Monthly Archives: February 2011

Keputusan

Dalam sebuah obrolan dengan Pak Muh (Muhammad Zuhri -red), beliau pernah berujar bahwa bagian-bagian diri kita butuh makanan. Makanan nafsu adalah ilmu, makanan akal adalah hukum, makanan qolb adalah ma’rifat, dan makanan ruh adalah keputusan. Saya termasuk yang susah memahami kenapa urutannya semacam itu, saya dan teman-teman kemudian mencoba meraba, kemudian di lain waktu Pak Muh menambahi beberapa keterangan.

Pertama soal ilmu dan nafsu. Paling tidak antara ilmu dan nafsu metode penggapaiannya dengan basic motivation yang sama, yakni “rasa ingin”. Nafsu adalah persoalan rasa ingin yang melahirkan kehendak, harapan. Bagaimana tanpa kehendak bisa terlahir pengetahuan atupun ilmu?! Maka malaikat ilmunya di bawah Adam, karena malaikat tak diberi nafsu, tak berkehendak. Ilmunya malaikat taken for granted, sedang Adam selain taken juga mampu mengembangkan. Pak Muh menambahi penjelasan kurang lebih: nafsu adalah kehendak, dorongan. Dan dorongan itu takkan pernah terpenuhi bila tanpa ilmu. Apapun kecenderungan dorongan itu, pastilah dibutuhkan ilmu untuk menggapainya. Kecenderungan terhadap tumbuhan ada botani, alam ada kosmologi, manusia ada antropologi, Tuhan ada teologi, dsb.

Read the rest of this entry

Jogja Kota FTV

Selalu ada yang menarik dari Yogyakarta. Kota yang biasa dikenal dengan sebutan Jogja itu selalu membuat nyaman hati penghuninya, sesuai dengan slogan yang didengungkan, Yogyakarta Berhati Nyaman. Jogja juga dikenal sebagai Kota Pelajar. Tak heran jika banyak perantau yang bisa ditemui di setiap sudut kota. Mulai dari ujung Pulau Sumatera hingga Papua tersedia di sini. Umumnya mereka jauh-jauh merantau untuk menimba ilmu. Namanya aja Kota Pelajar,Bung!! Jadi jangan heran juga kalau ada pepatah tua yang mengatakan: tuntutlah ilmu sampai ke kota Jogja 🙂

Selain menjadi Kota Pelajar, Jogja juga melegitimasi dirinya sebagai Kota Gudeg. Belumlah afdhol ke kota Jogja kalau belum mencicipi -istilahnya Katon  Bagaskara- sajian khas berselera ini. Tak bijak rasanya jika makanan yang satu ini tidak disandingkan dengan santapan khas Jogja lainnya, bakpia. Entah apakah juga pantas jika disebut Kota Bakpia, mengingat ketidakabsahan kunjungan ke Jogja tanpa menenteng pulang si bundar pipih.

Mungkin masih banyak lagi sebutan-sebutan untuk Jogja. Hmm…mungkin Kota Budaya?! Lihat saja warisan budaya kota Jogja. Atau… Kota Tua!? Kota Hujan!? Kota Kembang!? Kota Blangkon!? Atau lagi… Kota Kota He (kata Shah Rukh Khan)!? Bisa jadi… Kota Kenangan barangkali. Aku tak tahu pastinya ada berapa banyak sebutan untuk kota itu. Yang ku tahu kini bertambah lagi sebutan untuknya, Kota FTV.

FTV sebuah singkatan dari Film Televisi yang disajikan di salah satu atau salah dua -karena ngga mungkin sala(h)tiga- stasiun televisi swasta di Indonesia. Karena film, biasanya hanya berdurasi 1,5 jam. So, ngga mungkin sampai ada season 7, cerita yang sampai beranak cucu. Dari sisi jalannya cerita, kelihatannya masih rada realistis lah. Bukannya penggemar, tapi kalau diperhatikan lebih, karena keindahan dan keramahannya, beberapa episode yang ditampilkan akhir-akhir ini sering berlatarkan kota Jogja. Ngga salah dong kalau Jogja kusebut Kota FTV…(??)

Risalah Cinta

love

Pengorbanan
Risalah ini tidak berkeinginan mendefinisikan kenjlimetan kata cinta. Risalah ini berorientasi identifikasi akan cinta. Silahkan artikan cinta dengan macam-macam asal alat ukurannya jelas. Sebuah aksioma menyebutkan bahwa cinta identik dengan pengorbanan. Maka yang perlu jelas adalah apakah definisi pengorbanan!

Pengorbanan adalah output yang tidak butuh input. Pemberian, pelayanan interesan, care, pengabdian yang sama sekali/ total tidak mengharapkan kembalian, feedback, atau apapun dari pihak yang dikorbani, tidak menuntut. Dia murni.

Maka kemurnian cinta diukur dari pengorbanannya. Lalu, sejak kapan cinta musti memiliki? Tentunya sejak cinta telah tidak murni. Kapan itu?

Filsafat “Rasa”
Sebenarnya dari mana datangnya “rasa”? Rasanya sudah menjadi aksioma pula bahwa “rasa” ini berasal dari Tuhan Yang Maha Merasa. Karena fenomena itu berasal dari Sang Khaliq, maka harus punya maksud. Sederhananya paling tidak ada dua implikasi permaksudan, pertama, “rasa” sebagai anugerah, seperti seseorang yang telah siap memupus masa lajangnya kemudian diberi ilham “rasa” cinta. Maka itu pantas disyukuri. Kedua, ujian. Bila dia hadir di saat ruang dan waktu yang kurang bersesuaian. Ini juga tetap pantas disyukuri, karena bagi pelakunya akan dinaikkan maqam-nya. Iya tho, logika ujian kan kenaikan tingkat, tentunya bagi yang lulus, kalo tidak lulus ya ngulang! Maka catatan di awal ini, bagi yang tidak lulus silahkan siap-siap menghadapi ujian yang sama dengan waktu yang berbeda walau ruangnya tidak musti berbeda.

Problema
Kembali ke pertanyaan kapan cinta mulai tidak murni? Sekali lagi, sebenarnya cinta itu dari Tuhan bersifat murni, maksudnya pun baik, dalam kondisi seperti ini setan pasti tidak rela, setan akan memompa nafsu kita untuk mengotorinya, dan sifat dasar dari nafsu adalah “rasa ingin”. Nah, “rasa ingin” yang dominan dalam cinta adalah “rasa ingin memiliki”. “Rasa ingin memiliki” adalah murni dari nafsu. Maka bila “rasa ingin memiliki” mulai bercampur baur dengan “rasa” yang berupa cinta, maka segeralah kecelakaan lalu lintas mulai bertaburan. Saling menyalahkan antar makhluk, fitnah, dengki bahkan kadang Tuhan-pun mulai dipersalahkan. Hmmm… bukan berarti nafsu harus dibunuh dan itu telah kita ketahui bersama. Silahkan nafsu itu disalurkan ke tempat yang akurat, yakni bila kemungkinan cinta ini sebagai anugerah. Tapi bila berupa ujian, maka jangan sekali-kali cinta dicampur dengan nafsu, sekali lagi bila ingin lulus. Lalu harus bagaimana?

Read the rest of this entry

Pencari dan Pecundang

Di sini digunakan kata “Pencari” untuk memaknai individu yang kreatif yang selalu gundah mencari kebenaran, Para Pencari Tuhan, Para Pencari Diri -walau memang Tuhan tak dan takkan pernah hilang. Pasti ada cirinya, maka bila tidak masuk ciri itu meski berlagak “Pencari”, sungguh dia hanya sekedar “Pecundang”!

Secara eksperiental terungkap, ciri yang paling menonjol dari sang Pencari adalah dia menjadi teramat altruis (kebalikan egois) di masa-masa pencariannya. Sekedar eksplanasi: Ketika diri gelisah mencari, diawali dari rasa nisbi akan nilai yang dipegang selama ini. Dari sana sang Pencari akan berusaha dengan mati-matian untuk mencari nilai-nilai yang bertebaran di semesta. Nah, muncullah semarak pelayanan, pemberian, pengabdian demi menjumput nilai. Meski tubuhnya dekil, meski ritualnya tak tertib.

Tapi bila yang terlihat adalah seorang yang dekil, tak tertib, norak , dan sekaligus malesan, etos kerja rendah, nyusahin orang, bukannya yang ringan bantu, suka memberi, senang melayani, rela mengabdi serta bersemangat bila dapat amanah… Wah, inilah yang namanya: “Pecundang” (The Looser). Sesederhana itu!

Wallaahu a’lam

(sh. cantel071202)

Sumber: Corat-Coret Seorang Kader

Saat Skripsi Tak Lagi Seksi

Saat skripsi tak lagi seksi. Begitulah bunyi sederetan kata yang kutemukan di lembar pengantar Buried Alive-nya Divan Semesta. Mungkin begitu pula yang kurasakan atas kejenuhan menggarap skripsi yang semakin memuncak.

“Sibuk apa sekarang? Kerja di mana?”… bagiku itu sebuah pertanyaan yang menusuk dada. Dunia seolah berhenti berputar. Waktu seakan diam beberapa detik. Di saat teman-teman sebaya sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, bahkan sebagian sudah ada yang berkeluarga, aku masih harus setia bersama karya ilmiah ini. Terbilang terlalu lama untuk aku mengerjakan sebuah mega proyek demi mendapat gelar kesarjanaan.

Entah kenapa perjalanan skripsiku hampir selama masaku aktif kuliah. Mungkin aku yang terlalu perfeksionis. Atau mungkin, aku hanyut dalam rasa malas. Namun yang pasti, gairahku ‘tuk menyusun skripsi begitu tereduksi. Ketertarikan atas eksplorasinya seakan menghilang. Dan judul di atas sangatlah relevan untukku. “Seksi” yang diasumsikan sebagai sesuatu yang menarik. Dan kalau menurut kamus bahasa Inggris sih artinya menggairahkan. Nah, itulah maknanya judul itu. Ketika sesuatu yang dahulu menarik ataupun menggairahkan, kini terasa hambar.

Aku merasa banyak faktor terkikisnya gairah dan padamnya semangat mengerjakan skripsi.  Baik faktor internal maupun faktor eksternal. Jika sudah bisa dipastikan faktor internal itu adalah rasa malasku, melalui tulisan ini aku ingin berbagi faktor-faktor eksternalnya.

Sebagai seseorang yang pernah berkecimpung di dunia lembaga kemahasiswaan, hati kecilku menolak apa itu yang dinamakan jasa konsultasi skripsi. Sudah bukan rahasia lagi kurasa, jika jasa tersebut juga melayani pembuatan skripsi meski secara terselubung. Pernah dengar dari salah seorang teman yang pernah terlibat di dunia semacam itu bahwa kasus-kasus tersebut bukan hanya marak dikalangan mahasiswa S-1. Bahkan, hingga kalangan doktoral pun tersedia. Peminatnya tak lagi anak-anak muda generasi instant yang ingin segera mendapatkan gelar sebagai syarat memasuki dunia kerja. Akan tetapi, berbagai macam profesi. Dari mahasiswa fresh-graduate hingga kalangan pendidik dan pejabat pemerintahan. Dan jika ditinjau dari segi keuntungan, angka yang didapat bisa jauh di atas Upah Minimum Provinsi (UMR). Menakjubkan, bukan!?

Read the rest of this entry