Hanya Sebuah Cerita


Sudah tiba waktu tuk sang matahari beristirahat setelah selama setengah hari menemani kita dengan setia memancarkan sinarnya. Saatnya mengucapkan sampai jumpa padanya, berharap esok ia kan kembali hadir menyinari ruang-ruang gelap. Senja telah datang. Dan bulan pun perlahan mulai muncul di horizon. Saat raga telah lelah serta ingin menjauh dari kepenatan rutinitas. Setelah seharian beraktivitas menunaikan hajatnya masing-masing. Sesekali muncul ide liar untuk memanjakan sang raga. Tertawa lepas. Bercengkrama dengan kerabat hanya untuk mengendurkan kembali urat syaraf yang sempat menegang. Melupakan sejenak masa yang telah lalu atau bahkan persoalan yang akan datang menghadang.

Jumat malam yang dingin. Aku beserta keempat sahabat sepakat untuk ngumpul bareng. Hal yang sudah lama tak kami lakukan karena kesibukan masing-masing. Sekedar ngobrol dibarengi santapan lezat khas selera nusantara. Salah satu warung makan di sekitar wilayah lembaga pemasyarakatan agak ke selatan menjadi pilihan kami. Sebelumnya, telah kami susun rencana untuk “menghambur-hamburkan” uang di gedung bioskop di Jalan Urip Sumoharjo. Sayangnya, rencana tinggallah rencana. Tiket sudah habis terjual. Laris manis tanjung kimpul, orang bilang. Di saat seperti ini, biasanya kita akan teringat pada satu nama. Calo. Ternyata lebih beruntung almarhum Bing Slamet yang tetap mendapatkan tiket nonton meski berurusan dengan calo, yang terdapat pada lagunya bertajuk Nonton Bioskop.

Di tempat dimana kami seharusnya menikmati sajian lezat dengan ditemani suasana yang tak terlalu ramai, tumpahlah “kegilaan-kegilaan” kami. Ada saja yang bisa jadi bahan tawaan. Lonceng, botol, dan pernak-pernik lainnya menjadi korban tangan-tangan jahil. Tawa pun meledak. Tak ada lagi rasa sungkan. Persis seperti anak kecil. Meski terbilang sepi, tapi rasa-rasanya meja kami saat itu menjadi pusat perhatian. Malu-maluin, tapi memang itulah yang terjadi. Entah mengapa malam ini terasa sangat plong. Tak ada beban seperti malam-malam sebelumnya. Tak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi persoalan yang menimpa. Serasa di Neverland. Dunia Peter Pan yang tak mengenal apa itu duka lara. Hanya ada tawa dan suka cita. Tak ingat lagi kegundahan hati di hari yang lalu.

Menyusuri kota Yogyakarta menjadi langkah kami selanjutnya. Menyaksikan Yogyakarta di kala malam. Ngalor-ngidul melintasi jalanan yang penuh dengan seliweran kendaraan. Memantapkan hati menuju Alun-Alun Kidul. Berjalan di antara dua pohon beringin besar yang konon katanya siapa yang berhasil melewatinya, maka akan lancar perjalanan hidupnya. Boleh percaya, boleh juga tidak. Lagi-lagi hal sepele menjadi bahan candaan. Tak lengkap rasanya bila tak ada momen foto-foto. Ajang narsis dengan menggunakan alat seadanya. Destinasi kami selanjutnya adalah perempatan kantor Pos Besar. Sudut kota Yogyakarta yang menyimpan nilai-nilai sejarah. Tempat nongkrong muda-mudi yang mencari hiburan. Melihat hingar-bingar lampu kota. Menatap eksotika Jogja di malam hari.

Di salah satu sudut kota Yogyakarta, 10 Juli 2009

Posted on July 11, 2009, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: