Monthly Archives: March 2011

Hanya Ada Kepentingan Sejati, Benarkah?

Sidang parpurna DPR yang mengangkat masalah hak angket mafia pajak  membawa persoalan baru. Perbedaan pendapat mengenai urgensi hak angket pajak ini ternyata memicu perpecahan koalisi. Golkar-PKS versus Setgab yang mengarah pada isu perombakan kabinet. Bukanlah hal yang baru sebenarnya kasus seperti itu di dunia politik. Sedikit menyimpang, tokoh agama yang kemarin sempat bersatu untuk “menyerang” kebohongan SBY terhadap publik, kini mulai berselisih ketika disodori persoalan Ahmadiyah.

Membahas persoalan politik Indonesia memang tidak ada habisnya. Dan berbicara tentang politik, pasti ada kaitannya dengan kepentingan berbagai pihak. Saat kepentingan menjadi permasalahan, aku teringat akan corporate social responsibility (CSR) sebagai topik utamanya. Ruang lingkup CSR yang begitu luas mengakibatkan beberapa kepentingan ikut terlibat di dalamnya. Secara singkat, CSR hadir di saat isu tentang Good Corporate Governance (GCG) mulai booming. Salah satu prinsipnya adalah corporate responsibility (tanggung jawab perusahaan). Perusahaan yang bertujuan memaksimalkan laba terkadang –bahkan terbilang sering– mengabaikan kepentingan-kepentingan di luar usahanya.

Read the rest of this entry

Bukan Persoalan Denny Sumargo

Hari ini rasa malas bukan kepalang. Selasa Malas, istilah yang akan kuberikan untuk hari ini. Benar adanya yang dikatakan dalam postingan sebelumnya tentang keberkahan di pagi hari. Pagi hari menentukan segalanya tentang aktivitas kita dalam satu hari. Banyak sekali yang tak kupedulikan. Mulai dari kucing hingga sekumpulan ikan, bahkan untuk makan siang pun aku malas. Di tengah kemalasan hari ini, sambil ngutak-atik channel tv, pandangan mataku terfokus pada satu acara, National Basketball League (NBL) Indonesia. Olah raga ini mungkin saja kurang begitu populer di tanah air. Bisa dilihat dari jumlah penggemarnya bila dibanding dengan sepak bola. Aku salah satu penggemar olah raga ini. Meski bukan atlet basket, setidaknya aku bisa melempar bola ke dalam keranjang :). Sedikit banyak masih tahu tentang permainan ini.

Dan berbicara mengenai bola basket Indonesia, pastilah nama Denny Sumargo tak luput dari perbincangan. Dia merupakan peraih MVP (Most Valuable Player) di kompetisi IBL (NBL versi lama). Pemain terbaik tahun 2008 ini lebih dikenal masyarakat setelah menjadi bintang iklan salah satu produk. Pada Selasa Malas ini, kusaksikan Denny Sumargo bersama rekan-rekannya di klub Garuda Bandung bertarung mati-matian melawan CLS Knight, klub asal Surabaya. Dan di akhir pertandingan, Garuda harus berbesar hati mengakui keunggulan lawannya. Denny Sumargo dan timnya tersingkir dari kompetisi. Memang aku bukanlah orang yang terlalu fanatik dengan salah satu klub. Tapi, Aspac dan SM Britama menjadi tim favorit untukku di level nasional. Denny Sumargo pernah juga tergabung di dua klub itu. Sedangkan untuk level NBA, LA Lakers. Sebelumnya, ketika era Michael Jordan berjaya, aku lebih ngefans Utah Jazz. Apa yang sebenarnya ingin ditulis? Pertanyaan itu mungkin saja sempat terpikirkan melihat arah tulisan yang ngalor-ngidul.

Read the rest of this entry

Inception

Apa yang terlintas ketika engkau melihat judul di atas? Yup, itu judul sebuah film yang dimainkan oleh Leonardo DiCaprio. Cerita singkatnya, Dom Cobb (Leo) adalah seorang yang pintar mencuri dan mensugesti sebuah ide melalui alam mimpi. Keahlian Cobb tersebut dimanfaatkan Saito, seorang pengusaha, untuk mempengaruhi saingan bisnisnya, Robert Fischer. Imbalan yang ia tawarkan membuat Cobb tak kuasa menolak, bertemu dengan kedua putra-putrinya. Ide kreatif dari film ini adalah mimpi yang berlapis-lapis. Hmm…mungkin namanya mimpi lapis kali ya (terinspirasi dari kue lapis). Maksudnya gini… ada mimpi dalam mimpi. Dan di dalam mimpi itu ada cerita. Jadi, ada cerita dalam cerita. Nah, di konflik akhir film ini, mimpi itu sampai empat lapis. Rumit amat.

Di akhir cerita pun bagiku masih menyisakan teka teki. Apakah sudah berada di dunia nyata ataukah masih terjebak di alam mimpi yang penuh dengan ilusi. Karena mimpi bisa didesain sesuai selera. Bagi arsitek (sebutan untuk desainer mimpi) sekaliber Dom Cobb, bukan hal yang sulit untuk menciptakan proyeksi. Dari setting tempat, cuaca, hingga detil orang-orang disekitar. Ironisnya, alam mimpi yang tanpa cacat menjebak alam bawah sadar. Terbukti dari kematian Mal (istri Cobb) yang bunuh diri karena tak mampu lagi membedakan dunia nyata dan alam mimpi.

Namun sayang seribu sayang, ditambah satu jadi seribu satu sayang (teringat komentator sepakbola). Tidak seperti yang diharapkan, bukan resensi yang akan disajikan pada tulisan kali ini. Jauh daripada itu. Karena tulisan ini hanyalah corat-coret tanpa makna. Baiknya, buruan nonton bagi yang belum 🙂 It’s recommended. Read the rest of this entry