Daily Archives: January 4, 2011

Masih Adakah Win-Win Solution? (Catatan Perpisahan Bag. I)



Tahun 2010 telah kita tinggalkan. Dan kini, kita sedang berada di titik awal 2011 untuk menyusuri setahun ke depan perjalanan hidup kita masing-masing. Artinya, ini merupakan tahun ketigaku di ruang ini (mudah-mudahan tahun terakhirku). Salah satu bagian kampus yang berisi tumpukan dan deretan buku. Ya itulah perpustakaan, tempatku bekerja paruh waktu. Sebenarnya sih belum sampai tiga tahun aku di sini. Dua setengah tahun tepatnya. Dalam hitungan waktuku yang tak lagi dapat dikatakan “anak baru”, sedikit banyak aku telah mengetahui dinamika dunia profesional.

Tahun 2008 di bulan Juni, pertama kalinya ku menjejakkan kaki di lantai perpustakaan sebagai seorang petugas. Layaknya seorang “pustakawan” sejati, aku akan mengerahkan segala daya dan upaya terbaikku untuk memajukan perpus (sebutan kami untuk perpustakaan) tercinta. Akan kudedikasikan serta kudarmabaktikan sebagian waktu ku untuk memberikan yang terbaik yang bisa aku raih. Becanda kok hehe. Jangan dianggap terlalu serius gitu,ah. Intinya, aku ingin melakukan sebisaku dan sebaik mungkin. Itu saja, tidak lebih. Di sana, di perpus itu, aku bertemu teman-teman baru walau sebagian dari mereka sudah kukenal sebelumnya. “Dia lagi, dia lagi…”, begitu pikirku. Jenuh juga ketemu orang yang sama (maaf, kawan…), aktif di organisasi kampus yang sama, dan kemudian harus berkecimpung di dunia perbukuan yang sama pula. Untuk beberapa hal, dunia memang dirasa terlalu sempit meski jauh lebih lebar dan luas dari selembar daun kelor. Itulah takdir, teman. Tak pernah disangka, tak pernah diduga sebelumnya. Tapi aku bersyukur. Setidaknya ada yang bisa mencairkan (atau bisa dijadikan bahan untuk mencairkan) suasana karena sifatku yang pendiam dan pemalu. Dan perlu diketahui, dari sekian banyak “pustakawan” baru, akulah yang paling rupawan (geer ngawang-ngawang…hehe).



Waktu yang begitu cepat berlalu seakan memerintahkanku ‘tuk berada pada tahap itu. Di awal Januari (bukan di kota Dili loh) tahun berikutnya, dalam rapat internal setiap bulannya, teman-teman “menghadiahiku” tampuk pimpinan sebagai koordinator mahasiswa part time karena ketampananku. Rupawan bukan berarti ganteng, tampan tak berarti elok. Nasib yang menuntunku layaknya raja yang berada di tengah-tengah para selirnya. Hufh…aku satu-satunya kaum adam yang diterima. Dan kurasa itulah alasan mereka menjerumuskanku, selain karena memang prestasiku yang cemerlang tentu saja…hehehe. Lucu, di saat Kartini dulu berjuang mengangkat derajat kaum perempuan demi kesetaraan gender, kesempatan itu ngga mereka manfaatkan. C’est dommage. Meminjam ungkapan teman, terkadang menjadi pemimpin itu sudah ditakdirkan (kalo ga salah sih). Hanya orang-orang yang siap yang bisa menerima tanggung jawab. Jangan pernah menolak dengan tantangan. Jangan pernah lari dari tanggung jawab. Dan akhirnya, terjebaklah aku di sini. Di dalam posisi yang kusebut dilema.



Tak kusia-siakan kesempatan itu ‘tuk belajar lebih banyak. Sebenarnya, dengan begini, aku lebih mudah mengenal karakter orang. Di samping itu, aku belajar tentang arti tanggung jawab. Banyak sekali yang bisa dipelajari di sini. Kemampuan analisisku juga semakin terasah. Melihat situasi “medan perang” serta penerapan langkah-langkah strategis yang diperlukan. Hal yang tak kusukai dari itu semua, aku tidak bisa leluasa memikirkan kepentinganku sendiri. Mau tidak mau, keinginan pribadi harus kukorbankan. Aku sadar, di saat seperti ini, aku bukanlah milik sebagian orang. Aku sudah menjadi milik semua rekan ku dan juga “properti” perpus. Bahkan, aku tak lagi milik aku sendiri. Singkirkan ego, ciptakan keselarasan. Hingga pada akhirnya, kucurahkan tenaga, waktu, dan pikiran demi sebuah nama: loyalitas. Pernah terjadi di suatu hari (malah sering) di mana aku ngga ada jadwal piket, tapi harus membantu di sana karena kurangnya personil. Aku sendiri ngga tau kenapa kulakukan itu, juga alasan ke tempat itu. Anggap saja panggilan hati. Ketika hati menuntun langkah. Sayang, dari yang selama ini kuperhatikan, semangat ini tak dirasakan oleh lingkungan di sekitarku. Oleh teman-temanku, bahkan oleh pustakawan itu sendiri. Itulah kenapa posisi ini – koordinator part time – kukatakan sebagai sebuah dilema.