Saat Skripsi Tak Lagi Seksi

Saat skripsi tak lagi seksi. Begitulah bunyi sederetan kata yang kutemukan di lembar pengantar Buried Alive-nya Divan Semesta. Mungkin begitu pula yang kurasakan atas kejenuhan menggarap skripsi yang semakin memuncak.

“Sibuk apa sekarang? Kerja di mana?”… bagiku itu sebuah pertanyaan yang menusuk dada. Dunia seolah berhenti berputar. Waktu seakan diam beberapa detik. Di saat teman-teman sebaya sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, bahkan sebagian sudah ada yang berkeluarga, aku masih harus setia bersama karya ilmiah ini. Terbilang terlalu lama untuk aku mengerjakan sebuah mega proyek demi mendapat gelar kesarjanaan.

Entah kenapa perjalanan skripsiku hampir selama masaku aktif kuliah. Mungkin aku yang terlalu perfeksionis. Atau mungkin, aku hanyut dalam rasa malas. Namun yang pasti, gairahku ‘tuk menyusun skripsi begitu tereduksi. Ketertarikan atas eksplorasinya seakan menghilang. Dan judul di atas sangatlah relevan untukku. “Seksi” yang diasumsikan sebagai sesuatu yang menarik. Dan kalau menurut kamus bahasa Inggris sih artinya menggairahkan. Nah, itulah maknanya judul itu. Ketika sesuatu yang dahulu menarik ataupun menggairahkan, kini terasa hambar.

Aku merasa banyak faktor terkikisnya gairah dan padamnya semangat mengerjakan skripsi.  Baik faktor internal maupun faktor eksternal. Jika sudah bisa dipastikan faktor internal itu adalah rasa malasku, melalui tulisan ini aku ingin berbagi faktor-faktor eksternalnya.

Sebagai seseorang yang pernah berkecimpung di dunia lembaga kemahasiswaan, hati kecilku menolak apa itu yang dinamakan jasa konsultasi skripsi. Sudah bukan rahasia lagi kurasa, jika jasa tersebut juga melayani pembuatan skripsi meski secara terselubung. Pernah dengar dari salah seorang teman yang pernah terlibat di dunia semacam itu bahwa kasus-kasus tersebut bukan hanya marak dikalangan mahasiswa S-1. Bahkan, hingga kalangan doktoral pun tersedia. Peminatnya tak lagi anak-anak muda generasi instant yang ingin segera mendapatkan gelar sebagai syarat memasuki dunia kerja. Akan tetapi, berbagai macam profesi. Dari mahasiswa fresh-graduate hingga kalangan pendidik dan pejabat pemerintahan. Dan jika ditinjau dari segi keuntungan, angka yang didapat bisa jauh di atas Upah Minimum Provinsi (UMR). Menakjubkan, bukan!?

Kemudian di samping hal itu, budaya plagiat pada mahasiswa sudah begitu mengakar. Memang sebagai mahasiswa calon sarjana, aku hanya ditekankan pada replikasi skripsi ataupun permainan kutip sana kutip sini. Tapi menurutku jika sumber referensi yang dimiliki hanya sedikit –katakanlah skripsi milik orang lain, apa bedanya antara plagiat dengan mengutip meski tata cara pengutipan sudah dipenuhi. Terus terang, aku menolak.

Sebenarnya masih banyak yang ingin kusampaikan faktor-faktor “x” hingga “z” seperti kesibukan lain yang lebih menarik. Sudah bisa mendapatkan penghasilan sendiri salah satu contohnya. Tapi aku ingin menitikberatkan pada kedua hal di atas. Biar fokus. Selain karena tulisan ini akan terasa membosankan bila terlalu panjang tentunya.

Seutas benang merah yang dapat kusimpulkan dari dua kasus di atas adalah pola pikir yang instant. Saat virus instant ini sudah menyebar dan menjangkiti, lalu kampus tak lagi menciptakan generasi-generasi brilian, tetapi hanya memproduksi robot-robot yang siap menerima perintah. Kalau temanku mengatakannya sebagai babu intelektual. Artinya, tak ada lagi pemikiran-pemikiran kritis sebagai hasil dari olah pikir.

Mungkin tak pernah terpikir dengan pola-pola instant seperti ini akan berdampak pada kehidupan mereka pasca mahasiswa. Kemudian muncul prinsip-prinsip: dengan usaha seminimalnya, mendapat hasil yang maksimal. Sayang sekali. Aku teringat akan Mario Teguh yang pernah berkata bahwa campur tangan (intervensi) Tuhan ada setelah usaha manusia telah mencapai batas terbaiknya. Karena itulah kita dianjurkan untuk berdo’a setelah berikhtiar. Hal itu yang akhirnya kupahami.

Bayangkan saja, dengan budaya instant yang terus menerus seperti itu –secara sadar atau tidak— kita sudah melakukan pembohongan publik… juga pembodohan masyarakat. Dosen kepingin instant untuk mencapai Guru Besar sehingga cara-cara non-etis dihalalkan. Pejabat pun begitu agar naik pangkat. Dan itu bisa berujung pada pendewaan materi (uang). Semua bisa dibeli. Secara ekstrim membeli gelar seperti yang pernah diliput media, cetak maupun elektronik.  Ini nyata. Inilah fenomena yang terjadi di masyarakat kita.

Sekuat tenaga aku berusaha menghindar dari epidemi itu. Terkadang aku terperosok dalam lubang yang sama, namun sebisa mungkin aku berjuang kembali pada idealitas yang (sempat) kumiliki. Sampai hari ini aku masih percaya pada arti sebuah proses. Jalan panjang yang pada akhirnya menjadi pilihanku. Tidak shortcut. Bukankah mutiara itu tidak tercipta dari sebuah “jalan tol”!? Melainkan melalui proses yang panjang, dan bahkan sangat menyakitkan bagi sebutir pasir. Kalian boleh menganggap ini sebuah apologi. Itu hak kalian untuk menilai diriku. Tapi aku tetap ingin seperti mutiara, yang berkilau. Sehingga ketika skripsi tak lagi seksi, aku yang akan membuatnya seksi kembali.

 

ilustrasi: aguschandra

Posted on February 1, 2011, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: