Monthly Archives: October 2010

Takkan Lagi


Saat ini entah kenapa hatiku begitu gelisah. Hmmm…sebenarnya sudah sejak lama juga kurasakan hal yang seperti ini. Mungkinkah stres akibat tugas akhir yang tak kunjung rampung menjadi penyebabnya ? Je ne sais pas. Terus terang saja aku tak tau. Dan aku ingin sekali beristirahat. Sebentaaar saja. Biasanya sih rasa galau itu kusingkirkan dengan bermain gitar sambil mendendangkan lagu syahdu. Hari ini aku mau yang beda. Rasa-rasanya aku hanya ingin melepaskan rasa gelisah yang tak menentu ini dengan menulisnya. Tapi menulis apa? Otak ini sudah terlalu letih untuk berpikir terlalu keras. Tangan ini pun sudah tak mampu lagi tuk berdansa di atas keyboard.

Aaarggghh…ingin rasanya kembali ke masa anak-anak dahulu, mungkin lebih tepatnya balita. Masa yang begitu indah. Tidak mengenal kata “sedih” dalam kamus anak-anak. Semua terasa begitu menyenangkan. Dunia begitu indah beserta pernak-perniknya. Seperti taman bermain. Ya, dunia ini dahulu adalah taman bermain. Tak pernah sibuk memikirkan intrik politik sana-sini. Tak pernah pusing memikirkan beban-beban kehidupan, harga kebutuhan pokok yang terus melambung, biaya sekolah yang mendaki, serta tak pernah membedakan mana kawan mana lawan. Semua adalah teman. Semua adalah sahabat. Bila lapar, kita hanya perlu “berpolitik” sedikit dengan menitikkan air mata dibarengi raungan. Kalau masih tidak diperhatikan juga, biasanya kita akan meronta lebih keras hingga keinginan kita tercapai. Tak ada rasa putus asa… Ya, aku tau akhirnya apa yang harus aku tulis.

Teringat perkataan salah seorang professeur-ku. “Dari 64 juta warga Perancis, yang bisa berbahasa Perancis sebesar 64 juta.” Kira-kira seperti itu bahasanya. Aku sedikit lupa tepatnya. Maksudnya apa? Berarti tidak ada satu pun orang Perancis yang tidak bisa berbahasa Perancis begitu? Ya jelas dong mereka semua sudah pasti bisa berbahasa Perancis. Tidak ada yang aneh dengan pernyataan professeur tersebut. Aku pun mengiyakan. Tapi maksudya begini, kawan… Jika semua bisa berbahasa Perancis, berarti seorang balita yang baru bisa ngomong pun termasuk di dalamnya. Bisa berbahsa Perancis juga. Inilah poin pentingnya dari perbincangan ini.

Di usia yang bukan lagi anak-anak ini, kita sebagai orang dewasa sering melupakan bagaimana menjadi anak-anak. Bukan tingkah laku ataupun pola pikir anak-anak yang seperti biasa. Akan tetapi lihatlah sisi lain perilaku mereka.

Sebagaimana anak yang baru belajar ngomong, maka tatkala ia diajak bicara oleh orangtuanya, ia akan diam. Diam bukan berarti cuek. Diam bukan berarti pula masa bodoh. Sesungguhnya ia sedang mendengarkan. Diam untuk memperhatikan. Lalu berusaha untuk mengulangnya. Coba lagi dan terus saja mencoba. Tak kenal lelah dengan semangat yang begitu menyala. Ketika sudah mulai bersosialisasi, anak kecil cenderung lebih terbuka bermain dengan siapa saja. Tak pilih-pilih. Biasanya juga orang tua yang selalu melarang untuk main dengan si ini atau si itu. Kalaupun dalam bermain ada yang tersakiti, mereka mudah sekali untuk memaafkan. Maaf tanpa syarat. Maaf yang tulus.

Jujur aku malu pada diriku saat ini. Ketika dewasa, semua mendadak hilang ditelan bumi. Aku lebih mengandalkan logika berpikirku dalam segala hal. Kemudian aku lebih banyak berargumen menunjukkan kepintaran serta egoku ketimbang mendengar pendapat orang lain. Merasa hebat jika argumenku mampu mematahkan argumen lawan bicara. Menurutku sih sah-sah saja. Toh kita sebagai manusia juga butuh penghargaan dari orang lain. Kita semua butuh diperhatikan. Maslow pun membenarkan hal itu. Tapi, kita tidak diciptakan dengan dua mulut, melainkan dua telinga. Aku juga tak lagi bermental baja seperti dulu. Gampang berputus asa. Tak lagi mau berusaha dan terus selalu berusaha. Hasil yang terbaik menjadi orientasi walau mengorbankan nilai etis dan estetisnya, bukan usaha keras yang kulakukan. Kerut-kerut di wajah mulai nampak sembari menyalahkan keadaan dalam setiap situasi yang tak sejalan sesuai dengan keinginan. Inilah aku sekarang. Tak mudah memaafkan orang yang pernah berbuat tak menyenangkan terhadapku. Kalaupun iya, beribu syarat kuajukan demi melontarkan kata maaf. Aku tak pernah lagi mengenal ketulusan. Sistem barter menjadi pedomanku saat ini. Bahkan dalam cinta sekalipun. Aku akan meminta balasan dari apa yang aku lakukan selama ini. Aku menyerah pada kehidupan. Aku tak lagi bisa menikmati “permainan” di dunia ini.

Aku rindu dengan aku yang dulu. Aku yang selalu mendengar sebelum berkomentar. Aku yang selalu bangkit walau jatuh berkali-kali. Aku yang terus berjalan walau tertatih. Aku yang selalu mencintai sekelilingku dengan setulus hati. Andai saja waktu dapat kuputar kembali. Tapi aku beruntung sempat mengingat kembali kenangan-kenangan masa kecil dulu. Suatu pelajaran berharga untukku. Takkan lagi kulupakan… Ya, takkan pernah lagi.