Monthly Archives: September 2010

Dari Dansa hingga Musik Jazz (Bagian II)

akhirnya tulisan ini terselesaikan juga…

Senja terbenam berganti malam. Sepertinya istirahat sebentar tak juga cukup. Encok, pegel, linu, nyeri otot, nyeri sendi tetap terasa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kami pun menghadiri undangan di salah satu hotel megah di bagian Semarang atas. Karena tak tau tempat yang dituju, akhirnya kami menyewa taksi. Kalau kata temen, ini namanya backpacker elit. Gak lucu juga kan musti jalan kaki berkilo-kilometer pake batik. Setibanya di sana, meski wajah terlihat letih, namun kemeriahan sebuah pesta tetap membuat keceriaan bagi kami, setidaknya sih bagiku. Pesta yang demikian megah itu diramu dengan perpaduan dua kebudayaan. Budaya Barat dan Timur. Kolaborasi yang menarik. Suatu hal yang sangat baru bagiku. Tak ada pelaminan pengantin di sana. Yang ada hanyalah meja-meja bundar yang disiapkan untuk keluarga dan tamu undangan.

Dan berbeda dengan pesta pernikahan yang selama ini kudatangi, tak ada bunyi gamelan yang mengiringi perjalanan sang pengantin. Sesaat sebelum pengantin datang, berdirilah seseorang yang mengatasnamakan keluarga mengucapkan selamat datang pada para tamu undangan. Perhatian kami semua tertuju ke atas panggung. Mulanya kami respek dengan beliau. Namun yang membuat rasa hormatku mulai hilang ketika beliau memberikan “perintah-perintah” seperti di seminar motivasi. Sudah badan capek, mata ngantuk, terus kaki pegal-pegal malah dikasih kayak begituan. Engga mutu banget. Untung saja kedatangan pengantin kembali memeriahkan suasana. Dengan menggunakan bahasa Perancis yang fasih, pengantin pria menceritakan awal pertemuan dengan pujaan hati yang kini berada di sampingnya. Terlihat keren aku bisa bahasa Perancis, kan!? Bahasa Perancisku sih ga bagus-bagus amat. Jadi ngertinya juga karena diterjemahin. Paling-paling cuma “bonjour” yang hafal di luar kepala

Pesta yang sangat meriah… Satu hal lagi yang tak mungkin ada di setiap undangan pernikahan biasa adalah pesta dansa. Aku pun berkesempatan berdansa. Kikuk juga sih. Maklumlah pertama kalinya seumur hidup buat dansa yang begituan. Ke kiri dan kanan derap langkah, kupastikan gerakan seluwes mungkin. Tapi tetap saja bagaikan robot, kaku. Terlihat di sekelilingku, banyak pasangan baik tua maupun muda yang sudah sangat lihai berdansa, berputar, bahkan berpelukan hingga berciuman. Untuk digarisbawahi, mereka yang berciuman merupakan tamu yang jauh-jauh datang dari belahan bumi bagian barat sono. Kalau bangsa kita sih masih menganggap hal yang seperti itu bertolak belakang dengan adat ketimuran.

Ternyata acara tidak berhenti sampai di situ. Selesai acara di ballroom hotel megah tersebut, acara dilanjutkan di kamar super mewah yang memiliki balkon sendiri. Meski badan sudah amat sangat capek, kami putuskan untuk bergabung di sana. Menghormati yang punya hajat, walau sebenarnya memang kepingin. Pesta benar-benar tidak berhenti sampai di sana. Di ruang itu, masih terdapat banyak jamuan. Untuk pertama kalinya aku merasakan minuman khas orang barat sono, wine. Kalau kata Bang Haji Roma, engga akan diminum walau setetes. Aku justru seteguk (ya Tuhan,,,ampunilah hamba-Mu ini). Hoek,,,rasanya pahit. Ga enak. Tapi memang cocok untuk menghangatkan tubuh jika musim dingin tiba. Aku juga disuguhi potongan-potongan keju. Rasanya jauh beda dengan keju-keju di sini. Cita rasanya lebih tajam. Aku tidak suka, dan memang pada dasarnya tidak suka keju mentah. Malam pun kian larut. Mata pun semakin tak tertahankan. Kami berpamitan untuk segera kembali ke penginapan.

Pagi hari setelah berkemas, kami berangkat ke kawasan Kota Lama. Naik taksi lagi, huft. Menjelajahi Kota Lama yang tergenang akibat dari hujan semalam. Eksotikanya masih tetap terjaga. Serasa hidup di jaman Belanda dulu. Sayangnya, sistem drainase yang kurang baik, menimbulkan kesan kumuh kota itu. Menjelang pulang ke tanah air Yogyakarta, kami menyempatkan diri ke Bandeng Presto Juanda dan mengunjungi mall termegah di Semarang. Paragon namanya. Tak disangka tak dinyana, sesampainya di Paragon, aku melihat sosok yang tak lagi asing bagiku. Jantung berdegup lebih keras. Aku gugup. Berharap tidak pernah bertemu dengannya di Semarang, setidaknya tidak bersama teman-temanku. Namun itulah takdir. Tak ada yang menyangka momen itu akan terjadi. Dengan perasaan dongkol, aku menarik ujung-ujung bibir untuk tersenyum padanya, menunjukkan semua baik-baik saja. Tapi aku melihat kondisi yang sama padanya (mungkin saja). Dia bertingkah sedikit aneh. Paling tidak tatapannya seolah berbicara begitu. Aku pun mengalihkan pandangan, khawatir tatapan itu akan berdialog (hehe lebay dikit).

Kami makan siang di sana sembari menunggu teman kami beserta teman-temannya. Namun sayang, sampai waktu yang mendesak, tak juga kami bertemu dengan mereka. Sekali lagi, itulah takdir. Momen yang terencana sekalipun ternyata tak dapat terlaksana. Kami pun segera berangkat menuju pemberhentian minibus. Namun karena kami sudah terlambat, akhirnya kami berpisah jadi dua bagian. Taruna dan Ihsan kembali ke Paragon bertemu dengan teman kami tadi. Ucup dan aku terus menuju tempat mangkalnya bis. Diantar salah seorang teman yang kebetulan ketemu di Paragon, kami pun segera bersiap berangkat menuju Jogja karena malam itu aku berniat menonton konser musik jazz yang di meriahkan oleh Marcell dan Glenn Fredly. Dua musisi favoritku.

Sesampainya di Jogja, Terminal Jombor tepatnya, kami harus ngambil motor di Stasiun Tugu. Perjalanan yang tak semulus yang kukira. Sialnya kami musti berlama-lama di Transjogja hanya untuk sampai di Stasiun Tugu. Setelah sampai dan pulang ke rumah sebentar meletakkan barang dan oleh-oleh, aku langsung pergi menuju tempat konser diadakan. Sudah terlambat dari jam yang ditentukan. Aku harus buru-buru. Wajah lusuh mengkilat serta badan yang kuyu ditambah naga-naga di dalam perut pun sudah meronta. Itu semua tak kuhiraukan. Dengan semangat 45, tekadku untuk nonton konser harus kuperjuangkan. Tapi memang dasar…aku kesal. Acara belum dimulai. Ah, sial.

Beginilah akhir episode perjalananku dua hari itu. “Akhir Cerita Cinta” kalau kata Glenn. Two days trip yang, kalau kata Marcell, “Takkan Terganti”.

Tatapanmu Mengisyaratkan Sesuatu

Ada yang bilang kalau mata adalah jendela dunia. Mata sebagai gerbang cakrawala. Dengan mata, kita dapat melihat segala keindahan dunia. Dan melalui mata pula, kita dapat menelusuri dalamnya hati seseorang. Bukan sulap,,,bukan sihir hehehe.

Mungkin masih banyak “misteri” di balik tatapan mata seseorang. Tapi untuk sementara waktu, sedikit tulisan ini bisa membantu. Hasil dari browsing dari mbah Google. Check this out..!!

  • Pandangan mata ke kiri atas : mengungkapkan apa yang sedang tergambar dalam memorinya (pengalaman di masa yang lalu)
  • Pandangan mata ke kanan atas : sedang menyusun ilustrasi dalam memorinya, merekayasa atau mengarang sesuatu (imajinasi)
  • Pandangan mata ke kiri bawah : mendengar suara hatinya dan berusaha menjawab sendiri isi jiwanya (berdialog dengan diri sendiri)
  • Pandangan mata ke kanan bawah : menceritakan emosi dan perasaan jiwanya, ada juga yang mengatakan sinkronisasi perasaan pada apa yang dilihat/ didengar
  • Pandangan mata langsung dan terus-terusan : agresif, setidaknya cikal bakal tindakan agresif
  • Pandangan mata langsung, namun malu-malu untuk melihat secara full : ada ketertarikan pada lawan bicara
  • Menghindar dari tatapan langsung (tanpa buang muka) : sedang menyembunyikan sesuatu
  • Menghindar dari tatapan langsung (dengan buang muka) : mempertimbangkan sesuatu

Tuh bener kan…ternyata mata juga bisa “bicara”. Semoga bermanfaat…


Sang Pencerah: Belajar dari Sang Guru


“Agama itu apa?”. Barisan panjang pengunjung di ruang itu sempat menyurutkan niat yang sudah terbangun. Dengan amat sangat terpaksa sekali pada akhirnya kubulatkan tekad untuk tetap setia menikmati mengikis waktu dalam barisan tersebut demi satu tujuan suci, nonton Sang Pencerah. Sebagai catatan, ini kali pertama saya rela mengantri panjang untuk mendapatkan beberapa karcis nonton. Dalam situasi padat merayap, petugas cantik mengumumkan bahwa karcis untuk waktu yang menjadi target telah terjual habis. Berbekal prinsip pantang pulang tanpa hasil, akhirnya terpilihlah yang berjadwal tayang selepas isya’, pukul 19.40 tepatnya.

Sang Pencerah, film yang mengisahkan Muhammad Darwis, atau yang lebih populer dengan nama Ahmad Dahlan, sebagai pendiri organisasi besar Muhammadiyah. Didukung lingkungan yang agamis, Darwis muda mulai menolak kebiasaan masyarakat yang dianggapnya menyimpang dari tuntunan agama. Ingin memperdalam pengetahuan agama, akhirnya ia memutuskan untuk berangkat ke Tanah Suci pada usia muda, yakni 15 tahun. Sepulangnya dari Mekkah, Dahlan semakin berani untuk menentang apa yang menjadi kebiasaan warga di desanya. Mulai dari membenarkan arah kiblat Masjid Kauman hingga tradisi-tradisi yang ia yakini tidak islami. Sampai pada akhirnya beliau mendirikan sebuah perkumpulan yang saat ini sudah berumur setengah abad, Muhammadiyah.

Mungkin saja cerita dalam film ini sudah diketahui banyak orang. Dan menurut pendapat pribadi, film ini terkesan standar, artinya tidak ada sesuatu yang “wah” di dalamnya. Jadi sebaiknya saya potong saja ringkasan cerita sampai di sini karena memang biasa saja dan datar. Lagipula kalau terlalu banyak diceritakaan di sini, tentu tidak akan menarik lagi untuk disimak. “Belajar dari Sang Guru”, hal inilah yang menurut saya lebih penting ketimbang mengingat kembali cerita yang kini sudah menjadi sejarah. Semoga saja film ini tidak terlalu banyak mendramatisasi dan lebih banyak menuju fakta sesungguhnya.

“Agama itu apa?”. Agama itu menyejukkan. Agama itu menentramkan. Jawaban Dahlan ketika ditanya oleh salah seorang muridnya. Sebelum menjawab, beliau sempat memainkan biolanya. Saya terkesan sekali dengan jawaban sederhana Sang Guru. Ketika pada masa itu agama lebih menjadi sekedar doktrin dan tradisi turun temurun, bahkan agama dijadikan sebuah komoditi yang bisa diperjualbelikan, Dahlan mencoba menyandingkan ilmu agama dengan nalarnya sebagai manusia. Kyai atau orang yang dianggap paham soal agama digambarkan sebagai orang yang kumuh, jorok, bau sehingga kalangan priyai (orang yang lebih modern) bersikap antipati terlebih dahulu, seperti antipatinya kyai-kyai tersebut pada produk kafir. Sekali lagi, Dahlan memutarbalikkan anggapan tersebut.

Pemikiran moderat beliau ternyata mendapat hambatan paling besar justru dari lingkungan di mana ia tinggal. Mulai masyarakat luas sampai keluarga sendiri. Ujung-ujungnya gelar kyai kafir pun akhirnya ia sandang. Kyai kafir?? Orang yang paham agama berdebat lalu menyebut kafir?? Terus bagaimana dengan orang seperti saya yang pengetahuan agamanya masih cetek?? Bukankah hidayah itu mutlak milik Tuhan?? Namun di tengah cercaan yang bertubi, ia masih sanggup berdiri meski sempat terjatuh. Dukungan dari murid-murid, kerabat dekat serta istri yang setia menemaninya membuat ia tetap tegar memperjuangkan apa yang ia yakini.

Agama merupakan proses. Proses menuju kebenaran. Kebenaran hakiki hanyalah milik Yang Maha Benar. Sedangkan kebenaran pada manusia adalah kebenaran yang nisbi. Saya berpendapat bahwa kita tidak dituntut untuk benar, tapi kita dituntut berusaha untuk benar. Seperti halnya kita semua, KH Ahmad Dahlan hanya berusaha untuk bertindak benar. Bukan menyederhanakan persoalan agama, namun islam bagi saya adalah agama yang sederhana. Bila direnungkan lebih dalam, pikiran-pikiran moderatnya bertujuan untuk menyiarkan agama islam agar bisa diterima oleh semua kalangan, tanpa doktrin, tanpa embel-embel tradisi. Modernisasi yang tak harus dihindari. Mental beliau yang begitu tangguh mengajarkan pada kita akan sebuah keyakinan. Keyakinan yang terkadang tak bisa ditangkap oleh logika. Kita kehilangan pendidik. Guru yang memberikan pemahaman, bukan pengertian. Mudah-mudahan cita-cita beliau dalam mendirikan Muhammadiyah akan tetap berkobar tanpa terjebak dalam politik praktis. Karena saya rasa Muhammadiyah memang tidak didirikan untuk itu.