Monthly Archives: March 2010

Bidadari Bermata Kristal


Sore yang cerah. Aku berniat mengunjungi sebuah pameran buku di salah satu gedung yang bertempat di jalan yang dikenal dengan sebutan Jalan Solo. Dengan langkah pasti, kulaju sepeda motorku hingga tak berapa lama sampailah aku di sana. Segera kubayar karcis parkir dan memarkir “sahabat”ku, kulangkahkan kaki masuk ke dalam gedung. Di kanan dan kiri pandangan mata telah bertebaran berbagai macam buku yang disajikan. Sempat terlihat juga orang-orang yang sedang melakukan transaksi. Namun tak sedikit yang hanya melihat-lihat. Setelah berputar mengelilingi lokasi pameran, mataku tertuju pada sebuah novel yang digelar di sebuah alas yang tidak terlalu tinggi di atas sebuah karpet. Tanpa keraguan, kuambil lalu kubalik buat kubaca sinopsisnya. Sayang, sinopsis itu tak kutemukan di sana. Hanya komentar dari beberapa nama yang kukenal. Salah satunya adalah Abidah El Khalieqy, penulis novel Perempuan Berkalung Sorban sekaligus seorang aktivis perempuan. Satu lagi yang membuatku tertarik dengan buku itu adalah tulisan yang ditampilkan pada cover bagian atas. Bagian itu bertuliskan “Amuk Asmara di Tengah Kapitalisme Global”. Novel itu berjudul Bidadari Bermata Kristal.

Novel fiksi yang menceritakan kehidupan seorang mantan aktivis mahasiswa yang sedang berkutat dengan skripsinya. Surya, begitulah nama tokoh utama dalam novel ini. Surya yang dideskripsikan sebagai seseorang yang cerdas, berkemauan keras, serta mempunyai banyak pengagum, khusunya pengagum wanita, sedang dirundung masalah terkait dengan objek penelitiannya, yaitu sebuah perusahaan terbuka, tak beroperasi lagi di kotanya. Permasalahan yang tak terlalu besar sebetulnya bagi mahasiswa S-1, karena segala informasi bisa diketahui melalui situsnya di internet. Namun yang menjadi permasalahan besar adalah ketika dekan mulai risih dengan keadaan tersebut. Dekan yang seharusnya tak mempunyai kuasa untuk membatalkan atau meneruskan skripsi yang akan diujikan, mendadak rese menunda ujian skripsi Surya hingga mendapatkan pengesahan resmi dari perusahaan yang menjadi objek penelitiannya. Pergilah Surya ke kota Batam untuk mendapatkan pengesahan. Di kota yang belum ia kenal sama sekali, Surya harus berjuang menemukan perusahaan tersebut. Di tengah perjalanan panjang menuju kota Batam, Surya mendapati dirinya kecopetan tatkala menaiki kapal yang akan menuju ke sana di tengah kepadatan manusia yang akan menaiki kapal tersebut. Hanya tersisa dua ratus ribu di kantong yang akan memenuhi kebutuhan hidupnya selama di Batam.

Di Semarang, di mana kampus itu berada, adik-adik kelas serta teman seperjuangan Surya mensinyalir adanya konspirasi yang terjadi dibalik kasus tersebut. Analisis mereka adalah pada acara wisuda yang akan datang, putra Dekan FE, tempat Surya menimba ilmu, juga akan melangsungkan wisudanya. Surya memiliki nilai tertinggi dari semua lulusan yang ada, hanya terpaut 0,04 dengan putra sang dekan. Sudah tradisi di kampus imajinatif itu jika nilai tertinggi akan mendapat tawaran kerja hingga meniti puncak karier tak lagi menjadi soal. Sehingga segala cara akan dilakukan demi meraih kemenangan. Persis seperti ideologi kapitalisme global.

Novel ini juga menyajikan kisah seputar lika-liku asmara di antara tokoh di dalamnya. Nafla, seorang guru taman kanak-kanak, terpaksa harus merelakan cintanya pada sang kekasih, yang telah menjalin kasih selama tujuh tahun, kepada seorang gadis cantik dan kaya. Gadis yang bernama Marsya itu bertemu kembali dengan Surya pada saat dia menjadi pembicara dalam sebuah acara seminar. Sebuah pilihan yang sulit bagi Surya ketika dihadapkan pada pilihan dilematis kisah asmaranya. Kemudian pertemuan Surya dengan Rossa, seorang penjaja seks di kota Batam, menggambarkan konflik batin serta gambaran kecil sebuah dunia ketika manusia sudah masuk ke dalam lingkaran hitam kapitalisme. Manusia yang dijadikan sebuah komoditas.

Pertanyaannya kemudian apakah Surya berhasil mendapat pengesahan dari perusahaan objek? Apakah teman-teman Surya mampu membuktikan konspirasi yang terjadi di kampusnya? Lalu siapakah bidadari bermata kristal? Sekumpulan pertanyaan yang akan ditemukan di akhir cerita. Meski novel ini bagi saya terkesan novel picisan, namun tak ada salahnya bila Anda membacanya hingga akhir.

Barang Milikku yang Paling Berharga Adalah Kamu


Malam telah larut. Bintang pun mulai menyapa rembulan. Situasi yang semula ramai, berangsur sepi. Hanya terdengar satu atau dua kendaraan yang sedang melaju di jalanan. Di malam yang telah memuncak ini, di tengah hampir semua orang telah terlelap, sekelompok orang berdendang sambil memainkan gitarnya. Memecah keheningan malam. Entah maksud apa di balik dendangan tersebut. Ya mungkin saja mereka sedang melepas kejenuhan atau menghabiskan waktu karena tak bisa tidur. Apapun alasannya, aku tak mau ambil pusing.

Aku terpuruk di sini. Di kamarku yang berukuran 3×3 meter, di atas matras tempatku biasa merebah. Jarum jam masih setia berputar, menemaniku kesendirianku, menunjukkan bahwa hari sudah dini. Namun, mata ini tak kunjung terlelap. Padahal raga ini sudah letih setelah beraktivitas seharian penuh. Raga yang butuh memulihkan kembali sel-sel hingga organ di dalamnya. Tak seperti malam-malam sebelumnya, kali ini aku terserang insomnia. Tak tahu harus berbuat apa, kuputuskan untuk membuka komputer. Di dalam salah satu foldernya, kutemukan sebuah tulisan yang di-download salah seorang temanku. Judulnya cukup menarik perhatianku. Spontan aku langsung membaca tulisan tersebut.

Cerita singkatnya kira-kira begini. Sepasang muda-mudi menikah karena dijodohkan orang tua. Hal yang biasa terjadi pada masa itu. Masa-masa yang indah hingga perselisihan dan cek-cok pun mulai terjadi. Pasangan suami istri tersebut bekerja dalam institusi yang sama sehingga berangkat dan pulang kerja pun bersama setiap harinya. Suatu hari mereka kerja lembur, mengadakan stock opname di gudang hingga pukul 02.00 dini hari. Merasa letih dan lapar sesampainya di rumah. Suami menyuruh sang istri untuk menyiapkan makanan. Karena juga merasa letih badan dan pikiran, akhirnya istri menolaknya dengan nada keras. Bara itu pun seketika berubah menjadi kobaran api. Sang suami tidak menerima perlakuan istrinya terhadap dirinya.

”Kamu tidak senang, ya? Kalau tidak senang, kamu pergi saja sekarang dari rumah ini!!!”, bentak lelaki tersebut.

Setelah terdiam beberapa saat, wanita itu kemudian berkata sambil menitikkan air mata, ” Kamu ingin aku pergi… aku akan pergi sekarang.”

Ia pun pergi ke dalam kamar untuk mengemasi barang-barangnya. Waktu yang terus berjalan, menghabiskan menit hingga menit berikutnya, namun wanita itu tak kunjung keluar. Merasa aneh, lelaki tersebut menyusul ke dalam kamar dan mendapatinya tengah duduk di ranjang dengan linangan air mata sambil menatap koper besar yang masih tergeletak di atas ranjang.

Melihatnya datang, wanita itu dengan terisak berkata,” Duduklah di atas koper kulit
itu, supaya aku bisa mengenang masa-masa perpisahan kita yg terakhir.”

”Untuk apa?”
Sambil menangis wanita itu berkata,” Emas dan perak aku tak memilikinya… tapi milikku yang paling berharga adalah kamu!!”

Cerita sederhana yang saat itu juga membuatku sadar. Betapa seringnya kita menilai kehidupan hanya sebatas materi. Meskipun tubuh manusia ini sebenarnya juga termasuk ke dalam wujud materi. Sesuatu yang berharga, dalam arti yang sesungguuhnya, dikamuflasekan menjadi kondisi berharga dalam arti yang semu. Ketenangan jiwa yang tak bisa tergantikan dengan sebentuk materi. Semoga kita dapat menemukan benda berharga itu di dalam kalbu kita masing-masing. Karena barang milikku yang paling berharga adalah kamu.

Enzo: The Art of Racing in the Rain


Tubuh yang berbulu, lidah yang menjulur, serta ekor yang mengibas. Ya, itulah deskripsi sederhana seekor anjing. Sajian ringan yang ditulis oleh Garth Stein ini menampilkan seekor anjing sebagai tokoh utamanya. Anjing “jenius” ini diceritakan sangat suka menonton televisi, khususnya National Geographic dan balap mobil Formula 1.

Enzo, begitulah namanya. Dia hanyalah seekor anjing campuran Labrador. Akan tetapi dibalik tubuh anjingnya, Enzo bukanlah anjing. Enzo dapat “memahami” akan lingkungan sekitarnya, punya pendapat sendiri tentang sesuatu, dan dapat membuat keputusan sendiri berdasar olah pikirnya. Hal yang sangat berbeda dengan anjing pada umumnya, yang mengandalkan kekuatan insting untuk melakukan segala sesuatunya. Inilah yang menjadi keunikan dan daya tarik novel ini. Tak salah bila sang penulis menyebut novel ini sebagai novel tentang seekor filsuf.

“Memang aku dimasukkan ke dalam tubuh seekor anjing, tapi itu hanya kulit luar. Di dalamnyalah yang penting. Jiwa. Dan jiwaku sangat manusiawi.” kata Enzo. Anjing yang memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang manusia, hanya karena dia percaya bahwa seekor anjing yang telah siap akan bereinkarnasi menjadi seorang manusia di kehidupan selanjutnya. Kepercayaan kuat yang didapatnya dari menonton tayangan televisi National Geographic. Kepercayaan yang lambat laun berubah menjadi keyakinan.

Banyak nilai-nilai yang terkandung di dalam novel ini, meskipun terkadang bahasa yang disajikan oleh penulis masih dianggap kasar bagi sebagian orang. Enzo yang hanya seekor anjing memperhatikan kehidupan Denny, majikannya. Mulai dari cinta, konflik, hingga perselisihan yang terjadi. Seperti dituliskan sebelumnya, Enzo pun berargumen mengenai berbagai persoalan yang terjadi. Dalam perjalanan hidupnya, Enzo pun telah banyak menyaksikan tingkah laku hingga perilaku manusia. Pernah Enzo bermimpi menjadi saksi di persidangan Denny atas dugaan perkara pelecehan seksual anak di bawah umur. Melalui bantuan alat ciptaan Stephen Hawking, Enzo memaparkan kebenaran yang terjadi pada malam tersebut.

The art of racing in the rain, yang dalam terjemahan bebasnya adalah seni membalap di guyuran hujan. Penulis menjelaskan secara gamblang mengenai teknik membalap dalam kondisi hujan. Tak hanya diperlukan skill yang mumpuni, namun perlu mengasah ketajaman analisis kondisi lapangan agar tak tergelincir. Apakah Denny mampu membuktikan bahwa ia tak bersalah di muka pengadilan ataukah Enzo akhirnya bereinkarnasi menjadi manusia, saya rasa lebih tepat Anda mencari jawabannya sendiri dengan membaca karya Garth Stein tersebut.

Terlepas dari realitas reinkarnasi, Enzo mengajarkan pada kita bahwa keyakinan akan sesuatu, entah itu mimpi, harapan, ataukah cita-cita, atau bahkan dalam konteks yang lainnya, adalah modal pertama yang harus dipunyai, walaupun pada akhirnya tercapai atau tidak, ada atau tidak, karena memang masa depan adalah suatu misteri. Novel yang pantas untuk Anda baca. Novel sarat nilai-nilai filosofis, serta dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, layaklah novel ini mendapat penghargaan serta disejajarkan dengan novel Life of Pi (Yann Martel).

“Kalah balapan itu tidak memalukan…yang memalukan adalah tidak membalap karena kau takut kalah” (tokoh Don Kitch dalam novel Enzo,2009)