Monthly Archives: July 2009

Kehampaanku


Di saat ini apa yang aku rasakan tak bisa kujelaskan dengan kata-kataku sendiri. Aneh memang, tapi begitulah keadaan sesungguhnya. Ada apa denganku?? Aku pun tak tahu jawabannya. Tapi yang jelas perasaan hampa ini selalu hadir di masa-masa sendiriku. Atau bisa jadi kehampaan ini ada dalam keramaian. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku. Pergi begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu. Pamit?? Apakah emosi manusia harus pamit untuk datang dan perginya?? Kenapa juga kata “pamit” harus hadir untuk sebuah ekspresi kekecewaan terhadap emosi. Aku sendiri pun heran. Rasa-rasanya ia bagai terbang menuju metakosmos dengan jet kekuatan super yang hampir setara dengan kecepatan cahaya. Entah apa yang hilang. Tiba-tiba saja raga ini terasa seperti tak bernyawa. Tapi dengan sadar aku bisa merasakan desahan nafasku, melambaikan jari-jemariku di atas keyboard notebook-ku. Ya, aku sadar. Tapi kenapa ini semua terasa kosong? Oh Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini, apa yang harus aku lakukan untuk membuat ruh-ku hadir menemani raga ini? Ruh yang sejati. Ruh yang memancarkan kobaran api semangat dalam hidup yang semu ini. Aku sudah bosan dengan kegelisahan yang tak tentu seperti ini. Ya, aku muak. Jenuh. Bagaimana agar aku terlepas dari cengkraman belenggu yang menyesakkan ini?
Seperti orang yang baru saja berolah raga, tiba-tiba tubuh ini terasa lemas tak bertenaga. Mata pun mulai terlihat layu. Pikiran ini sudah tak fokus lagi, walaupun sejak tadi tak ada kata “fokus” dalam benakku. Sindroma apalagi ini?? Ah, jadi pusing kepala ini. Baiklah, Teman (istilah yang kusebut untuk organisasi individu ini), kau akan kuistirahatkan sejenak mencoba melepaskan diri dari belenggu kehampaan. Mudah-mudahan esok hari tak kutemukan lagi kehampaan di dalam diri ini. Akan hadir cahaya terang yang kan selalu menyinari hari-hariku. Di dalam perjalanan lorong gelapku. Cahaya yang selama ini aku rindukan. Seberkas cahaya yang takkan redup, yang akan menemaniku dalam menghadapi wajah dunia. Cahaya yang takkan pergi meninggalkan hatiku untuk yang kesekian kalinya. Sebab aku takkan merasa takut bila cahaya selalu ada untukku. Aku tidak sendiri lagi meski secara kasat mata aku memang orang yang sendiri. Setidaknya masih ada bayanganku yang menemani. Semoga.