Daily Archives: February 1, 2011

Saat Skripsi Tak Lagi Seksi

Saat skripsi tak lagi seksi. Begitulah bunyi sederetan kata yang kutemukan di lembar pengantar Buried Alive-nya Divan Semesta. Mungkin begitu pula yang kurasakan atas kejenuhan menggarap skripsi yang semakin memuncak.

“Sibuk apa sekarang? Kerja di mana?”… bagiku itu sebuah pertanyaan yang menusuk dada. Dunia seolah berhenti berputar. Waktu seakan diam beberapa detik. Di saat teman-teman sebaya sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, bahkan sebagian sudah ada yang berkeluarga, aku masih harus setia bersama karya ilmiah ini. Terbilang terlalu lama untuk aku mengerjakan sebuah mega proyek demi mendapat gelar kesarjanaan.

Entah kenapa perjalanan skripsiku hampir selama masaku aktif kuliah. Mungkin aku yang terlalu perfeksionis. Atau mungkin, aku hanyut dalam rasa malas. Namun yang pasti, gairahku ‘tuk menyusun skripsi begitu tereduksi. Ketertarikan atas eksplorasinya seakan menghilang. Dan judul di atas sangatlah relevan untukku. “Seksi” yang diasumsikan sebagai sesuatu yang menarik. Dan kalau menurut kamus bahasa Inggris sih artinya menggairahkan. Nah, itulah maknanya judul itu. Ketika sesuatu yang dahulu menarik ataupun menggairahkan, kini terasa hambar.

Aku merasa banyak faktor terkikisnya gairah dan padamnya semangat mengerjakan skripsi.  Baik faktor internal maupun faktor eksternal. Jika sudah bisa dipastikan faktor internal itu adalah rasa malasku, melalui tulisan ini aku ingin berbagi faktor-faktor eksternalnya.

Sebagai seseorang yang pernah berkecimpung di dunia lembaga kemahasiswaan, hati kecilku menolak apa itu yang dinamakan jasa konsultasi skripsi. Sudah bukan rahasia lagi kurasa, jika jasa tersebut juga melayani pembuatan skripsi meski secara terselubung. Pernah dengar dari salah seorang teman yang pernah terlibat di dunia semacam itu bahwa kasus-kasus tersebut bukan hanya marak dikalangan mahasiswa S-1. Bahkan, hingga kalangan doktoral pun tersedia. Peminatnya tak lagi anak-anak muda generasi instant yang ingin segera mendapatkan gelar sebagai syarat memasuki dunia kerja. Akan tetapi, berbagai macam profesi. Dari mahasiswa fresh-graduate hingga kalangan pendidik dan pejabat pemerintahan. Dan jika ditinjau dari segi keuntungan, angka yang didapat bisa jauh di atas Upah Minimum Provinsi (UMR). Menakjubkan, bukan!?

Read the rest of this entry