Monthly Archives: January 2011

Mahasiswa dan Senandung Perubahan

Sebuah tulisan saya temukan setelah mengorek-ngorek kembali file lama yang tersimpan dengan cukup rapi di gadget ini. Tulisan ini merupakan tulisan pertama. Sebelumnya, tulisan ini pernah dimuat di majalah mini Sintaksis, terbitan lembaga dakwah di kampus. Berhubung lupa dicantumkan pada edisi keberapa, jadi dengan sangat terpaksa sekali mohon dilacak atau ditanyakan pada redaksinya saja hehe. Yang pasti, tulisan ini saya buat tiga tahun yang silam, Juli 2007. Dengan semangat aktivis –kalau saya boleh menyebutnya begitu– yang masih menyala-nyala, dan dukungan dari seorang teman bernama Wildan Taufiq, akhirnya saya memberanikan diri menarikan jari-jemari di atas tuts keyboard komputer. Berlatar belakang hal itulah yang memutuskan saya untuk menulis bertema mahasiswa. Dan saya pikir, tulisan tersebut masih cukup relevan untuk disajikan kembali. Akhir kata, selamat menikmati sajian yang saya suguhkan untuk Anda…


Dia terlahir dengan nama agent of social control. Mempunyai julukan beken sebagai agent of change. Awam lebih mengenalnya dengan nama mahasiswa. Dari sudut pandang ketatabahasaan, kata mahasiswa memiliki keistimewaan dengan adanya tambahan kata maha di depan kata siswa. Kata maha biasanya menggambarkan sesuatu yang melebihi super. Dan itu sangat lumrah untuk menggambarkan kekuasaan Sang Maha, yaitu Tuhan pencipta alam, Allah SWT, yang menggenggam langit dan bumi beserta seluruh unsur di dalamnya. Hal ini yang membuat mahasiswa menjadi unik, istimewa. Dengan keistimewaannya itulah maka seharusnya mahasiswa lebih mampu memberikan kontribusi terbaiknya bagi lingkungan sekitarnya. Di sisi yang lain, mahasiswa masih memiliki idealisme yang memuncak, sehingga mampu mendorong rasa ingin tahu yang lebih jauh. Keingintahuan tersebut pada akhirnya dapat membuahkan kemampuan analisa yang tajam. Lebih jauh, analisa tersebut akan mengantarkan mahasiswa ke dalam realitas sosial yang terjadi. Atas dasar inilah sehingga mahasiswa turut berpartisipasi terhadap perubahan dan selalu akan bersenandung perubahan.


Sejarah telah mencatat bahwa kemerdekaan Republik Indonesia tidak lepas dari campur tangan para mahasiswa. Mereka sudah bosan dan muak dengan tindakan para penjajah yang telah merenggut kekayaan serta membodohi rakyat dalam kurun waktu yang sangat lama. Sehingga dengan tekad yang bulat, Indonesia mampu bersatu dan terlepas dari belenggu penjajahan. Kembali sejarah mencatat bahwa satu dekade silam, mahasiswa dengan segenap kekuatannya, mampu menggulingkan sebuah rezim yang telah menguasai negara selama kurang lebih tiga dekade. Perubahan bukan slogan kosong yang datang dari atas, tetapi dari pengalaman berpolitik di akar rumput (Barack Obama).


Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa untuk melakukan perubahan tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun butuh proses panjang. Proses-proses inilah yang akan mengantarkan pada sebuah perubahan. Sebut saja Soe Hok Gie, salah satu tokoh perubahan dari kalangan mahasiswa, tidak serta merta berteriak tentang perubahan. Tetapi dari masa kecilnya Gie adalah orang yang kritis dan bukan termasuk golongan orang yang nrimo. Sekali lagi perubahan membutuhkan daya kritis, pertentangan dengan status quo, analitis, serta yang utama adalah kepekaan terhadap lingkungan sekitar.


Apa yang diutarakan di atas adalah sebuah idealitas atas mahasiswa sebagai tonggak perubahan, khususnya perubahan sosial. Namun apa yang terjadi kini?? Mahasiswa jauh dari nilai-nilai keidealitasannya. Mahasiswa sekarang cenderung memikirkan perut sendiri. Bagaimana mungkin bisa peka terhadap realitas! Mengasah daya kritis-analitis serta intelektualitas saja sudah setengah hati. Mereka cenderung berlaku hedonis, apatis, pragmatis, individualis, serta –is lainnya. Tidak ada lagi rasa kebersamaan. Tidak tertanam lagi kepedulian terhadap sesama. Tidak bermakna lagi nilai yang diberikan apabila semua mahasiswa berlaku demikian. Memang, diakui atau tidak, saat ini bangsa kita masih terjajah. Bukan penjajahan secara fisik yang kita alami. Akan tetapi bangsa pluralis ini kini dijajah oleh hegemoni ideologi dan dominasi budaya.


Lalu siapakah yang patut kita salahkan?? Kondisi? Peran perguruan tinggi dalam mencetak penerus bangsa sampai saat ini masih sebatas pengembangan kecerdasan intelijensia serta bagaimana kehidupan di dunia kerja sehingga kepekaan terhadap lingkungan masih terasa kurang. Namun hal itu dirasa wajar karena sistem kependidikan kita saja tidak peka terhadap kondisi riil masyarakat. Terbukti dengan melambungnya biaya untuk sekedar mendapat pendidikan. Dalam dunia kemahasiswaan, mungkin saja perlu dilakukan reformasi kurikulum sebagai manifestasi peran perguruan tinggi terhadap pembentukan dan pengembangan kepekaan sosial mahasiswa.

ilustrasi: http://taufik79.files.wordpress.com/2008/06/pendidikan.jpg

Pak Beye Berulah (Lagi)

Terus terang saya heran. Di tengah kasus mengambang tentang mafia pajak yang menyita perhatian publik, seorang presiden dari sebuah negeri yang katanya makmur kaya raya, malah mencari perhatian. Dan akhirnya, perhatian mereka pun beralih. Negeri itu dianggap oleh sebagian peneliti sebagai Atlantis, kota yang hilang. Kalau tak salah, orang memanggilnya dengan Pak Beye. Di depan para pejabat militer negeri itu, Pak Beye menyampaikan bahwa di tahunnya yang ketujuh menjadi presiden, belum ada kenaikan gaji. Banyak yang menilai pernyataan Pak Beye itu sebagai permintaan naik gaji. Tak salah juga menurut saya. Pernyataan itu terlalu multitafsir. Sehingga ada juga kalangan yang menganggap pernyataan tersebut sebagai curahan hati beliau. Anak muda zaman sekarang menyebutnya: curcol. Sedangkan orang-orang pendukung beliau mengatakan bahwa hal itu bukanlah keluh kesah, hanya menggambarkan saja, menunjukkan bahwa ia lebih mengutamakan rakyatnya.

Terlepas dari beberapa pandangan di atas, menurut data yang disajikan oleh salah satu majalah kelas dunia, gaji Pak Beye sekitar 62 juta. Dibandingakan dengan pendapatan per kapita negeri itu, Pak Beye semestinya bersyukur karena penghasilannya sangat jauh melebihi, hanya sekitar 28 kali. Dan menurut majalah itu lagi, ternyata kesenjangan yang terjadi antara penghasilan presiden dan pendapatan per kapita negerinya berada pada peringkat ketiga. Suatu prestasi yang patut dibanggakan. Pemimpin di negara berkembang –jika tidak mau disebut negara miskin– seperti Pak Beye mampu mengalahkan pemimpin-pemimpin di negara maju.

Dulu, Pak Beye –kalau tak salah– berkomitmen untuk memasang badan untuk memerangi korupsi akut yang menjangkiti negeri itu. Hal tersebut ibarat oase yang berada di tengah gurun pasir yang tandus. Namun, sekarang hal ini sepertinya hanyalah tong kosong berbunyi nyaring. Terbukti kasus-kasus seperti mafia hukum, mafia pajak, dan mafia bailout tak tertangani dengan baik. Dengan bantuan media, persoalan-persoalan tersebut akan tertutupi dan segera menguap dari ingatan. Lalu ketimpangan penghasilan sebesar 28 kali pendapatan per kapita negara, seolah-olah Pak Beye melegalkan korupsi, bukan malah memeranginya. Legal bukan dalam arti membolehkan atau memberikan payung hukum dalam berkorupsi, akan tetapi memberikan celah-celah yang sesuai dengan jalurnya. Karena korupsi yang saya pahami adalah sebuah penyimpangan.

Saya heran… dengan gaji sebesar itu, Pak Beye masih mengungkit tentang gajinya yang belum juga naik selama tujuh tahun. Padahal per kepala di negeri itu dibebani utang negara yang tidak sedikit. Penghasilannya yang 28 kali lipat lebih tinggi dari pendapatan per kapita negeri, tak juga menyadarakannya bahwa masih banyak rakyatnya yang menderita karena tak bisa makan dengan layak. Kesenjangan antara penghasilannya dan pendapatan per kapita negara berbanding lurus dengan kesenjangan sosial yang menghinggapi negeri itu. Penindasan terhadap buruh-buruh outsourcing oleh korporasi besar dan perusahaan multinasional mungkin tak pernah terlintas di benaknya. Ribuan anak-anak jalanan yang putus sekolah masih harus berpikir seribu kali untuk meneruskan cita-citanya. Ketika masih banyak polemik yang terjadi di negeri itu, Pak Beye hanya bernyanyi tentang rintihan hati. Saya pun heran ketika salah seorang teman saya mengatakan bahwa lagu ciptaan Pak Beye menjadi salah satu soal dalam ujian seleksi pejabat negara meski tanpa sepengetahuan Pak Beye. Saya semakin heran, sebenarnya Pak Beye ini ingin menjadi pemimpin negara atau pemimpin orkestra. Yang saya tidak heran, kisah Pak Beye ini terjadi di suatu negeri di mana moralitas tak lagi dianggap ada. Suatu negeri di mana para pejabat negaranya memperjualbelikan segalanya. Dan mudah-mudahan cerita ini tidak terjadi di negara saya tercinta, Indonesia.

ilustrasi:flickr.com

Masih Adakah Win-Win Solution? (Catatan Perpisahan Bag.2)



Sebagai pribadi, tentu kita mempunyai impian, cita-cita, serta angan-angan. Kita pun mempunyai pilihan-pilihan dalam menentukan jalan hidup masing-masing. Dan kita pasti punya apa yang disebut dengan kepentingan (pribadi). Begitu pula dengan mereka, pustakawan-pustakawan itu. Antara kepentingan orang yang satu dengan yang lain tentu saja akan berbeda. Nah, gesekan-gesekan kepentingan antar individu inilah yang sering menimbulkan sebuah konflik. Sebut saja konflik kepentingan.

Dari perjalananku selama hampir tiga tahun ini, konflik-konflik kepentingan ini selalu mewarnai hari-hari di perpusatakaan. Mulai antar pribadi hingga posisi struktural. Bahkan, “kasus” ini tak hanya terjadi di perpus kami. Antar divisi di kampus ini juga mengalami hal yang sama, clash di fakultas yang sama. Koordinasi dan komunikasi menjadi sesuatu yang sangat berharga di sini. Tapi yang aku herankan, clash tersebut seolah lenyap ketika ada sesuatu yang menguntungkan. Oportunis, mungkin bahasa yang tepat. Ya, lagi-lagi kepentingan (pribadi) menjadi biang keroknya.

Ditinjau dari sisi keorganisasian, tak ada job description yang jelas di antara kami. Sering dan selalu terjadi gap antara pustakawan dan kami mahasiswa part time. Sehingga sebagai pemegang posisi dilematis, apa yang kulakukan hanyalah sebatas apa yang bisa kulakukan saat itu (???). Inovasi serta penjaminan mutu pelayanan terbilang minim walau tersedianya fasilitas-fasilitas yang menunjang. Artinya, mereka sudah terlalu nyaman dengan rutinitas-rutinitas harian tanpa mempertimbangkan berbagai macam hal lainnya.

Oiya, pernah di satu rapat di hari-hari pertamaku menjadi “pejabat” dua tahun yang lalu, aku mengusulkan untuk mengadakan studi banding ke instansi lain dengan alasan peningkatan pelayanan… sekalian refreshing juga sih hehe. Tapi jujur, aku tersentak dengan jawaban yang diberikan. Hingga hari ini pun rencana tinggallah rencana yang tak berujung pangkal. Sebuah cita-cita yang utopis.

Ketidakjelasan job desc tadi berdampak sistemik (busyeet…sistemik, dah mirip kasus Gayus aja nih) pada ketimpangan kinerja dari masing-masing karyawan, termasuk kami. Ada yang sigap banget kayak pake energizer (batere yang ga abis-abis), ada yang males-malesan (ga jelas kerjaannya ngapain), dan ada juga yang omdo alias omong doang. Ujung-ujungnya kami yang jadi tumbal. Harus mem-back up.

Telah terjadi eksploitasi. Dengan tugas yang seabrek, sebagian besar ditimpakan pada kami. Dan yang paling kusesalkan adalah semua itu melalui aku, sang pimpinan rombongan. Dengan upah yang tak seberapa, kami harus menanggung tanggung jawab yang bukan sepenuhnya milik kami. Inilah nasib orang yang tak punya kuasa. Megawati sebut ini wong cilik. Ada yang menyebutnya kaum marjinal/ termarjinalkan, mustadh’afin, serta kaum papa. Namun dari ruangan itu, aku belajar untuk melihat keadaan di bawah kita. Aku bersyukur. Petugas cleaning service, atas penindasan outsourcing, mendapat upah yang lebih rendah daripada rata-rata penghasilan kami dengan jumlah hari kerja yang lebih sedikit.

Aku pun menyayangkan, di antara kita saja, mahasiswa part time, ketimpangan kinerja sangat mudah terlihat, kawan. Keaktifan seorang yang satu tak diimbangi dengan yang lain. Sibuk dengan urusan masing-masing. Kita tak lebih baik dari mereka, penguasa-penguasa itu. Kinerja yang baik dan loyalitas harus mengaku kalah pada sistem yang rapuh.

Tapi bukan… bukan itu yang ingin kusampaikan di sini, kawan. Sudah terlalu banyak kebobrokan yang terlihat. Aku hanya ingin memberikan beberapa pandanganku atas institusi ini. Mungkinkah masih ada win-win solution untuk kita semua? Bekerja bersama berdasar porsi masing-masing tanpa ada eksploitasi. Kebahagiaan bekerja tanpa adanya intimidasi. Karena ini hanyalah sebuah kontemplasi…Dan mungkin saja ini sekedar utopia belaka, tapi aku tak pernah berhenti berharap.

Sebagai catatan perpisahan… upss, jangan disangka aku mau resign loh ya (kalo yang itu belom siap hehe). Catatan ini ada karena sudah waktunya aku melepas label koordinator dan menyerahkannya pada jiwa-jiwa yang baru yang akan meneruskan. Sudah cukup bagiku untuk menjadi jembatan generasi. Lalu, anggap saja catatan ini sebagai semi laporan pertanggungjawabanku.

Oke, sebagai catatan perpisahan, aku ingin mengucapkan terima kasih pada kalian, “Perfecten” serta teman-teman perpuz_crew yang baru ataupun yang lama. Sebab, terlalu panjang dan banyak jika disebutkan satu persatu. Warna-warnimu menghiasi pelangi kehidupanku, kawan. Karena hidup tak sekedar hitam dan putih, teman. Oiya, buat catatan tambahan, di saat aku menulis bagian akhir catatan ini –dengan kebetulan yang sangat pas– diiringi Tentang Cinta-nya Ipang…”ingin ku melepas mu dengan pelukan…”. Ga penting banget ya hehe ^^v.

ilustrasi: http://img.fotocommunity.com



Masih Adakah Win-Win Solution? (Catatan Perpisahan Bag. I)



Tahun 2010 telah kita tinggalkan. Dan kini, kita sedang berada di titik awal 2011 untuk menyusuri setahun ke depan perjalanan hidup kita masing-masing. Artinya, ini merupakan tahun ketigaku di ruang ini (mudah-mudahan tahun terakhirku). Salah satu bagian kampus yang berisi tumpukan dan deretan buku. Ya itulah perpustakaan, tempatku bekerja paruh waktu. Sebenarnya sih belum sampai tiga tahun aku di sini. Dua setengah tahun tepatnya. Dalam hitungan waktuku yang tak lagi dapat dikatakan “anak baru”, sedikit banyak aku telah mengetahui dinamika dunia profesional.

Tahun 2008 di bulan Juni, pertama kalinya ku menjejakkan kaki di lantai perpustakaan sebagai seorang petugas. Layaknya seorang “pustakawan” sejati, aku akan mengerahkan segala daya dan upaya terbaikku untuk memajukan perpus (sebutan kami untuk perpustakaan) tercinta. Akan kudedikasikan serta kudarmabaktikan sebagian waktu ku untuk memberikan yang terbaik yang bisa aku raih. Becanda kok hehe. Jangan dianggap terlalu serius gitu,ah. Intinya, aku ingin melakukan sebisaku dan sebaik mungkin. Itu saja, tidak lebih. Di sana, di perpus itu, aku bertemu teman-teman baru walau sebagian dari mereka sudah kukenal sebelumnya. “Dia lagi, dia lagi…”, begitu pikirku. Jenuh juga ketemu orang yang sama (maaf, kawan…), aktif di organisasi kampus yang sama, dan kemudian harus berkecimpung di dunia perbukuan yang sama pula. Untuk beberapa hal, dunia memang dirasa terlalu sempit meski jauh lebih lebar dan luas dari selembar daun kelor. Itulah takdir, teman. Tak pernah disangka, tak pernah diduga sebelumnya. Tapi aku bersyukur. Setidaknya ada yang bisa mencairkan (atau bisa dijadikan bahan untuk mencairkan) suasana karena sifatku yang pendiam dan pemalu. Dan perlu diketahui, dari sekian banyak “pustakawan” baru, akulah yang paling rupawan (geer ngawang-ngawang…hehe).



Waktu yang begitu cepat berlalu seakan memerintahkanku ‘tuk berada pada tahap itu. Di awal Januari (bukan di kota Dili loh) tahun berikutnya, dalam rapat internal setiap bulannya, teman-teman “menghadiahiku” tampuk pimpinan sebagai koordinator mahasiswa part time karena ketampananku. Rupawan bukan berarti ganteng, tampan tak berarti elok. Nasib yang menuntunku layaknya raja yang berada di tengah-tengah para selirnya. Hufh…aku satu-satunya kaum adam yang diterima. Dan kurasa itulah alasan mereka menjerumuskanku, selain karena memang prestasiku yang cemerlang tentu saja…hehehe. Lucu, di saat Kartini dulu berjuang mengangkat derajat kaum perempuan demi kesetaraan gender, kesempatan itu ngga mereka manfaatkan. C’est dommage. Meminjam ungkapan teman, terkadang menjadi pemimpin itu sudah ditakdirkan (kalo ga salah sih). Hanya orang-orang yang siap yang bisa menerima tanggung jawab. Jangan pernah menolak dengan tantangan. Jangan pernah lari dari tanggung jawab. Dan akhirnya, terjebaklah aku di sini. Di dalam posisi yang kusebut dilema.



Tak kusia-siakan kesempatan itu ‘tuk belajar lebih banyak. Sebenarnya, dengan begini, aku lebih mudah mengenal karakter orang. Di samping itu, aku belajar tentang arti tanggung jawab. Banyak sekali yang bisa dipelajari di sini. Kemampuan analisisku juga semakin terasah. Melihat situasi “medan perang” serta penerapan langkah-langkah strategis yang diperlukan. Hal yang tak kusukai dari itu semua, aku tidak bisa leluasa memikirkan kepentinganku sendiri. Mau tidak mau, keinginan pribadi harus kukorbankan. Aku sadar, di saat seperti ini, aku bukanlah milik sebagian orang. Aku sudah menjadi milik semua rekan ku dan juga “properti” perpus. Bahkan, aku tak lagi milik aku sendiri. Singkirkan ego, ciptakan keselarasan. Hingga pada akhirnya, kucurahkan tenaga, waktu, dan pikiran demi sebuah nama: loyalitas. Pernah terjadi di suatu hari (malah sering) di mana aku ngga ada jadwal piket, tapi harus membantu di sana karena kurangnya personil. Aku sendiri ngga tau kenapa kulakukan itu, juga alasan ke tempat itu. Anggap saja panggilan hati. Ketika hati menuntun langkah. Sayang, dari yang selama ini kuperhatikan, semangat ini tak dirasakan oleh lingkungan di sekitarku. Oleh teman-temanku, bahkan oleh pustakawan itu sendiri. Itulah kenapa posisi ini – koordinator part time – kukatakan sebagai sebuah dilema.


Tak Ada Judul



Yogyakarta, 3 Januari 2011



Hari ini merupakan hari ketiga di tahun yang baru, 2011. Hujan deras menemani. Menghabiskan waktu di perpusatakaan kampus sudah bukan menjadi hal yang baru bagiku. Jangan salah sangka, aku tidak membunuh waktuku dengan membaca salah satu atau dua buku yang berderet dan berbaris rapi di sana. Aku hanya mencoba berinteraksi dengan rekan sejawat di dunia maya (chatting – red) melalui fasilitas yang disediakan kampus. Mumpung gratis. Sebuah prinsip ga mau rugi oleh seorang mahasiswa ekonomi yang meresapi ilmu ekonomi yang didapatnya di bangku kuliah. Di tengah perbincanganku (melalui facebook chat tentu saja), seorang teman memintaku dengan penuh harap dan berlutut serta binar air mata (maaf…terlalu lebay) untuk menulis di blog milik organisasi yang mempertemukanku dengan teman tersebut. Ku bertanya padanya tentang ragam tulisan yang akan kuberikan. Ternyata, curcol (curhat colongan) pun ia bolehkan. Katanya, ini untuk memancing teman-teman kader agar aktif menulis. Kader? Sebutan untuk anggota HMI, spesifik lagi HMI Komisariat FE UII. Sudah lama ku ingin menulis sesuatu tentang organisasi ini. Mungkin saja ini merupakan saat yang tepat.



HMI, sebuah singkatan dari Himpunan Mahasiswa Islam, organisasi yang aku tekuni sejak kurang lebih lima tahun yang lalu. Bermula dari spanduk Training Perbankan Syariah (saat itu belum banyak yang mengadakan kegiatan sejenis) yang terpampang di pagar depan kampus. Di bagian kiri spanduk itu bercokol sebuah lambang berbentuk perisai berwarna hijau-hitam dengan bulan sabit dan bintang serta tulisan yang berwarna putih. Singkat cerita, “terjebaklah” aku di dalam organisasi tersebut. Tidak ada ajakan ataupun paksaan sebenarnya, namun di antara beberapa pilihan organisasi aku lebih condong ke situ. Karena masa-masa itu ada isu-isu di beberapa organisasi kampus yang ga sreg di hati. Tapi tidak dengan organisasi ini. Hmm… setidaknya belum sampai ke telinga ku.



Banyak liku dalam kehidupanku berorganisasi. Saat pertama menjadi kader, sering timbul dan tenggelam dalam kegiatan sudah menjadi makanan sehari-hari. Boleh dikata aku adalah kader yang tidak aktif. Sedikit malu sebenarnya untuk dituliskan dan dibagi kepada teman-teman semua. Tapi itulah makna dari sebuah proses. Apa sebenarnya yang ingin kutulis? Rasa-rasanya kok aku curhat di tempat yang tak tepat. Bukanlah curhat semata yang ingin kubagikan untuk teman-teman semua. Tapi, mudah-mudahan tulisan ini dapat menginspirasi siapapun yang membacanya, khususnya adik-adikku yang saat ini sedang berproses di dalam dinamika hijau hitam ini.

Kalau boleh jujur, aku adalah orang yang pemalu dan pendiam. Teringat di hari-hari terakhir Latihan Kader I. Ketika itu aku diberi kesempatan untuk melakukan kultum selepas ibadah maghrib. Mungkin para pemandu “melihat” bakatku untuk tidur dan diam selama pelatihan dilaksanakan. Aku yang tak terbiasa berbicara di depan umum, cuma bisa cengar-cengir atau malah ketawa sendiri. Kalaupun ngomong, hasilnya ngalor ngidul doank. Ga jelas apa inti permasalahan yang ingin kubicarakan. Tapi di sanalah aku belajar bicara di depan publik (walau cuma beberapa orang sudah pantas disebut publik hehehe), di “rumah kita” aku belajar menganalisa. Analisa khas mahasiswa yang lebih cenderung beropini. Di situlah, di komisariat, aku bertemu orang-orang hebat. Tempatku untuk bersosialisasi serta mengeluarkan pendapat. Dan yang pasti merupakan tempat bagiku untuk belajar kehidupan.



Ahmad Dahlan pernah berkata, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Ungkapan tersebut sangat pantas untuk diterapkan di komisariat kita. Seniorku dulu juga pernah berkata demikian. Memang ga ada untung kalo mencari kehidupan di komisariat, yang ada malah buntung. Akan tetapi, jadikan dinamika di komisariat sebagai pembelajaran dan yakin suatu saat akan bermanfaat. Yakin usaha sampai. Saat ini, meski belum keluar dari kampus, aku merasakan betul tempaan dari komisariat. Sama seperti dulu, apa yang sedang kubicarakan (kali ini ditulis) tak pernah menyentuh inti. Tetap ngalor ngidul. Tapi ada yang berbeda. Kali ini, tulisanku sudah melebihi 500 kata dalam waktu yang relatif singkat. Sadarilah, inilah manfaat dari sekelumit masalah dalam berdinamika di komisariat. Dan kembali ke konteks tulis menulis (khususnya di blog), dunia kepenulisan bagiku merupakan media beraktualisasi diri (bukan Media Arief Rizqi loh), tempatku menuangkan ide bahkan curahan hati. Jadi jangan takut untuk memulai. Jangan khawatir mengenai tata bahasa yang rumit. Jangan khawatir untuk dikritik. Menulislah sekarang! Biarkan “pena”mu bebas menari!