Keputusan

Dalam sebuah obrolan dengan Pak Muh (Muhammad Zuhri -red), beliau pernah berujar bahwa bagian-bagian diri kita butuh makanan. Makanan nafsu adalah ilmu, makanan akal adalah hukum, makanan qolb adalah ma’rifat, dan makanan ruh adalah keputusan. Saya termasuk yang susah memahami kenapa urutannya semacam itu, saya dan teman-teman kemudian mencoba meraba, kemudian di lain waktu Pak Muh menambahi beberapa keterangan.

Pertama soal ilmu dan nafsu. Paling tidak antara ilmu dan nafsu metode penggapaiannya dengan basic motivation yang sama, yakni “rasa ingin”. Nafsu adalah persoalan rasa ingin yang melahirkan kehendak, harapan. Bagaimana tanpa kehendak bisa terlahir pengetahuan atupun ilmu?! Maka malaikat ilmunya di bawah Adam, karena malaikat tak diberi nafsu, tak berkehendak. Ilmunya malaikat taken for granted, sedang Adam selain taken juga mampu mengembangkan. Pak Muh menambahi penjelasan kurang lebih: nafsu adalah kehendak, dorongan. Dan dorongan itu takkan pernah terpenuhi bila tanpa ilmu. Apapun kecenderungan dorongan itu, pastilah dibutuhkan ilmu untuk menggapainya. Kecenderungan terhadap tumbuhan ada botani, alam ada kosmologi, manusia ada antropologi, Tuhan ada teologi, dsb.

Sedang hukum adalah ketetapan-ketetapan dari hasil pengetahuan atau ilmu yang diolah kemudian oleh akal. Gapaian konsep tentang salah-benar, baik-buruk adalah kerjaan akal. Kira-kira demikian. Pak Muh menambahi: akal sadar bahwa tidak mau perilaku berakibat buruk pada diri sendiri, diri tak mau rugi. Maka akal bekerja bagaimana membatasi diri, supaya berbuat yang tidak merugikan pihak lain dan tidak berakibat pada diri sendiri. Nah, tindakan membatasi diri itulah hukum.

Soal qolbu, saya pikir sudah jelas bahwa memang hanya bisa dikenyangkan dengan ma’rifat. Kata Pak Muh: “hati tidak bisa mengungkapkan diri terhadap sesuatu yang belum dikenal, kecuali yang sudah betul-betul dikenal.” Yang sudah betul-betul dikenal itulah yang dinamakan ma’rifat. Dalam tulisan ini kurang berkeinginan membahas ma’rifat dari sisi epistemologi. Tetapi malah pingin mangaksentuasi soal ruh, itupun mungkin lebih baik dari sisi fenomenologis. Bahwa seapapun kita, sebanyak apapun ilmu kita, secerdas apapun akal kita, sedekat apapun ma’rifat kita, tapi bila belum mengambil keputusan dalam hal apapun, niscaya diri ini akan terus gelisah, karena ruh memang belum diberi makan. Dalam konteks ini Pak Muh memang berpesan kurang lebih, “sering-seringlah mengambil keputusan niscaya akan tampak warna dirimu!” Dalam mengambil keputusan tentunya harus berani menanggung resikonya, disanalah keputusan akan mendewasakan seseorang untuk menanggung perbuatannya sendiri.

Keputusan adalah satu-satunya instrumen yang membedakan sama sekali manusia dengan makhluk Allah yang lain. Tak ada satupun makhluk yang punya “kemungkinan”. Hewan tidak mengambil keputusan, dia hanya mengikuti insting, sedang malaikat hanya berbuat bila diperintah. Dari sekian kemungkinan yang dihidangkan di hadapan kita, kita dituntut untuk memutuskan mana kemungkinan yang kita ambil untuk menyongsong ataupun menciptakan kemungkinan yang baru.

Keputusan amat dekat dengan takdir, terutama takdir mualaq. Takdir mutlaq kita tidak bisa tawar. Kita anak siapa, mati dimana,dsb. Tapi kalaau soal kita mau aktif dimana, kuliah atau kerja, bahkan jodoh kita siapa adalah takdir mualaq yang amat tergantung pada putusan kita. Maka mengambil keputusan haruslah tetap hati-hati, tapi bila tidak mengambil keputusan, diri tidak akan berkembang, kita tidak akan tambah dewasa.

Ada beberapaa variabel penentu pengambilan keputusan, seperti variabel psikologis, variabel sosiologis dan variabel “diri”. Bila variabel psikologis dijadikan penentu maka ambil keputusan yang dirasa enak, dirasa lebih ringan. Ini relatif lebih sehat bagi psikis kita. Bila variabel sosiologis, ambil saja keputusan dimana bila keputusan diambil citra kita tetap terjaga. Ketiga ego (jangan didekatkan dengan istilah egois, ego ini dalam artian diri, aku, ruh -lebih lanjut bisa dibaca karya DR Sir Muhammad Iqbal tentang Ego-Super Ego-). Bila variabel ego yang kita pilih maka ambillah keputusan yang tidak enak. Selanjutnya kita pahamlah antara psikis, sosial, dan ruh lebih unggul mana di mata Allah, disitu mestinya kita tetap berupaya menggenggam akal sehat dan sikap jujur.

sumber: Corat-Coret Seorang Kader (Ikhwanushoffa)

Posted on February 25, 2011, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: