Daily Archives: February 5, 2011

Risalah Cinta

love

Pengorbanan
Risalah ini tidak berkeinginan mendefinisikan kenjlimetan kata cinta. Risalah ini berorientasi identifikasi akan cinta. Silahkan artikan cinta dengan macam-macam asal alat ukurannya jelas. Sebuah aksioma menyebutkan bahwa cinta identik dengan pengorbanan. Maka yang perlu jelas adalah apakah definisi pengorbanan!

Pengorbanan adalah output yang tidak butuh input. Pemberian, pelayanan interesan, care, pengabdian yang sama sekali/ total tidak mengharapkan kembalian, feedback, atau apapun dari pihak yang dikorbani, tidak menuntut. Dia murni.

Maka kemurnian cinta diukur dari pengorbanannya. Lalu, sejak kapan cinta musti memiliki? Tentunya sejak cinta telah tidak murni. Kapan itu?

Filsafat “Rasa”
Sebenarnya dari mana datangnya “rasa”? Rasanya sudah menjadi aksioma pula bahwa “rasa” ini berasal dari Tuhan Yang Maha Merasa. Karena fenomena itu berasal dari Sang Khaliq, maka harus punya maksud. Sederhananya paling tidak ada dua implikasi permaksudan, pertama, “rasa” sebagai anugerah, seperti seseorang yang telah siap memupus masa lajangnya kemudian diberi ilham “rasa” cinta. Maka itu pantas disyukuri. Kedua, ujian. Bila dia hadir di saat ruang dan waktu yang kurang bersesuaian. Ini juga tetap pantas disyukuri, karena bagi pelakunya akan dinaikkan maqam-nya. Iya tho, logika ujian kan kenaikan tingkat, tentunya bagi yang lulus, kalo tidak lulus ya ngulang! Maka catatan di awal ini, bagi yang tidak lulus silahkan siap-siap menghadapi ujian yang sama dengan waktu yang berbeda walau ruangnya tidak musti berbeda.

Problema
Kembali ke pertanyaan kapan cinta mulai tidak murni? Sekali lagi, sebenarnya cinta itu dari Tuhan bersifat murni, maksudnya pun baik, dalam kondisi seperti ini setan pasti tidak rela, setan akan memompa nafsu kita untuk mengotorinya, dan sifat dasar dari nafsu adalah “rasa ingin”. Nah, “rasa ingin” yang dominan dalam cinta adalah “rasa ingin memiliki”. “Rasa ingin memiliki” adalah murni dari nafsu. Maka bila “rasa ingin memiliki” mulai bercampur baur dengan “rasa” yang berupa cinta, maka segeralah kecelakaan lalu lintas mulai bertaburan. Saling menyalahkan antar makhluk, fitnah, dengki bahkan kadang Tuhan-pun mulai dipersalahkan. Hmmm… bukan berarti nafsu harus dibunuh dan itu telah kita ketahui bersama. Silahkan nafsu itu disalurkan ke tempat yang akurat, yakni bila kemungkinan cinta ini sebagai anugerah. Tapi bila berupa ujian, maka jangan sekali-kali cinta dicampur dengan nafsu, sekali lagi bila ingin lulus. Lalu harus bagaimana?

Read the rest of this entry

Pencari dan Pecundang

Di sini digunakan kata “Pencari” untuk memaknai individu yang kreatif yang selalu gundah mencari kebenaran, Para Pencari Tuhan, Para Pencari Diri -walau memang Tuhan tak dan takkan pernah hilang. Pasti ada cirinya, maka bila tidak masuk ciri itu meski berlagak “Pencari”, sungguh dia hanya sekedar “Pecundang”!

Secara eksperiental terungkap, ciri yang paling menonjol dari sang Pencari adalah dia menjadi teramat altruis (kebalikan egois) di masa-masa pencariannya. Sekedar eksplanasi: Ketika diri gelisah mencari, diawali dari rasa nisbi akan nilai yang dipegang selama ini. Dari sana sang Pencari akan berusaha dengan mati-matian untuk mencari nilai-nilai yang bertebaran di semesta. Nah, muncullah semarak pelayanan, pemberian, pengabdian demi menjumput nilai. Meski tubuhnya dekil, meski ritualnya tak tertib.

Tapi bila yang terlihat adalah seorang yang dekil, tak tertib, norak , dan sekaligus malesan, etos kerja rendah, nyusahin orang, bukannya yang ringan bantu, suka memberi, senang melayani, rela mengabdi serta bersemangat bila dapat amanah… Wah, inilah yang namanya: “Pecundang” (The Looser). Sesederhana itu!

Wallaahu a’lam

(sh. cantel071202)

Sumber: Corat-Coret Seorang Kader