Dari Dansa hingga Musik Jazz (Bagian II)

akhirnya tulisan ini terselesaikan juga…

Senja terbenam berganti malam. Sepertinya istirahat sebentar tak juga cukup. Encok, pegel, linu, nyeri otot, nyeri sendi tetap terasa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kami pun menghadiri undangan di salah satu hotel megah di bagian Semarang atas. Karena tak tau tempat yang dituju, akhirnya kami menyewa taksi. Kalau kata temen, ini namanya backpacker elit. Gak lucu juga kan musti jalan kaki berkilo-kilometer pake batik. Setibanya di sana, meski wajah terlihat letih, namun kemeriahan sebuah pesta tetap membuat keceriaan bagi kami, setidaknya sih bagiku. Pesta yang demikian megah itu diramu dengan perpaduan dua kebudayaan. Budaya Barat dan Timur. Kolaborasi yang menarik. Suatu hal yang sangat baru bagiku. Tak ada pelaminan pengantin di sana. Yang ada hanyalah meja-meja bundar yang disiapkan untuk keluarga dan tamu undangan.

Dan berbeda dengan pesta pernikahan yang selama ini kudatangi, tak ada bunyi gamelan yang mengiringi perjalanan sang pengantin. Sesaat sebelum pengantin datang, berdirilah seseorang yang mengatasnamakan keluarga mengucapkan selamat datang pada para tamu undangan. Perhatian kami semua tertuju ke atas panggung. Mulanya kami respek dengan beliau. Namun yang membuat rasa hormatku mulai hilang ketika beliau memberikan “perintah-perintah” seperti di seminar motivasi. Sudah badan capek, mata ngantuk, terus kaki pegal-pegal malah dikasih kayak begituan. Engga mutu banget. Untung saja kedatangan pengantin kembali memeriahkan suasana. Dengan menggunakan bahasa Perancis yang fasih, pengantin pria menceritakan awal pertemuan dengan pujaan hati yang kini berada di sampingnya. Terlihat keren aku bisa bahasa Perancis, kan!? Bahasa Perancisku sih ga bagus-bagus amat. Jadi ngertinya juga karena diterjemahin. Paling-paling cuma “bonjour” yang hafal di luar kepala

Pesta yang sangat meriah… Satu hal lagi yang tak mungkin ada di setiap undangan pernikahan biasa adalah pesta dansa. Aku pun berkesempatan berdansa. Kikuk juga sih. Maklumlah pertama kalinya seumur hidup buat dansa yang begituan. Ke kiri dan kanan derap langkah, kupastikan gerakan seluwes mungkin. Tapi tetap saja bagaikan robot, kaku. Terlihat di sekelilingku, banyak pasangan baik tua maupun muda yang sudah sangat lihai berdansa, berputar, bahkan berpelukan hingga berciuman. Untuk digarisbawahi, mereka yang berciuman merupakan tamu yang jauh-jauh datang dari belahan bumi bagian barat sono. Kalau bangsa kita sih masih menganggap hal yang seperti itu bertolak belakang dengan adat ketimuran.

Ternyata acara tidak berhenti sampai di situ. Selesai acara di ballroom hotel megah tersebut, acara dilanjutkan di kamar super mewah yang memiliki balkon sendiri. Meski badan sudah amat sangat capek, kami putuskan untuk bergabung di sana. Menghormati yang punya hajat, walau sebenarnya memang kepingin. Pesta benar-benar tidak berhenti sampai di sana. Di ruang itu, masih terdapat banyak jamuan. Untuk pertama kalinya aku merasakan minuman khas orang barat sono, wine. Kalau kata Bang Haji Roma, engga akan diminum walau setetes. Aku justru seteguk (ya Tuhan,,,ampunilah hamba-Mu ini). Hoek,,,rasanya pahit. Ga enak. Tapi memang cocok untuk menghangatkan tubuh jika musim dingin tiba. Aku juga disuguhi potongan-potongan keju. Rasanya jauh beda dengan keju-keju di sini. Cita rasanya lebih tajam. Aku tidak suka, dan memang pada dasarnya tidak suka keju mentah. Malam pun kian larut. Mata pun semakin tak tertahankan. Kami berpamitan untuk segera kembali ke penginapan.

Pagi hari setelah berkemas, kami berangkat ke kawasan Kota Lama. Naik taksi lagi, huft. Menjelajahi Kota Lama yang tergenang akibat dari hujan semalam. Eksotikanya masih tetap terjaga. Serasa hidup di jaman Belanda dulu. Sayangnya, sistem drainase yang kurang baik, menimbulkan kesan kumuh kota itu. Menjelang pulang ke tanah air Yogyakarta, kami menyempatkan diri ke Bandeng Presto Juanda dan mengunjungi mall termegah di Semarang. Paragon namanya. Tak disangka tak dinyana, sesampainya di Paragon, aku melihat sosok yang tak lagi asing bagiku. Jantung berdegup lebih keras. Aku gugup. Berharap tidak pernah bertemu dengannya di Semarang, setidaknya tidak bersama teman-temanku. Namun itulah takdir. Tak ada yang menyangka momen itu akan terjadi. Dengan perasaan dongkol, aku menarik ujung-ujung bibir untuk tersenyum padanya, menunjukkan semua baik-baik saja. Tapi aku melihat kondisi yang sama padanya (mungkin saja). Dia bertingkah sedikit aneh. Paling tidak tatapannya seolah berbicara begitu. Aku pun mengalihkan pandangan, khawatir tatapan itu akan berdialog (hehe lebay dikit).

Kami makan siang di sana sembari menunggu teman kami beserta teman-temannya. Namun sayang, sampai waktu yang mendesak, tak juga kami bertemu dengan mereka. Sekali lagi, itulah takdir. Momen yang terencana sekalipun ternyata tak dapat terlaksana. Kami pun segera berangkat menuju pemberhentian minibus. Namun karena kami sudah terlambat, akhirnya kami berpisah jadi dua bagian. Taruna dan Ihsan kembali ke Paragon bertemu dengan teman kami tadi. Ucup dan aku terus menuju tempat mangkalnya bis. Diantar salah seorang teman yang kebetulan ketemu di Paragon, kami pun segera bersiap berangkat menuju Jogja karena malam itu aku berniat menonton konser musik jazz yang di meriahkan oleh Marcell dan Glenn Fredly. Dua musisi favoritku.

Sesampainya di Jogja, Terminal Jombor tepatnya, kami harus ngambil motor di Stasiun Tugu. Perjalanan yang tak semulus yang kukira. Sialnya kami musti berlama-lama di Transjogja hanya untuk sampai di Stasiun Tugu. Setelah sampai dan pulang ke rumah sebentar meletakkan barang dan oleh-oleh, aku langsung pergi menuju tempat konser diadakan. Sudah terlambat dari jam yang ditentukan. Aku harus buru-buru. Wajah lusuh mengkilat serta badan yang kuyu ditambah naga-naga di dalam perut pun sudah meronta. Itu semua tak kuhiraukan. Dengan semangat 45, tekadku untuk nonton konser harus kuperjuangkan. Tapi memang dasar…aku kesal. Acara belum dimulai. Ah, sial.

Beginilah akhir episode perjalananku dua hari itu. “Akhir Cerita Cinta” kalau kata Glenn. Two days trip yang, kalau kata Marcell, “Takkan Terganti”.

Posted on September 27, 2010, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: