Hei… Siapa Kamu?


Yogyakarta, 1 Januari 2011

Kini tahun telah berganti. Beribu cara menyikapi pergantian tahun tersebut. Ada yang bersuka cita, namun tak sedikit yang berintrospeksi diri. Mengevaluasi sikap diri selama setahun kemarin serta menyiapkan sebuah resolusi di tahun mendatang. Banyak dari kita yang menghamburkan diri di jalanan kota. Akan tetapi yang lebih memilih untuk berdiam di rumah juga tak bisa dianggap sedikit. Terserah deh bagaimana caranya menghabiskan malam pergantuan tahun. Ya, bagiku sah-sah saja bagi setiap orang untuk memilih cara apapun yang mereka suka.

Lalu bagaimana dengan aku sendiri…?? Aku sendiri memilih untuk menikmati suasana pergantian tahun dengan cara yang berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya. Setahun yang lalu, kulewati malam tahun baru dengan buaian mimpi indah di atas tempat tidur. Kemudian beberapa tahun sebelumnya, kuhabiskan dengan melihat pesta kembang api yang membumbung tinggi di angkasa dari beranda depan rumah. Dan tadi malam, dengan langkah pasti, kuputuskan untuk berkaraoke ria bersama teman-teman serta melihat taburan kembang api di angkasa^^.

Tulisanku kali ini mungkin tak ada kaitannya dengan pergantian tahun, introspeksi diri, atau hal-hal seperti yang sudah ditulis oleh kebanyakan orang. Aku ingin berbeda. Aku memang berbeda. Tak ingin seperti kebanyakan orang. Agar tampil unik aja. Bila kita semua diibaratkan seperti butiran pasir di pantai, aku ingin seperti batu koral yang terdampar. Sehingga baik dan burukku dapat dilihat dengan jelas. Akan diambil bila yang terlihat adalah baikku, tapi akan dihindari bila yang tampak adalah sisi burukku. Setidaknya itulah usahaku agar orang lain tak terjerat dengan kesalahan yang sama. Pikiran yang ngelantur memang. Hmm…mungkin sebaiknya aku menulis apa yang aku rasakan di tahun kemaren saja deh.

Di tahun 2010 lalu, entah kenapa pikiran dan waktuku begitu tersita pada sesuatu. Di samping tentang kelulusanku yang belum juga dapat kutuntaskan pastinya. Malu sebenarnya. Kecewa karena aku tak bisa menepati “janji” itu pada seseorang. Tapi apa mau dikata, yang terjadi terjadilah. Itulah jalan hidupku. Yang terkadang lurus, namun lebih sering berlikunya… Selama setahun ini, bayang itu terus dan selalu saja “menghantui”. Mungkin tak tepat bila sekedar kukatakan menghantui. Bayang-bayang ini bahkan membuatku gila.

Siapa sich kamu? Berani-beraninya ganggu. Sampai-sampai hadir juga ke dalam mimpi. Tak hanya sekali. Sepanjang ingatanku sudah lima kali kau datang ke sana tanpa permisi. Tatapannya yang teduh seolah ini adalah kenyataan. Mungkin ini yang dikatakan orang dengan mabuk kepayang. Rasanya bayangmu tak lagi sekedar alam mimpi. Sulit kubedakan antara imaji dan nyata saat sepertinya aku melihatmu dalam sepintas. Arrgghh…gerah rasanya. Khayalku semakin liar. Anganku terlalu jauh melayang. Tak kupijakkan lagi kakiku di atas bumi. Mengejar dirimu yang aku sendiri tak tahu siapa kamu. Logika sepertinya tak mampu lagi untuk berpikir sehat. Bayangmu begitu kuat mencengkram di alam bawah sadar. Begitu kuatnya merasuki detak jantung. Jantung yang terkadang berdegup begitu kencang tanpa suatu alasan yang pasti. Pikiranku dipenuhi akanmu. Mataku seakan selalu melihatmu. Dan hatiku, selalu berdetak lebih cepat saat pikiran dan penglihatanku tertutup karenamu. Jujur, aku senang dengan itu semua walau aku merasa tak lagi waras. Dan jujur, hingga detik ini aku tetap tak mengerti siapa kamu.

Posted on January 1, 2011, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: