Sebab Tuhan Tau yang Ku Mau


Percayakah kamu dengan eksistensi Tuhan? Percayahkah kamu bahwa Dia sangat menyayangi ciptaan-Nya? Percayakah kamu bahwa Tuhan punya segala cara untuk mengatakan kasih sayang-Nya? Ada-ada saja memang cara Tuhan buat menuhin apa yang kuminta. Jadi, kejadiannya kira-kira seperti ini. Hari itu, Selasa bertepatan tanggal 7 Juli 2009 sekitar pukul 17.25. Menikmati keruwetan dunia ditemani oleh segelas jus segar di sebelah kiriku. Lagi enak-enak nyante di salah satu mall besar di Jogja sambil ngutak-ngatik “komputer jinjing” berlagak sibuk ngetik yang padahal cuma fesbuk-an gak jelas yang wasting the time (buang-buang waktu) banget, tiba-tiba saja aku disamperin sama seseorang yang tidak kukenal sama sekali. Dia tinggi besar, berbadan kekar, dan berkepala plontos. Jujur saja, aku kaget sekaget-kagetnya.

Sebenarnya sih, dia cuma pengen transfer data dari memory card kameranya ke dalam flash-disk miliknya doank. Simpel banget kan?! Gak ribet-ribet amat toh?! Tapi permasalahan utamanya bukan di situ, Kawan. Masalah yang paling penting dan paling urgent adalah dia pake bahasa Inggris. Nah lo! Secara (dengan logat anak gaul masa kini…ya iyalah, masa’ anak gaul jaman baheula!?), nilai TOEFL yang aku dapat pas-pasan cuman buat standar lulus. Terpaksalah, dengan gaya meyakinkan aku mengangguk tanda setuju. Berbekal ilmu bahasa Inggris praktis yang kudapetin dari kelas 4 SD sampe sekarang, kucoba memahami setiap perkataan yang keluar from his mouth. Untungnya, aku masih bisa ngerti dia ngomongin apa. Ya…kira-kira kalo di dipresentasikan nilaiku bisa mencapai 90-an persenlah (Alhamdulillah).

Sesuai permintaannya, data sudah ku-transfer. Di monitor juga sudah ada kotak kecil berwarna hijau yang siap berbaris memenuhi sebuah kolom tanda sedang memindahkan data. Untuk mencairkan suasana yang mulai “garing”, dia mencoba berbicara lebih banyak padaku. Bicaranya panjang lebar. Dan aku menjadi pendengar yang baik. Tapi masalahnya dia gak lagi ceramah terus aku dengerin ampe ngantuk. Dengan usaha keras memutar otak akhirnya aku “menarik” bibir menyunggingkan senyum sebagai permulaan percakapan. Ada saja masalah yang harus aku hadapi. Giliran sudah tahu mau ngomong apa, tiba-tiba aja si mulut berubah drastis jadi Annisa Bahar. Bibir mendadak kaku, bicara ngelantur terus patah-patah. Gak sinkron antara yang di otak ma yang diucap. Walhasil, mukanya jadi agak “kecut” gitu. Ekspresi gak paham. Mungkin dia mikir kayak gini kali ya,”Nih anak rada aneh.”

Merasa terdesak aku coba mengeluarkan jurus pamungkas bahasa Inggris. “What do you think about Indonesia, especially Yogyakarta?”, tanyaku yang masih dengan terbata-bata pastinya. Menurutnya Indonesia punya kekhasan tersendiri baik itu dari segi kulturnya maupun pribadi orangnya. Menurutnya pula, orang-orang Indonesia itu sangat friendly. “Hah, friendly? Gak salah tuch!?” pikirku dalam hati. Tapi sebagai warga negara yang baik dan meski bukan Duta Pariwisata 2009, aku mesti mempromosikan negara kita tercinta.

Dalam kesempatan tersebut, aku dan dia sempat berkenalan. Namanya Shayed. Keturunan India yang lama tinggal di Suriname. Saat ini dia sedang ber-long holiday bersama keluarganya. Dia menempuh Master Degree di Belanda. Begitu tau dia dari Belanda, ku bilang saja aku tau sedikit dengan bahasa Belanda. Ik Houd Van Jou (bahasa Inggrisnya: I Love You). Cuma kalimat itu yang kutau, dan kubilang itu kudapat dari salah seorang temanku, kemudian dia membetulkan spelling-nya yang tetap saja tak kumengerti. Dia juga bercerita bahwa saudaranya baru saja melangsungkan pernikahan di Malaysia di awal bulan Juni yang lalu. Tiba-tiba dia nanya, “Are you married?” Married? Andai aku tau bahasa Inggrisnya, rasanya pengen aja ta bilangin gini,” Boro-boro Married, pacar aja engga punya.” Obrolan kami sudah ngalor-ngidul bak orang yang sudah kenal lama, tapi teuteup dengan bahasa yang pas-pasan hingga tak terasa obrolan kami sudah hampir sekitar setengah jam. Pertemuan itu diakhiri dengan tukar-menukar alamat e-mail dan jabatan tangan bak pendekar. Sebelum berpisah, aku bermaksud menitipkan salamku untuk keluarganya. Bermodal kata-kata dari surat aku ingin mengatakan “Send my best regard to your family”. Gara-gara Annisa Bahar gak mau pergi dari mulut, kemudian lidah kelu, ditambah masih nervous dan jantung dagdigdug, akhirnya yang malah keluar “Send me best regard to your family.” Terus terang, jadi malu.

Kalau dipikir-pikir cara Tuhan untuk mengajariku bahasa Inggris unik juga. Tak terduga. Dengan cara-Nya seperti yang dijelaskan paragraf sebelumnya. Aku memang sedang meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisku yang amat sangat pas-pasan itu. Tuhan tak pernah memberi ikan secara cuma-cuma buat yang meminta pada-Nya. Tapi Dia akan memberikan sebuah kail untuk terus berusaha mendapatkan ikan yang sesuai keinginan. Dan seakan Tuhan berbicara padaku, “Nah, Reza denger-denger kamu pengen bisa bahasa Inggris, nih Aku “kirimin” seorang turis asing buat kamu belajar.” Mungkin inilah salah satu misteri “rezeki” yang Dia berikan. Sebab Tuhan tau yang ku mau.

Posted on July 8, 2009, in Sudut Pandang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: