Monthly Archives: November 2010

Air Mata yang Tak Pernah Jatuh

Maria…
Akhirnya Tuhan pun memanggilmu

Maria…
Hati pilu memandang potretmu
Tiada lagi senyummu, tiada lagi tawamu

Tiada candamu seperti yang dulu

Oh Maria…

Tak pernah terlintas dalam benak bahwa lagu yang sempat dipopulerkan oleh Julius Sitanggang ini akan menjadi sebuah kenangan. Lagu yang kau kenalkan padaku menjadi lagu perpisahan di antara kita…

Kira-kira setahun yang lalu kau datang bersama teman-temanmu memperkenalkan diri di ruangan pertemuan itu. Dari titik itulah pertemanan kita pun bermula. Aku yang saat itu “membawahi” teman-teman mahasiswa yang bekerja paruh waktu di gedung penuh buku pun memperkenalkan diri dan teman-teman yang “terjebak” di sana terlebih dahulu. Berbekal pendidikan keluarga dari organisasi tempat aku mengaktualisasikan diri, kucoba untuk tak menganggap kau dan teman-teman yang lain sebagai saingan, apalagi musuh. Tetapi akan kuanggap sebagai partner, bahkan akan kuciptakan kondisi kekeluargaan di tengah lingkungan yang sarat akan persaingan dan egoisme.

Waktu terasa merangkak. Detik hingga menit yang berlalu dirasa amat lambat di awal-awal interaksi itu. Namun ia berjalan begitu cepat ketika tembok-tembok kekakuan mulai runtuh. Hingga hitungan bulan pun telah terlampaui. Kegiatan jalan-jalan serta wisata kuliner pun menjadi sebuah rutinitas. Senyum, tawa sudah mulai menghias di antara kita semua. Saling lempar bahan ejekan juga sudah menjadi hal yang biasa. Namun di hari pengukuhanmu menjadi sarjana, kudengar kau kembali sakit hingga harus segera kembali ke rumahmu di sana yang berjarak kurang lebih 60 kilometer jauhnya. Sebelumnya kau memang sempat jatuh sakit. Sakit yang biasa saja kukira…pada awalnya. Tak kunjung membaik dalam waktu yang lama, cemas mulai menghampiri. Aku dan beberapa teman lainnya sepakat untuk menjengukmu di sana. Tapi sangat disayangkan, tanggung jawab pada tempat kerjaku tak bisa kutinggalkan. Hanya salam yang dapat kusampaikan dari kota ini.

Tak lama kemudian, kabar tak sedap itu mulai berhembus. Kata mereka, kau divonis mengidap tumor paru. Masih simpang siur memang. Aku ragu. Untuk memastikannya, aku pun berniat menjengukmu di hari yang lain. Sebelum niat itu tertuntaskan, takdir ternyata berkata lain. Tak lama setelahnya kau pun dilarikan ke salah satu rumah sakit di Yogya. Vonis itu benar adanya, meski belum pasti itu apa, tapi ada sesuatu di sekitar paru-parumu yang membuat kau kesulitan bernapas.

Tiga minggu lebih lamanya kau dirawat. Uluran tangan teman, sahabat, serta dermawan menunjukkan begitu besar perhatian mereka kepadamu. Begitu beruntungnya kau memiliki orang-orang seperti mereka di sekelilingmu. Mungkinkah aku kan mendapat hal yang sama bila aku ada pada posisimu, kawan? Begitu aku merenung. Meski tak seperti mereka, aku berusaha semampuku. Ketika medis mulai “menembak”mu (istilah medisnya dilaser), optimisme mulai tampak. Kesehatanmu berangsur membaik hingga kau pun diperbolehkan pulang. Di akhir bulan September selepas Lebaran, aku bersama empat orang teman datang ke rumahmu sebagai tanda silaturahmi. Meski canda serta tawa terlihat darimu sesekali, kau sempat mengeluhkan rasa mual yang kau alami. Mungkin bagiku itu hal yang biasa sebagai efek samping dari terapi yang kau jalani. Tapi ternyata itu terakhir kalinya untuk kita bertemu muka. Di pertengahan hari Jum’at itu, Tuhan memanggilmu. Dia mengambilmu kembali. Mendengar berita duka itu, aku pun bergegas untuk “menjenguk”mu yang terakhir. Sesampaiku di sana setelah bertemu dengan ibumu, aku pun melihat tubuh terbujur kaku yang sedang ditutupi kain bercorak. Sedikit tidak percaya bahwa tubuh itu adalah kamu, Fandi Setiawan. Mitra kerjaku, teman jalan-jalanku, sesekali menjadi lawan tanding badminton, dan juga salah satu customer-ku. Melihatmu memejamkan mata seperti layaknya orang tidur membuat hatiku bersedih, namun mata ini tetaplah kering. Air mata itu tak pernah terjatuh, meski hati ini meringis.

Seperti mendengar suara bahwa inilah yang terbaik bagimu. Terbaik bagi kita semua. Saat melihatmu dengan mata terpejam itu, aku pun sadar kalau kau sedang menahan sakit yang luar biasa. Wajah yang dulu penuh senyum, tak lagi terlihat saat itu. Aku tau kau takkan lagi sanggup membaca apa yang sedang kutulis kali ini. Tapi inilah yang terjadi pada kita dalam waktu yang begitu singkatnya. Goresan pada lembar kehidupan kita masing-masing. Kehidupan yang telah usai kau jalani di sini, di bumi ini. Suatu saat aku pun akan menyusulmu menghadap-Nya. Itulah lingkaran kehidupan (kalo kata Elton John, Circle of Life). Namun bagi kami, teman-temanmu, kau tetaplah hidup dalam memori. Karena ada dan tiada bukanlah bersifat materiil semata. Itu yang kuyakini. Sudah pasti kami akan merindukan kamu, si baju biru kotak-kotak, salah satu anggota trio kwek-kwek di perpustakaan kami. Mimpi indahlah kau dalam tidur panjangmu. Suatu saat nanti mudah-mudahan kita akan bertemu kembali. Bila saat itu tiba, aku berharap kau tidak melupakan siapa aku. Dan seandainya bisa, aku ingin kau bercerita tentang kehidupan di atas sana. Kehidupan ideal yang selalu kita impikan. Selamat jalan, kawan. Selamat Jalan. Au revoir!