versi Indonesia-nya ada Sang Pemimpi (kalo ini konteks mimpi yang berbeda). Maksudnya, begitu dahsyat pengaruh mimpi dengan segala misteri dan teka tekinya.

Bertolak belakang dengan mimpi, di kehidupan nyata semua tak selalu sesuai yang diharapkan. Ada sedih, marah, dan kecewa. Hal ini yang menyebabkan Mal (istri Cobb) bingung di antara keduanya. Terlena dengan mimpi yang didesain selama bertahun-tahun sehingga melupakan kenyataan. Aku pun pernah begitu. Dibuai mimpi yang menjadi ekstase. Tak sadar dan seakan menutup mata pada kenyataan. Kini, sudah saatnya bangun dari tidur yang panjang. Biarkan mimpi (baik dan buruknya) hanya menjadi sekedar bunga tidur. Karena sebaik-baik mimpi, mimpi tetaplah mimpi. Dan sepahit-pahitnya kehidupan, itulah kenyataan yang harus dihadapi.

Posted on March 5, 2011, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: