Risalah Cinta

love

Pengorbanan
Risalah ini tidak berkeinginan mendefinisikan kenjlimetan kata cinta. Risalah ini berorientasi identifikasi akan cinta. Silahkan artikan cinta dengan macam-macam asal alat ukurannya jelas. Sebuah aksioma menyebutkan bahwa cinta identik dengan pengorbanan. Maka yang perlu jelas adalah apakah definisi pengorbanan!

Pengorbanan adalah output yang tidak butuh input. Pemberian, pelayanan interesan, care, pengabdian yang sama sekali/ total tidak mengharapkan kembalian, feedback, atau apapun dari pihak yang dikorbani, tidak menuntut. Dia murni.

Maka kemurnian cinta diukur dari pengorbanannya. Lalu, sejak kapan cinta musti memiliki? Tentunya sejak cinta telah tidak murni. Kapan itu?

Filsafat “Rasa”
Sebenarnya dari mana datangnya “rasa”? Rasanya sudah menjadi aksioma pula bahwa “rasa” ini berasal dari Tuhan Yang Maha Merasa. Karena fenomena itu berasal dari Sang Khaliq, maka harus punya maksud. Sederhananya paling tidak ada dua implikasi permaksudan, pertama, “rasa” sebagai anugerah, seperti seseorang yang telah siap memupus masa lajangnya kemudian diberi ilham “rasa” cinta. Maka itu pantas disyukuri. Kedua, ujian. Bila dia hadir di saat ruang dan waktu yang kurang bersesuaian. Ini juga tetap pantas disyukuri, karena bagi pelakunya akan dinaikkan maqam-nya. Iya tho, logika ujian kan kenaikan tingkat, tentunya bagi yang lulus, kalo tidak lulus ya ngulang! Maka catatan di awal ini, bagi yang tidak lulus silahkan siap-siap menghadapi ujian yang sama dengan waktu yang berbeda walau ruangnya tidak musti berbeda.

Problema
Kembali ke pertanyaan kapan cinta mulai tidak murni? Sekali lagi, sebenarnya cinta itu dari Tuhan bersifat murni, maksudnya pun baik, dalam kondisi seperti ini setan pasti tidak rela, setan akan memompa nafsu kita untuk mengotorinya, dan sifat dasar dari nafsu adalah “rasa ingin”. Nah, “rasa ingin” yang dominan dalam cinta adalah “rasa ingin memiliki”. “Rasa ingin memiliki” adalah murni dari nafsu. Maka bila “rasa ingin memiliki” mulai bercampur baur dengan “rasa” yang berupa cinta, maka segeralah kecelakaan lalu lintas mulai bertaburan. Saling menyalahkan antar makhluk, fitnah, dengki bahkan kadang Tuhan-pun mulai dipersalahkan. Hmmm… bukan berarti nafsu harus dibunuh dan itu telah kita ketahui bersama. Silahkan nafsu itu disalurkan ke tempat yang akurat, yakni bila kemungkinan cinta ini sebagai anugerah. Tapi bila berupa ujian, maka jangan sekali-kali cinta dicampur dengan nafsu, sekali lagi bila ingin lulus. Lalu harus bagaimana?

Solusi
Paling tidak ada dua pilihan, pertama, kembalikan “rasa” yang berupa cinta itu pada sumbernya, Allah. Dan Allah pasti hanya menerima bila masih murni, dimana sudah tidak ada lagi nafsu “rasa ingin”. Sudah, kita tidak ingin memilikinya, silahkan ambil cinta ini, kutumpahkan dengan segala linangan air mata –saat pada penulisan kata-kata ini terdengar Kla berujar: ‘walau apa terjadi tetap tegap berdiri’. Pokok pasrah! Kedua, laksanakan terus sifat yang melekat pada cinta, yaitu pengorbanan itu tadi. Pengorbanan yang tanpa menimbulkan fitnah, pengorbanan yang tidak menimbulkan swaksangka, kirim doa yang baik-baik terus terhadap yang dicintai, niati sebagai riadloh, menikmati derita dari Sang Khaliq, tanpa sedikitpun berniat memiliki yang dicintai. Terserah Tuhan, mau dijodohkan ke kita atau tidak, pokok pasrah! Apakah dua formulaini efektif? Secara teori jelas amat efektif, karena ending kita kembalikan ke sumber. Dari Allah kita kembalikan ke Allah. Awal-akhir. Dan sejauh pengalaman pula, sangat efektif, bahkan pilihan metode yang kedua yang lebih dianjurkan, karena hasilnya lebih luar biasa. Insya Allah.

Kalau kita bisa melampauinya, Tuhan pasti Maha Kasih, entah rasa itu mulai dihilangkan atau kemungkinan yang lain, yang jelas Insya Allah kita lulus. Dan bukan berarti lulus satu kali tidak akan diuji lagi dengan fenomena yang sama di kemudian waktu, sangat mungkin diuji lagi untuk melihat keistiqomahan. Hmm… tapi kita telah kuat! Dan kini kita pantas tersenyum optimis bila menghadapi fenomena keduniaan ini, karena kita yakin akan mampu mengangkatnya menjadi fenomena langit, momen spiritual. Amin.

Khotimah
Tubuh ini memang menjadi medan rebutan dua “rasa”. “Rasa” tanah dan “rasa” langit. Demikian pula dengan ilham “rasa” dengki, dalam hidup ini niscaya manusia pernah merasakannya, implikasinya pun sama, pertama, jadi ujian. “Rasa” dengki itu diilhamkan ke kita, kemudian apakah akan kita musti campuri dengan nafsu, “rasa ingin” melukai, menyakiti, membalas?! Saat ini aku tidak suka kamu, jengkel sama kamu, tapi apakah aku harus berupaya membuat kamu jengkel pula sama aku?! Selalu berwajah masam sama kamu?! Bahkan sebisa mungkin menyakiti hatimu, bahkan tubuhmu?! “Rasa” dengkiku ini urusan pribadiku dengan Tuhan, sebagai ujian apakah aku tetap berupaya ber-ta’aruf dengan kamu?!

Kedua, bisa juga anugerah, ketika mungkin kita diilhami rasa benci pada perilaku manusia yang melecehkan Islam –perialkunya, bukan manusianya– sedemikian sehingga mudah muncul saja’ah, keberanian memeranginya. Bukan malah menjadi pengecut.

Wallaahu a’lam

(sh. halmahera 270903)

 

Sumber: Corat-Coret Seorang Kader

Posted on February 5, 2011, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: