Monthly Archives: July 2009

Mereka Bilang Aku Egois


Mereka bilang aku egois. Mereka bilang aku tak pernah memperhatikan kepentingan ataupun kebahagiaan orang lain. Dan mereka juga bilang kalau aku cuma bisa memikirkan diri sendiri. Salahkah aku dengan keegoisanku itu? Apakah salah jika aku bertindak berdasarkan ego, mengeksplorasi potensi-potensi diri yang kumiliki? Salahkah aku bila aku memperjuangkan hari depan yang lebih cerah? Apakah aku tidak berhak mendapat cinta dari keluarga maupun orang-orang sekelilingku? Apakah dengan perilaku itu semua lantas aku disebut egois? Lalu, untuk apa semua orang berlomba-lomba mengejar apa yang disebut pahala? Mengapa semua orang harus sibuk dengan urusan mereka masing-masing? Entah kenapa mereka menyebutku egois. Dan kenapa juga kata “egois” harus hadir pada perbendaharaan kata dalam dunia yang serba abu-abu ini? Ego dan egois. Apa yang salah dari dua kata ini? Hingga banyak orang menjauhinya, mengalahkannya, serta menganjurkan agar mementingkan orang lain. Oh egois, apakah sebenarnya maknamu itu?

Egois menurut asal katanya berasal dari ego yang berarti diri sendiri. Sehingga ada kata “egosentris” yang bermakna segala sesuatu berpusat pada dirinya sendiri. Dan egois bisa diartikan sebagai mementingkan kehendak pribadi. Dalam tulisannya, Mugi Subagyo, seorang praktisi sumber daya manusia, menerangkan bahwa:

Dengan ego, anda dapat memutuskan untuk berpikir positif atau sebaliknya, melakukan tindakan baik atau buruk, merasa bahagia atau sedih, berbuat sesuatu atau diam. Bahkan saat anda memutuskan menjadi orang sukses atau gagal, ego andalah yang melakukannya lebih dulu. Sebagai contoh: Betapa banyak orang yang menyadari kekuatan berpikir positif akan membawanya menuju puncak kesuksesan, tak terhitung jumlah orang yang tahu memotivasi diri untuk melakukan tindakan yang akan menuntunnya menggenggam apa yang dicitakan. Namun mengapa bagian paling besar dari orang tersebut justru gagal? Jawaban ini telah kita ketahui bersama, yaitu kemauan. Kemauan kita untuk bertindak, berbuat dan terus komit pada jalur yang telah kita plot sendiri. Mau atau tidaknya anda berbuat, ego anda yang menentukan, “aku” dalam diri andalah yang memerintahkan.

Terus terang, aku pun masih bingung dengan makna egois yang sebenarnya, meski dalam beberapa konteks, aku setuju dengan penjelasan di atas. Egois bagiku masih bersifat abstrak. Dengan ego, kita mampu untuk meniadakan ego itu sendiri. Itulah yang membuatku menjadi semakin bertanya-tanya tentang inti sebenarnya dari sebuah konsepsi egois. Maksudku tentang ego mampu meniadakan ego itu sendiri adalah ketika kita dihadapkan pada suatu persoalan di antara dua pilihan maka mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus memilih satu di antara dua pilihan tersebut. Sebagai contoh, seumpama di depan kita terbentang dua jalan yang berbeda tanpa ada petunjuk, maka di dalam diri kita minimal terjadi pergolakan batin apakah akan mengambil jalan yang “ini” atau yang “itu”. Kita hanya bisa berspekulasi akan konsekuensi akhirnya. Dalam hal ini ego untuk mengambil jalan “ini” mengalah atas ego untuk mengambil jalan yang “itu”. Dan sebaliknya.

Maumu jadi mauku, pahit pun itu ku tersenyum.” Sepenggal lirik lagu yang dipopulerkan oleh Kotak ini pun dapat kita ambil sebagai contoh. Ketika ada dua kemauan ( kepentingan ) yang berbeda, maka di sini, menurut pemahamanku, juga terjadi peniadaan ego. Kisah cinta dua manusia yang rela mengorbankan ego-nya demi kebahagiaan sang pujaan hati, meski terasa pahit namun bibir masih dapat menyunggingkan senyumnya. Dia egois untuk memenuhi ego sang kekasih. Dan ia juga egois membuang ego-nya sendiri. So, apa itu egois? Apakah aku egois? Atau jangan-jangan kita semua ini adalah orang-orang yang egois? Pertanyaan dasar yang masih menjadi sebuah teka-teki bagiku.

Hanya Sebuah Cerita


Sudah tiba waktu tuk sang matahari beristirahat setelah selama setengah hari menemani kita dengan setia memancarkan sinarnya. Saatnya mengucapkan sampai jumpa padanya, berharap esok ia kan kembali hadir menyinari ruang-ruang gelap. Senja telah datang. Dan bulan pun perlahan mulai muncul di horizon. Saat raga telah lelah serta ingin menjauh dari kepenatan rutinitas. Setelah seharian beraktivitas menunaikan hajatnya masing-masing. Sesekali muncul ide liar untuk memanjakan sang raga. Tertawa lepas. Bercengkrama dengan kerabat hanya untuk mengendurkan kembali urat syaraf yang sempat menegang. Melupakan sejenak masa yang telah lalu atau bahkan persoalan yang akan datang menghadang.

Jumat malam yang dingin. Aku beserta keempat sahabat sepakat untuk ngumpul bareng. Hal yang sudah lama tak kami lakukan karena kesibukan masing-masing. Sekedar ngobrol dibarengi santapan lezat khas selera nusantara. Salah satu warung makan di sekitar wilayah lembaga pemasyarakatan agak ke selatan menjadi pilihan kami. Sebelumnya, telah kami susun rencana untuk “menghambur-hamburkan” uang di gedung bioskop di Jalan Urip Sumoharjo. Sayangnya, rencana tinggallah rencana. Tiket sudah habis terjual. Laris manis tanjung kimpul, orang bilang. Di saat seperti ini, biasanya kita akan teringat pada satu nama. Calo. Ternyata lebih beruntung almarhum Bing Slamet yang tetap mendapatkan tiket nonton meski berurusan dengan calo, yang terdapat pada lagunya bertajuk Nonton Bioskop.

Di tempat dimana kami seharusnya menikmati sajian lezat dengan ditemani suasana yang tak terlalu ramai, tumpahlah “kegilaan-kegilaan” kami. Ada saja yang bisa jadi bahan tawaan. Lonceng, botol, dan pernak-pernik lainnya menjadi korban tangan-tangan jahil. Tawa pun meledak. Tak ada lagi rasa sungkan. Persis seperti anak kecil. Meski terbilang sepi, tapi rasa-rasanya meja kami saat itu menjadi pusat perhatian. Malu-maluin, tapi memang itulah yang terjadi. Entah mengapa malam ini terasa sangat plong. Tak ada beban seperti malam-malam sebelumnya. Tak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi persoalan yang menimpa. Serasa di Neverland. Dunia Peter Pan yang tak mengenal apa itu duka lara. Hanya ada tawa dan suka cita. Tak ingat lagi kegundahan hati di hari yang lalu.

Menyusuri kota Yogyakarta menjadi langkah kami selanjutnya. Menyaksikan Yogyakarta di kala malam. Ngalor-ngidul melintasi jalanan yang penuh dengan seliweran kendaraan. Memantapkan hati menuju Alun-Alun Kidul. Berjalan di antara dua pohon beringin besar yang konon katanya siapa yang berhasil melewatinya, maka akan lancar perjalanan hidupnya. Boleh percaya, boleh juga tidak. Lagi-lagi hal sepele menjadi bahan candaan. Tak lengkap rasanya bila tak ada momen foto-foto. Ajang narsis dengan menggunakan alat seadanya. Destinasi kami selanjutnya adalah perempatan kantor Pos Besar. Sudut kota Yogyakarta yang menyimpan nilai-nilai sejarah. Tempat nongkrong muda-mudi yang mencari hiburan. Melihat hingar-bingar lampu kota. Menatap eksotika Jogja di malam hari.

Di salah satu sudut kota Yogyakarta, 10 Juli 2009

Kutemukan Cinta di Atas Gravel

Ada yang mengatakan bahwa kemarin adalah masa lalu, hari ini adalah realita, sedangkan esok hari ada yang mengatakan adalah sebuah misteri dan di sisi yang lain mengatakan bahwa esok hari adalah sebuah harapan. Namun saya percaya bahwa dunia ini berjalan menyisakan tanya dan misteri. Akan tetapi misteri dunia tetap dalam genggaman-Nya. Setujukah kamu dengan pendapatku itu?

Garis kehidupan seseorang sudah ada yang mengaturnya. Terlepas dari perdebatan adanya peran serta campur tangan manusia itu sendiri ataupun tidak, kehidupan kita pastilah ada yang menggerakkan. Bayangkan saja kehidupan kita bagai wayang, pastilah ada dalang yang mengaturnya. Tapi ingat, kita adalah manusia, bukan wayang. Manusia yang diberi kehendak oleh-Nya, meski silogisme wayang tadi tak sepenuhnya salah dan tak sepenuhnya benar. Mungkin saja ini adalah prinsip-prinsip keseimbangan yang di dalam ajaran Tao disebut Yin dan Yang.

Panas terik matahari yang menusuk hingga membakar kulit, tak menyurutkan langkah untuk tetap setia di atas tanah berbatu yang biasa dikenal dengan sebutan gravel. Sebutan yang masih terasa asing di telinga. Hanya sebagian atau beberapa saja yang mengetahui istilah tersebut. Kalau saya tak salah menuliskan ejaannya, gravel merupakan salah satu bagian dari lapangan baseball yang terbuat dari kerikil dan tanah. Ya, ini memang kisah yang terjadi di sana. Gravel yang menjadi saksi bisu. Yang akan banyak bercerita jika Tuhan memberinya sebuah kesempatan, mengenai segala sesuatu yang terjadi di atasnya.

Sebuah tempat dimana tetesan keringat membasahi permukaan bumi, ternyata menumbuhkan benih-benih cinta di antara sebagian orang. Hal ini, tanpa saya sadari, berlaku juga bagi teman yang usianya terpaut cukup jauh denganku. Dalam waktu yang singkat serta intensitas pertemuan yang boleh dibilang jarang, teman saya itu ternyata menaruh perhatian lebih kepada junior-nya yang berada di satu tingkat angkatan di bawah saya. Terakhir mendengar kabar, ternyata mereka sudah menikah dan bahkan dalam tempo waktu yang tak terlampau jauh dari keadaan sekarang, mereka sudah mempunyai buah hati yang mungil dan lucu.

Saya hanya bisa berdoa yang terbaik buat mereka. Namun, melihat realitas yang terjadi secara tak terduga ini membuat saya sadar bahwa tak ada yang namanya cinta lokasi, karena cinta hadir di dalam ruang dan waktu. Suatu hal yang tidak bisa diterima oleh logika saya yang memang terbatas. Tapi itulah yang terjadi. Misteri Ilahi yang takkan pernah bisa kita duga dan kita terka. Karena hanya Dia yang tahu. Dan memang hanya Dia yang Mahatahu.

Sebab Tuhan Tau yang Ku Mau


Percayakah kamu dengan eksistensi Tuhan? Percayahkah kamu bahwa Dia sangat menyayangi ciptaan-Nya? Percayakah kamu bahwa Tuhan punya segala cara untuk mengatakan kasih sayang-Nya? Ada-ada saja memang cara Tuhan buat menuhin apa yang kuminta. Jadi, kejadiannya kira-kira seperti ini. Hari itu, Selasa bertepatan tanggal 7 Juli 2009 sekitar pukul 17.25. Menikmati keruwetan dunia ditemani oleh segelas jus segar di sebelah kiriku. Lagi enak-enak nyante di salah satu mall besar di Jogja sambil ngutak-ngatik “komputer jinjing” berlagak sibuk ngetik yang padahal cuma fesbuk-an gak jelas yang wasting the time (buang-buang waktu) banget, tiba-tiba saja aku disamperin sama seseorang yang tidak kukenal sama sekali. Dia tinggi besar, berbadan kekar, dan berkepala plontos. Jujur saja, aku kaget sekaget-kagetnya.

Sebenarnya sih, dia cuma pengen transfer data dari memory card kameranya ke dalam flash-disk miliknya doank. Simpel banget kan?! Gak ribet-ribet amat toh?! Tapi permasalahan utamanya bukan di situ, Kawan. Masalah yang paling penting dan paling urgent adalah dia pake bahasa Inggris. Nah lo! Secara (dengan logat anak gaul masa kini…ya iyalah, masa’ anak gaul jaman baheula!?), nilai TOEFL yang aku dapat pas-pasan cuman buat standar lulus. Terpaksalah, dengan gaya meyakinkan aku mengangguk tanda setuju. Berbekal ilmu bahasa Inggris praktis yang kudapetin dari kelas 4 SD sampe sekarang, kucoba memahami setiap perkataan yang keluar from his mouth. Untungnya, aku masih bisa ngerti dia ngomongin apa. Ya…kira-kira kalo di dipresentasikan nilaiku bisa mencapai 90-an persenlah (Alhamdulillah).

Sesuai permintaannya, data sudah ku-transfer. Di monitor juga sudah ada kotak kecil berwarna hijau yang siap berbaris memenuhi sebuah kolom tanda sedang memindahkan data. Untuk mencairkan suasana yang mulai “garing”, dia mencoba berbicara lebih banyak padaku. Bicaranya panjang lebar. Dan aku menjadi pendengar yang baik. Tapi masalahnya dia gak lagi ceramah terus aku dengerin ampe ngantuk. Dengan usaha keras memutar otak akhirnya aku “menarik” bibir menyunggingkan senyum sebagai permulaan percakapan. Ada saja masalah yang harus aku hadapi. Giliran sudah tahu mau ngomong apa, tiba-tiba aja si mulut berubah drastis jadi Annisa Bahar. Bibir mendadak kaku, bicara ngelantur terus patah-patah. Gak sinkron antara yang di otak ma yang diucap. Walhasil, mukanya jadi agak “kecut” gitu. Ekspresi gak paham. Mungkin dia mikir kayak gini kali ya,”Nih anak rada aneh.”

Merasa terdesak aku coba mengeluarkan jurus pamungkas bahasa Inggris. “What do you think about Indonesia, especially Yogyakarta?”, tanyaku yang masih dengan terbata-bata pastinya. Menurutnya Indonesia punya kekhasan tersendiri baik itu dari segi kulturnya maupun pribadi orangnya. Menurutnya pula, orang-orang Indonesia itu sangat friendly. “Hah, friendly? Gak salah tuch!?” pikirku dalam hati. Tapi sebagai warga negara yang baik dan meski bukan Duta Pariwisata 2009, aku mesti mempromosikan negara kita tercinta.

Dalam kesempatan tersebut, aku dan dia sempat berkenalan. Namanya Shayed. Keturunan India yang lama tinggal di Suriname. Saat ini dia sedang ber-long holiday bersama keluarganya. Dia menempuh Master Degree di Belanda. Begitu tau dia dari Belanda, ku bilang saja aku tau sedikit dengan bahasa Belanda. Ik Houd Van Jou (bahasa Inggrisnya: I Love You). Cuma kalimat itu yang kutau, dan kubilang itu kudapat dari salah seorang temanku, kemudian dia membetulkan spelling-nya yang tetap saja tak kumengerti. Dia juga bercerita bahwa saudaranya baru saja melangsungkan pernikahan di Malaysia di awal bulan Juni yang lalu. Tiba-tiba dia nanya, “Are you married?” Married? Andai aku tau bahasa Inggrisnya, rasanya pengen aja ta bilangin gini,” Boro-boro Married, pacar aja engga punya.” Obrolan kami sudah ngalor-ngidul bak orang yang sudah kenal lama, tapi teuteup dengan bahasa yang pas-pasan hingga tak terasa obrolan kami sudah hampir sekitar setengah jam. Pertemuan itu diakhiri dengan tukar-menukar alamat e-mail dan jabatan tangan bak pendekar. Sebelum berpisah, aku bermaksud menitipkan salamku untuk keluarganya. Bermodal kata-kata dari surat aku ingin mengatakan “Send my best regard to your family”. Gara-gara Annisa Bahar gak mau pergi dari mulut, kemudian lidah kelu, ditambah masih nervous dan jantung dagdigdug, akhirnya yang malah keluar “Send me best regard to your family.” Terus terang, jadi malu.

Kalau dipikir-pikir cara Tuhan untuk mengajariku bahasa Inggris unik juga. Tak terduga. Dengan cara-Nya seperti yang dijelaskan paragraf sebelumnya. Aku memang sedang meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisku yang amat sangat pas-pasan itu. Tuhan tak pernah memberi ikan secara cuma-cuma buat yang meminta pada-Nya. Tapi Dia akan memberikan sebuah kail untuk terus berusaha mendapatkan ikan yang sesuai keinginan. Dan seakan Tuhan berbicara padaku, “Nah, Reza denger-denger kamu pengen bisa bahasa Inggris, nih Aku “kirimin” seorang turis asing buat kamu belajar.” Mungkin inilah salah satu misteri “rezeki” yang Dia berikan. Sebab Tuhan tau yang ku mau.

Raih Keberkahan di Pagi Hari


Islam ternyata sangat peduli dengan dinamika dan semangat beraktivitas di awal waktu. Setiap hari selalu diawali dengan datangnya waktu pagi. Waktu pagi merupakan waktu istimewa. Ia selalu diasosiasikan sebagai simbol kegairahan, kesegaran dan semangat. Barangsiapa merasakan udara pagi niscaya dia akan mengatakan bahwa itulah saat paling segar alias fresh sepanjang hari. Pagi sering dikaitkan dengan harapan dan optimisme. Pagi sering dikaitkan dengan keberhasilan dan sukses. Sehingga dalam peradaban barat-pun dikenal suatu pepatah berbunyi: ”The early bird catches the worm.” (Burung yang terbang di pagi harilah yang bakal berhasil menangkap cacing).

Dalam sebuah hadits ternyata Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam juga memberi perhatian kepada waktu pagi. Sehingga di dalam hadits tersebut beliau mendoakan agar ummat Islam peduli dan mengoptimalkan waktu spesial dan berharga ini.Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berdoa: “Ya Allah, berkahilah ummatku di pagi hari.” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam biasa mengirim sariyyah atau pasukan perang di awal pagi dan Sakhru merupakan seorang pedagang, ia biasa mengantar kafilah dagangnya di awal pagi sehingga ia sejahtera dan hartanya bertambah.” (HR Abu Dawud)

Melalui doa di atas Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ingin melihat umatnya menjadi kumpulan manusia yang gemar beraktifitas di awal waktu. Dan hanya mereka yang sungguh-sungguh mengharapkan keberhasilan dan keberkahan-lah yang bakal sanggup berpagi-pagi dalam kesibukan beraktivitas. Oleh karenanya, saudaraku, janganlah kita kecewakan Nabi kita. Janganlah kita jadikan doa beliau tidak terwujud. Marilah kita menjadi ummat yang pandai bersyukur dengan adanya waktu pagi. Marilah kita me-manage jadwal kehidupan kita sehingga di waktu pagi kita senantiasa dilimpahkan berkah karena kita didapati Allah dalam keadaan ber’amal.

Janganlah kita menjadi seperti sebagian orang di muka bumi yang membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja dengan aktifitas tidak produktif, seperti tidur misalnya. Biasanya mereka yang mengisi waktu pagi dengan tidur menjadi pihak yang sering kalah dan merugi. Bagaimana tidak kalah dan merugi? Pagi merupakan waktu yang paling segar dan penuh gairah… Bila di saat paling baik saja seseorang sudah tidak produktif, bagaimana ia bisa diharapkan akan sukses beraktifitas di waktu-waktu lainnya yang kualitasnya tidak lebih baik dari waktu pagi hari…???

Maka, di antara kiat-kiat agar insyaAllah kita selalu memperoleh keberkahan di pagi hari adalah:

Pertama, jangan biasakan begadang di malam hari. Usahakanlah agar setiap malam kita bersegera tidur malam. Idealnya kita jangan tidur malam melebihi jam sepuluh malam. Kalaupun banyak tugas, maka pastikan mulai tidur jangan lebih lambat dari jam sebelas. Kalaupun tugas sedemikian bertumpuknya, maka pastikan bahwa pukul duabelas tengah malam merupakan batas akhir kita masih bangun.

Kedua, pastikan bahwa sedapat mungkin kita bisa bangun di tengah malam sebelum azan Subuh untuk mengerjakan sholat tahajjud dan witir. Idealnya kita selalu berusaha untuk sholat malam sebagaimana Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, yaitu sebanyak delapan rakaat tahajjud dan tiga rakaat witir. Namun jika tidak tercapai, maka kurangilah jumlah rakaatnya sesuai kesanggupan fisik dan ruhani sehingga minimal dua rakaat tahjjud dan satu rakaat witir. Tapi ingat, ini hanya dikerjakan bila kita terpaksa karena tidur terlalu larut malam mendekati jam duabelas malam. Yang jelas, usahakanlah setiap malam agar kita selalu bisa melaksanakan sholat malam (tahjjud plus witir). Karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjamin bahwa orang yang menyempatkan diri untuk bangun malam dan sholat malam, maka ia bakal memperoleh semangat dan kesegaran di pagi harinya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang tidak menyempatkan diri untuk bangun dan sholat malam, maka di pagi hari ia bakal memiliki perasaan buruk dan malas.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Syetan akan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu apabila ia tidur dengan tiga ikatan. Syetan men-stempel setiap simpul ikatan atas kalian dengan mengucapkan: Bagimu malam yang panjang maka tidurlah. Apabila ia bangun dan berdzikir kepada Allah ta’aala maka terbukalah satu ikatan. Apabila ia wudhu, terbuka pula satu ikatan. Apabila ia sholat, terbukalah satu ikatan. Maka, di pagi hari ia penuh semangat dan segar. Jika tidak, niscaya di pagi hari perasaannya buruk dan malas.” (HR Bukhary)

Ketiga, pastikan diri tidak kesiangan sholat subuh. Dan khusus bagi kaum pria usahakanlah untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Sebab sholat subuh berjamaah di masjid merupakan sarana untuk membersihkan hati dari penyakit kemunafikan.Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi kaum munafik adalah sholat isya dan subuh (berjamaah di masjid). Andai mereka tahu apa manfaat di dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak-rangkak.(HR Muslim)

”Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari sholat berjama’ah kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya.” (HR Muslim)

Keempat, janganlah tidur sesudah sholat subuh. Segeralah isi waktu dengan sebaik-baiknya. Entah itu dengan bersegera membaca wirid atau ma’tsurat pagi atau apapun kegiatan bermanfaat lainnya. Barangkali bisa membaca buku, berolah-raga atau menulis buku atau bahkan berdagang sebagaimana kebiasaan sahabat Sakhru bin Wada’ah. Orang yang tidur di waktu pagi berarti menyengaja dirinya tidak menjadi bagian dari umat Islam yang didoakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperoleh berkah Allah di pagi hari. Ia menyia-nyiakan kesempatan berharga. Pagi merupakan saat paling berkualitas sepanjang hari. Alangkah naifnya orang yang sengaja membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja tanpa aktivitas bermanfaat dan produktif. Tak heran bila Nabi shollallahu ’alaih wa sallam justru memobilisasi pasukan perangnya untuk berjihad fi sabilillah senantiasa di awal hari yakni di waktu pagi sehingga fihak musuh terkejut dan tidak siap menghadapinya.

Ya Allah, berkahilah kami di pagi hari selalu. Ya Allah, kami berlindung kepada Engkau dari kemalasan dan ketidakberdayaan dalam hidup kami, terutama di waktu pagi hari.


sumber:eramuslim.com