Mahasiswa dan Senandung Perubahan

Sebuah tulisan saya temukan setelah mengorek-ngorek kembali file lama yang tersimpan dengan cukup rapi di gadget ini. Tulisan ini merupakan tulisan pertama. Sebelumnya, tulisan ini pernah dimuat di majalah mini Sintaksis, terbitan lembaga dakwah di kampus. Berhubung lupa dicantumkan pada edisi keberapa, jadi dengan sangat terpaksa sekali mohon dilacak atau ditanyakan pada redaksinya saja hehe. Yang pasti, tulisan ini saya buat tiga tahun yang silam, Juli 2007. Dengan semangat aktivis –kalau saya boleh menyebutnya begitu– yang masih menyala-nyala, dan dukungan dari seorang teman bernama Wildan Taufiq, akhirnya saya memberanikan diri menarikan jari-jemari di atas tuts keyboard komputer. Berlatar belakang hal itulah yang memutuskan saya untuk menulis bertema mahasiswa. Dan saya pikir, tulisan tersebut masih cukup relevan untuk disajikan kembali. Akhir kata, selamat menikmati sajian yang saya suguhkan untuk Anda…


Dia terlahir dengan nama agent of social control. Mempunyai julukan beken sebagai agent of change. Awam lebih mengenalnya dengan nama mahasiswa. Dari sudut pandang ketatabahasaan, kata mahasiswa memiliki keistimewaan dengan adanya tambahan kata maha di depan kata siswa. Kata maha biasanya menggambarkan sesuatu yang melebihi super. Dan itu sangat lumrah untuk menggambarkan kekuasaan Sang Maha, yaitu Tuhan pencipta alam, Allah SWT, yang menggenggam langit dan bumi beserta seluruh unsur di dalamnya. Hal ini yang membuat mahasiswa menjadi unik, istimewa. Dengan keistimewaannya itulah maka seharusnya mahasiswa lebih mampu memberikan kontribusi terbaiknya bagi lingkungan sekitarnya. Di sisi yang lain, mahasiswa masih memiliki idealisme yang memuncak, sehingga mampu mendorong rasa ingin tahu yang lebih jauh. Keingintahuan tersebut pada akhirnya dapat membuahkan kemampuan analisa yang tajam. Lebih jauh, analisa tersebut akan mengantarkan mahasiswa ke dalam realitas sosial yang terjadi. Atas dasar inilah sehingga mahasiswa turut berpartisipasi terhadap perubahan dan selalu akan bersenandung perubahan.


Sejarah telah mencatat bahwa kemerdekaan Republik Indonesia tidak lepas dari campur tangan para mahasiswa. Mereka sudah bosan dan muak dengan tindakan para penjajah yang telah merenggut kekayaan serta membodohi rakyat dalam kurun waktu yang sangat lama. Sehingga dengan tekad yang bulat, Indonesia mampu bersatu dan terlepas dari belenggu penjajahan. Kembali sejarah mencatat bahwa satu dekade silam, mahasiswa dengan segenap kekuatannya, mampu menggulingkan sebuah rezim yang telah menguasai negara selama kurang lebih tiga dekade. Perubahan bukan slogan kosong yang datang dari atas, tetapi dari pengalaman berpolitik di akar rumput (Barack Obama).


Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa untuk melakukan perubahan tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun butuh proses panjang. Proses-proses inilah yang akan mengantarkan pada sebuah perubahan. Sebut saja Soe Hok Gie, salah satu tokoh perubahan dari kalangan mahasiswa, tidak serta merta berteriak tentang perubahan. Tetapi dari masa kecilnya Gie adalah orang yang kritis dan bukan termasuk golongan orang yang nrimo. Sekali lagi perubahan membutuhkan daya kritis, pertentangan dengan status quo, analitis, serta yang utama adalah kepekaan terhadap lingkungan sekitar.


Apa yang diutarakan di atas adalah sebuah idealitas atas mahasiswa sebagai tonggak perubahan, khususnya perubahan sosial. Namun apa yang terjadi kini?? Mahasiswa jauh dari nilai-nilai keidealitasannya. Mahasiswa sekarang cenderung memikirkan perut sendiri. Bagaimana mungkin bisa peka terhadap realitas! Mengasah daya kritis-analitis serta intelektualitas saja sudah setengah hati. Mereka cenderung berlaku hedonis, apatis, pragmatis, individualis, serta –is lainnya. Tidak ada lagi rasa kebersamaan. Tidak tertanam lagi kepedulian terhadap sesama. Tidak bermakna lagi nilai yang diberikan apabila semua mahasiswa berlaku demikian. Memang, diakui atau tidak, saat ini bangsa kita masih terjajah. Bukan penjajahan secara fisik yang kita alami. Akan tetapi bangsa pluralis ini kini dijajah oleh hegemoni ideologi dan dominasi budaya.


Lalu siapakah yang patut kita salahkan?? Kondisi? Peran perguruan tinggi dalam mencetak penerus bangsa sampai saat ini masih sebatas pengembangan kecerdasan intelijensia serta bagaimana kehidupan di dunia kerja sehingga kepekaan terhadap lingkungan masih terasa kurang. Namun hal itu dirasa wajar karena sistem kependidikan kita saja tidak peka terhadap kondisi riil masyarakat. Terbukti dengan melambungnya biaya untuk sekedar mendapat pendidikan. Dalam dunia kemahasiswaan, mungkin saja perlu dilakukan reformasi kurikulum sebagai manifestasi peran perguruan tinggi terhadap pembentukan dan pengembangan kepekaan sosial mahasiswa.

ilustrasi: http://taufik79.files.wordpress.com/2008/06/pendidikan.jpg

Posted on January 26, 2011, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: