Daily Archives: July 11, 2009

Hanya Sebuah Cerita


Sudah tiba waktu tuk sang matahari beristirahat setelah selama setengah hari menemani kita dengan setia memancarkan sinarnya. Saatnya mengucapkan sampai jumpa padanya, berharap esok ia kan kembali hadir menyinari ruang-ruang gelap. Senja telah datang. Dan bulan pun perlahan mulai muncul di horizon. Saat raga telah lelah serta ingin menjauh dari kepenatan rutinitas. Setelah seharian beraktivitas menunaikan hajatnya masing-masing. Sesekali muncul ide liar untuk memanjakan sang raga. Tertawa lepas. Bercengkrama dengan kerabat hanya untuk mengendurkan kembali urat syaraf yang sempat menegang. Melupakan sejenak masa yang telah lalu atau bahkan persoalan yang akan datang menghadang.

Jumat malam yang dingin. Aku beserta keempat sahabat sepakat untuk ngumpul bareng. Hal yang sudah lama tak kami lakukan karena kesibukan masing-masing. Sekedar ngobrol dibarengi santapan lezat khas selera nusantara. Salah satu warung makan di sekitar wilayah lembaga pemasyarakatan agak ke selatan menjadi pilihan kami. Sebelumnya, telah kami susun rencana untuk “menghambur-hamburkan” uang di gedung bioskop di Jalan Urip Sumoharjo. Sayangnya, rencana tinggallah rencana. Tiket sudah habis terjual. Laris manis tanjung kimpul, orang bilang. Di saat seperti ini, biasanya kita akan teringat pada satu nama. Calo. Ternyata lebih beruntung almarhum Bing Slamet yang tetap mendapatkan tiket nonton meski berurusan dengan calo, yang terdapat pada lagunya bertajuk Nonton Bioskop.

Di tempat dimana kami seharusnya menikmati sajian lezat dengan ditemani suasana yang tak terlalu ramai, tumpahlah “kegilaan-kegilaan” kami. Ada saja yang bisa jadi bahan tawaan. Lonceng, botol, dan pernak-pernik lainnya menjadi korban tangan-tangan jahil. Tawa pun meledak. Tak ada lagi rasa sungkan. Persis seperti anak kecil. Meski terbilang sepi, tapi rasa-rasanya meja kami saat itu menjadi pusat perhatian. Malu-maluin, tapi memang itulah yang terjadi. Entah mengapa malam ini terasa sangat plong. Tak ada beban seperti malam-malam sebelumnya. Tak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi persoalan yang menimpa. Serasa di Neverland. Dunia Peter Pan yang tak mengenal apa itu duka lara. Hanya ada tawa dan suka cita. Tak ingat lagi kegundahan hati di hari yang lalu.

Menyusuri kota Yogyakarta menjadi langkah kami selanjutnya. Menyaksikan Yogyakarta di kala malam. Ngalor-ngidul melintasi jalanan yang penuh dengan seliweran kendaraan. Memantapkan hati menuju Alun-Alun Kidul. Berjalan di antara dua pohon beringin besar yang konon katanya siapa yang berhasil melewatinya, maka akan lancar perjalanan hidupnya. Boleh percaya, boleh juga tidak. Lagi-lagi hal sepele menjadi bahan candaan. Tak lengkap rasanya bila tak ada momen foto-foto. Ajang narsis dengan menggunakan alat seadanya. Destinasi kami selanjutnya adalah perempatan kantor Pos Besar. Sudut kota Yogyakarta yang menyimpan nilai-nilai sejarah. Tempat nongkrong muda-mudi yang mencari hiburan. Melihat hingar-bingar lampu kota. Menatap eksotika Jogja di malam hari.

Di salah satu sudut kota Yogyakarta, 10 Juli 2009

Kutemukan Cinta di Atas Gravel

Ada yang mengatakan bahwa kemarin adalah masa lalu, hari ini adalah realita, sedangkan esok hari ada yang mengatakan adalah sebuah misteri dan di sisi yang lain mengatakan bahwa esok hari adalah sebuah harapan. Namun saya percaya bahwa dunia ini berjalan menyisakan tanya dan misteri. Akan tetapi misteri dunia tetap dalam genggaman-Nya. Setujukah kamu dengan pendapatku itu?

Garis kehidupan seseorang sudah ada yang mengaturnya. Terlepas dari perdebatan adanya peran serta campur tangan manusia itu sendiri ataupun tidak, kehidupan kita pastilah ada yang menggerakkan. Bayangkan saja kehidupan kita bagai wayang, pastilah ada dalang yang mengaturnya. Tapi ingat, kita adalah manusia, bukan wayang. Manusia yang diberi kehendak oleh-Nya, meski silogisme wayang tadi tak sepenuhnya salah dan tak sepenuhnya benar. Mungkin saja ini adalah prinsip-prinsip keseimbangan yang di dalam ajaran Tao disebut Yin dan Yang.

Panas terik matahari yang menusuk hingga membakar kulit, tak menyurutkan langkah untuk tetap setia di atas tanah berbatu yang biasa dikenal dengan sebutan gravel. Sebutan yang masih terasa asing di telinga. Hanya sebagian atau beberapa saja yang mengetahui istilah tersebut. Kalau saya tak salah menuliskan ejaannya, gravel merupakan salah satu bagian dari lapangan baseball yang terbuat dari kerikil dan tanah. Ya, ini memang kisah yang terjadi di sana. Gravel yang menjadi saksi bisu. Yang akan banyak bercerita jika Tuhan memberinya sebuah kesempatan, mengenai segala sesuatu yang terjadi di atasnya.

Sebuah tempat dimana tetesan keringat membasahi permukaan bumi, ternyata menumbuhkan benih-benih cinta di antara sebagian orang. Hal ini, tanpa saya sadari, berlaku juga bagi teman yang usianya terpaut cukup jauh denganku. Dalam waktu yang singkat serta intensitas pertemuan yang boleh dibilang jarang, teman saya itu ternyata menaruh perhatian lebih kepada junior-nya yang berada di satu tingkat angkatan di bawah saya. Terakhir mendengar kabar, ternyata mereka sudah menikah dan bahkan dalam tempo waktu yang tak terlampau jauh dari keadaan sekarang, mereka sudah mempunyai buah hati yang mungil dan lucu.

Saya hanya bisa berdoa yang terbaik buat mereka. Namun, melihat realitas yang terjadi secara tak terduga ini membuat saya sadar bahwa tak ada yang namanya cinta lokasi, karena cinta hadir di dalam ruang dan waktu. Suatu hal yang tidak bisa diterima oleh logika saya yang memang terbatas. Tapi itulah yang terjadi. Misteri Ilahi yang takkan pernah bisa kita duga dan kita terka. Karena hanya Dia yang tahu. Dan memang hanya Dia yang Mahatahu.